Tampilkan postingan dengan label CINTA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CINTA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Februari 2010

BISIKAN SETAN DAN TERAPI MEMERANGINYA


Imam Al-Gazali
Kajian ini seputar bisikan Setan dan macam-macamnya,serta bagaimana memerangi, mengusir dan merejamnya untuk menolak segala kejahatannya. Pertama-tama, memohon perlindungan kepada Allah dari bisikan Setan dan godaan Setan, kemudian me¬merangi mereka dengan tiga cara:
- Pertama, Anda harus mengetahui godaan, rekayasa dan pengkhianatan Setan.
- Kedua, harus takut dengan ajakannya, sehingga hati Anda tidak bergantung dengan ajakan itu.
- Ketiga, harus melanggengkan dzikir Allah dalam hati dan lisan Anda. Sebab dzikir Allah dalam lambung Setan, seperti makanan dalam lambung manusia (sehingga tidak ada lagi tempat untuk menggodanya).
Untuk mengetahui rekayasa godaan Setan, akan tampak pada bisikan dan macam-macamnya yang Anda kenal dalam hati Anda. Bisikan yang mempunyai pengaruh bicara dalam kalbu hamba, membangkitkan perbuatan atau meninggalkan perbuatan. Semuanya datang dari Allah Swt., karena Dia-lah Pencipta segalanya. Dalam kaitan ini, bisikan ada empat macam:
1. Suatu bisikan yang datang dari Allah Swt. dalam kalbu hamba, sebagai bisikan awal, sehingga disebut dengan al-khatir (bisikan).
2. Bisikan yang relevan dengan watak naluri manusia, yang disebut an-nafs (nafsu).
3. Bisikan-bisikan yang datang dari ajakan Setan yang disebut was-was.
4. Bisikan yang juga datang dari Allah yang disebut ilham (inspirasi).
Al-Khatir, adalah bisikan yang datang dari Allah Swt. sebagai bisikan awal, terkadang berdimensi kebaikan dan kemuliaan serta penetapan terhadap argumentasi. Kadang-kadang bersifat buruk, yang berfungsi sebagai ujian. Al-Khatir yang datang dari pemberi ilham tidak akan terjadi, kecuali mengandung kebajikan. Karena Dia adalah Maha Memberi nasehat dan petunjuk. Sedangkan al-Khatir yang datang dari Setan, tidak datang kecuali dengan kejahatan. Bisikan ini terkadang sepintas mengandung kebajikan,tetapi di balik itu ada makar dan pemanjaan dari Setan.
Sementara bisikan yang tumbuh dari hawa nafsu tidak bisa luput dari kejahatannya. Sepintas juga tampak baik, tidak dari segi substansinya.
Ada tiga persoalan yang harus Anda ketahui di sini
Pertama, beberapa ulama mengatakan: "Jika Anda ingin mengenal perbedaan bisikan baik dan jahat, maka perlu diperhatikan tiga masalah di bawah ini:
• Apabila bisikan itu relevan dengan Syariah, berarti baik. Jika sebaliknya, baik karena rukhsah atau syubhat, maka tergolong bisikan jahat.
• Manakala tidak diperoleh kejelasan perbedaan masing-masing, sebaiknya Anda berpaling saja, dan mengikuti perilaku orang-orang yang saleh. Jika Anda temukan kebaikan bimbingan mereka, maka ikutilah, jika tidak ada kebaikan, berard hanya suatu keburukan.
• Apabila dengan pertimbangan demikian Anda masih belum menemukan kejelasan, selanjutnya Anda harus berpaling dari hawa dan nafsu. Di sana akan Anda temui, naluri yang menjauhi hawa nafsu, bukan rasa takut terhadap nafsu ,maka itu lah kebaikan. Sebaliknya jika yang terjadi adalah kecondongan harapan kepada Allah Swt. itulah kejahatan.
Kedua, apabila Anda ingin membedakan antara bisikan kejahatan yang bermula dari arah Setan, atau dari arah nafsu, ataukah bisikan itu dari Allah Swt., perlu Anda perhatikan tiga hal berikut:
• Jika Anda menemui bisikan yang kokoh dan tertib yang konsisten pada satu hal, maka bisikan itu datang dari Allah Swt., atau dari hawa nafsu. Namun jika bisikan itu menciptakan keraguan dan mendesak-desak, maka itu muncul dari Setan.
• Apabila bisikan itu Anda jumpai setelah Anda melakukan dosa, berarti itu datang dari Allah sebagai siksa-Nya kepada Anda. Jika bukan muncul dari akibat dosa, bisikan itu datang dari diri Anda, yang berarti dari Setan.
• Jika Anda temui bisikan itu tidak melemahkan atau tidak mengecilkan untuk zikir kepada Allah Swt., tetapi bisikan itu tidak sirna, berarti dari hawa nafsu. Sebaliknya, jika melemahkan zikir seperti dari Setan.
Ketiga, apabila Anda ingin membedakan apakah bisikan kebaikan itu datang dari Allah Swt. atau dari malaikat, maka perlu diperhatikan tiga hal pula:
• Manakala melintas selintas saja, maka datang dari Allah Swt. Namun jika berulang-ulang, berarti dari malaikat, karena kedudukannya sebagai penasehat manusia.
• Manakala munculnya bisikan itu setelah kontemplasi ijtihad dan taat kepada Allah yang Anda lakukan, berarti datang dari Allah Swt. Jika bukan demikian, maka datang dari malaikat.
• Apabila bisikan itu berkenaan dengan masalah dasar dan amal batin, bisikan itu datang dari Allah Swt. Tetapi jika berkaitan dengan masalah furu' dan amal-amal lahiriah, berard dari malaikat. Sebab, menurut mayoritas ahli tasawwuf, malaikat tidak mempunyai metode untuk mengenal batin hamba Allah.
Sementara itu, terhadap bisikan kebaikan yang datang dari Setan, sebagai istidraj menuju amal kejahatan yang penuh dengan keraguan, maka Anda perlu memperhatikan dengan cermat: Lihatlah, apabila dalam diri Anda, ada bisikan dari Setan, dengan tanda-tandanya:
• Jika suatu perbuatan yang muncul dari Anda dengan penuh semangat yang membara, bukan dengan rasa takut kepada Allah Swt;
• Disertai emosi yang tergesa-gesa, bukan dengan cara yang pelan-pelan;
• Disertai rasa aman-aman saja, bukan disertai rasa khawf kepada. Allah Swt.;
• Disertai perasaan membabi buta terhadap akibat perbuatan, bukan disertai matahati (basirah).
Bisikan seperti itu, harus Anda jauhi. Sebaliknya jika bisikan itu muncul bukan seperd bisikan-bisikan di atas, berard datang dari Allah Swt., atau dari malai¬kat. Saya katakan, bahwa semangat yang membara merupakan tirai bagi manusia ketika berbuat, bahkan dilakukan tanpa melihat dengan matahatinya. Dengan mengingat adanya balasan pahala, biasanya semangat seperti itu muncul (mengingat pahala adalah tirai).
Sedangkan cara pelan-pelan dan hati-hati adalah cara-cara yang terpuji. Tetapi tidak semuanya yang pelan-pelan itu terpuji, terutama dalam kondisi-kondisi tertentu.
Khawf, lebih condong pada situasi yag menuju penyempurnaan amal tersebut sesuai kebenarannya, sehingga amal tersebut diterima oleh Allah Swt.
Sementara, akibat perbuatan yang bisa dilihat dengan matahati akan disertai suatu keyakinan dalam diri Anda secara jelas, bahwa bisikan tersebut adalah petunjuk dan kebaikan. Terkadang pandangan hati bisa melihat pahala di Akhirat kelak. Ketiga kategori di atas harus Anda ketahui dan sekaligus Anda jaga. Sebab, semuanya mengandung pengetahuan yang lembut dan rahasia yang mulia. Wa bi Allah at-Tawfiq, wa Huwa Wali al-Hidayah.


Source : Mi'raj as-Salikin, Imam Al Gazali

MAKNA SULUK DAN TASAWWUF

Imam Al Gazali
Suluk berarti memperbaiki akhlak, mensucikan amal, dan menjernihkan pengetahuan. Suluk merupakan aktivitas rutin memakmurkan lahir dan batin. Segenap kesibukan hamba hanya ditujukan kepada Sang Rabb, bahkan ia selalu disibukkan dengan usaha-usaha menjernihkan hati sebagai persiapan
untuk sampai kepada-Nya (wusul).
Ada dua perkara yang dapat merusak usaha seorang salik (pelaku suluk), yaitu pertama, mengikuti selera orang-orang yang mengambil aspek-aspek yang ringan dalam penafsiran dan kedua, mengikuti orang-orang sesat yang selalu menurut dengan hawa nafsunya. Barangsiapa yang menyia-siakan waktunya,maka ia termasuk orang bodoh. Dan orang yang terlalu mengekang diri dengan waktu maka ia termasuk orang lalai. Sementara orang yang melalaikannya, dia adalah orang-orang lemah.
Keinginan seorang hamba untuk melakukan laku suluk tidak dibenarkan kecuali ketika ia menjadikan Allah Swt. dan Rasul-Nya sebagai pengawas hatinya. Siang hari ia selalu puasa dan bibirnya pun diam terkatup tanpa bicara, sebab terlalu berlebihan dalam hal makan, bicara, dan tidur akan mengakibatkan kerasnya hati. Sementara punggungnya senantiasa terbungkuk rukuk, keningnya pun bersujud, dan matanya sembab berlinangan air mata. Hatinya selalu dirundung kesedihan (karena kehinaan dirinya di
hadirat-Nya), dan lisannya tiada henti terus berzikir.
Dengan kata simpul, seluruh anggota tubuh seorang hamba disibukkan demi untuk melakukan suluk. Suluk dalam hal ini adalah segala yang telah dianjurkan oleh Allah Swt. dan Rasul-Nya dan meninggalkan apa yang dibenci olehnya. Melekatkan dirinya dengan sifat wara' meninggalkan segala hawa nafsunya, dan melakukan segala hal yang berkaitan erat dengan perintah-Nya. Semua itu dilakukan dengan segala kesungguhan hanya karena Allah Swt., bukan sekadar untuk meraih balasan pahala, dan juga diniatkan untuk ibadah bukan hanya sekadar ritual kebiasaan. Karena sesungguhnya orang yang Asyiq dengan amaliahnya, tidak lagi memandang bentuk rupa zahir amalan itu, bahkan jiwanya pun telah menjauh dari syahwat keduniaan. Maka satu hal yang benar adalah meninggalkan segala bentuk ikhtiar sekaligus menenangkan diri dalam hilir mudik takdir Tuhan.
Dalam sebuah syair dinyatakan;
Aku ingin menemuinya,
Namun Dia menghendakiku untuk menghindar
Lalu kutanggalkan semua hasratku
Demi apa yang Kaukehendaki
Sirnakan semua makhluk darimu dengan hukum Allah Swt. dan binasakan hawa nafsumu atas perintah-Nya. Demikian halnya, tanggalkan seluruh hasratmu demi perbuatan-perbuatan-Nya (af'al). Dengan demikian, maka kau telah mampu menangkap ilmu Allah Swt.
Kebebasanmu dari ketergantungan dengan makhluk ditandai dengan perpisahanmu dengan mereka, kau tidak akan kembali dengan mereka, dan
kau pun tidak akan menyesali semua yang ada dalam genggaman mereka. Adapun tanda kebebasanmu dari hawa nafsu adalah dengan tidak memasang harapan yang beriebihan dari semua usahamu, dan tidak pula bergantung dengan urusan kausalitas untuk meraih sebuah kemanfaatan ataupun untuk menghindari kebinasaan. Maka kau jangan hanya bergulat dengan dirimu sendiri, jangan terlalu percaya diri, jangan mencelakan atau membahayakan dirimu sendiri. Namun, pertama-tama yang harus kau lakukan adalah menyerahkan semuanya pada Yang Berhak, agar Dia berkenan memberikan kuasa-Nya kepadamu. Seperti kepasrahanmu kepada-Nya saat kau berada dalam rahim ibumu, atau saat kau masih dalam susuan ibumu.
Sementara, tanggalnya seluruh hasrat iradah-mu. lebur dalam iradah-Nya ditandai dengan tidak adanya sifat menghendaki dalam dirimu (murid), dalam hal ini kau hanyalah sebagai obyek yang dikehendaki (murad), bahkan dalam setiap lakumu ada intervensi aktivitas-Nya maka jadilah kau sebagai obyek yang dikehendaki-Nya. Adapun aktivitas-Nya menempati semua anggota ragamu, mententramkan jiwa, melapangkan dada, menyinari wajahmu, dan memeriahkan suasana batinmu. Takdir menjadi nuansa dalam hatimu, azali senantiasa akan menyerumu. Rabb yang Maha Menguasai mengajarimu dengan ilmu-Nya, menyematkan pakaian untukmu dari cahaya
hulul, dan memposisikanmu pada derajat generasi orang terdahulu di antara para ulama yang saleh (ulu al-'ilm).

source : Mi'raj as-Salikin, Imam Al Gazali

Mengenal Tipu Daya Dan Bujuk Rayu Setan

Imam Al Gazali
Bujuk rayu setan pada anak-anak Adam saat melakukan ibadah ketaatan dapat dipetakan dalam 7 pendekatan:
1. Setan melarang taat kepada Allah Swt. Apabila hamba Allah terpelihara, Setan memerintahkan agar hamba itu diperangi.
2. Apabila hamba diselamatkan Allah dari serangan Setan, hamba itu tergoda agar tergesa-gesa.
3. Jika Allah menyelamatkannya, hingga amalnya sempurna, Setan menggoda agar memperlihatkan 1 kesempurnaan amalnya.
4. Apabila Allah menjaganya dari godaan itu, Setan masuk melalui takjub terhadap diri sendiri.
5. Apabila hamba melihat adanya anugerah Allah, Setan menggoda agar hamba itu berijtihad dalam wilayah sirri (rahasia Allah). Setan membisikkan kepada hamba, "Sebenarnya Allah ingin menampakkan diri-Nya kepadamu!" Ucapan ini penuh harapan agar si hamba terjerumus riya'. Tetapi apabila sang hamba menyerahkan diri semuanya hanya pada ilmu Allah, maka ia akan selamat.
6. Jika hamba melemah, tidak mengikuti aturan Allah Swt., Setan berbisik kembali, "Anda tidak butuh lagi amal tersebut. Karena jika Anda ditakdirkan bahagia pasti meninggalkan amal itu ddaklah membahayakan Anda. Namun jika Anda ditakdirkan celaka, tentu, sama sekali amal itu tidak memberi manfaat kepada diri Anda."
7. Apabila Allah masih menyelamatkan hamba-Nya ini, maka sang hamba berkata pada Setan itu, "Aku ini hanya hamba. Dan bagi seorang hamba harus melaksanakan perintah tuannya. Sedangkan tuannya berbuat sekehendaknya dan menghukum sekehendaknya pula." Maka, hamba ini selamat dari Setan, atas pertolongan Allah Swt. Jika tidak maka hancurlah hati hamba tadi.

4 GOLONGAN MANUSIA

Menurut Syekh Abdul Qadir Jailani, bahwa manusia itu dapat dikelompokkan menjadi empat golongan, yaitu :
1. Manusia yang tidak mempunyai lisan dan hati, senang berbuat maksiat, menipu serta dungu. Berhati-hatilah terhadap mereka dan jangan berkumpul dengannya, karena mereka adalah orang-orang yang mendapat siksa.
2. Manusia yang mempunyai lisan, tapi tidak mempunyai hati. Ia suka membicarakan tentang hikmah atau ilmu, tapi tidak mau mengamalkannya. Ia mengajak manusia ke jalan Allah Swt. tapi ia sendiri justru lari dari-Nya. Jauhi mereka, agar kalian tidak terpengaruh dengan manisnya ucapannya, sehingga kalian terhindar dari panasnya kemaksiatan yang telah dilakukannya dan tidak akan terbunuh oleh kebusukan hatinya.
3. Manusia yang mempunyai hati, tapi tidak mempunyai ucapan (tidak pandai berkata-kata). Mereka adalah orang-orang yang beriman yang sengaja ditutupi oleh Allah Swt. dari makhluk-Nya, diperlihatkan kekurangannya, disinari hatinya, diberitahukan kepadanya akan bahaya berkumpul dengan sesama manusia dan kehinaan ucapan mereka. Mereka adalah golongan waliyullah (kekasih Allah) yang dipelihara dalam tirai Ilahi-Nya dan memiliki segala kebaikan. Maka berkumpullah dengan dia dan layanilah kebutuhannya, niscaya kamu juga akan dicintai oleh Allah Swt.
4. Manusia yang belajar, mengajar dan mengamalkan ilmunya. Mereka mengetahui Allah dan ayat-ayat-Nya. Allah Swt. memberikan ilmu-ilmu asing kepadanya dan melapangkan dadanya agar mudah dalam menerima ilmu. Maka takutlah untuk berbuat salah kepadanya, menjauhi serta meninggalkan segala nasihatnya.

Semoga kita semua tidak termasuk kepada golongan yang pertama dan yang kedua dan semoga pula kita dilindungi dari golongan seperti itu.


Wallohualam bi showab

NASIHAT UNTUK PARA SALIKIN (PENCARI KEBENARAN) Imam Al Ghazali -6

Wahai Anakku, saya telah menulis masalah ini untuk memenuhi kebutuhanmu. Kau harus melaksanakannya sebaik-baiknya. Janganlah kau melupakan saya di saat kamu berdo'a. Do'a yang kau minta dariku, carilah dalam kumpulan doa-doa yang shahih. Di bawah ini ada do'a yang baik kau baca seusai shalat wajib lima waktu. Do'a itu adalah sebagai berikut:
Allahumma inni as-aluka min an-ni'mah tamamuha, wamin al- 'ismah dawamuha, wamin ar-rahmah syumuluha, wamin al- 'afiyah husuluha, wamin al-'aysy argaduh, wamin al-'umur as'aduh, wamin al-ihsan atammuh, wamin al-'in'ami a'ammuh, wamin al-fadl a'zabuh, wamin al-lutfi aqrabuh.
Allahumma kun lana wala takun 'alayna, allahumma ikhtam bi as-sa'adah ajalana, wahaqqiq bi az-ziyyadah amalana, wa aqrin bi al' 'afiyah guduwwana wa asalana, wa ij'al ila rahmatika masirana wa maalana, wa asbib sijala 'afuwwik 'ala zunubina, wamunna 'alayna bi islahi 'uyubina, wa ij'al at-taqwa 'zadana, wafidinika ijtihadana, wa 'alayka tawakkulana wa i'timaduna.
Allahumma sabbitna 'ala nahj al- istiqamah, wa a'izna fi ad-dunya min mujibat an-nadamah yawm al-qiyamah, wa khaffif 'anna saql al-awzar, wa urzuqna 'aysyah al-abrar, wa akfina wa asrif 'anna syarr al-asyrar, wa a'tiq riqabana wa riqabi abaina wa ummahatina wa ikhwanana wa akhawatina min an-nar bi rahmatika ya 'Aziz ya Gaffar, ya Karim, ya Sattar, ya 'Alim, ya Jabbar, ya Allah, ya Allah, ya Allah bi rahmatika ya Arham ar-Rahimin, La ilaha illa Anta Subbanaka inni kuntu min az-Zalimin, wa salla Allah 'ala sayidina Muhammad wa alihi wa sahbih ajma'in. Wa al-hamd li Allah Rabb al-'alamin.
"Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepadaMu kenikmatan yang sempurna, keterpeliharaan yang langgeng, rahmat yang meliputi, kesehatan yang menyeluruh, kehidupan yang makmur, usia yang penuh kebahagian, kebaikan yang sempurna, keniktmatan yang merata, keutamaan yang melezatkan. kelembutan yang mendekatkan.
Ya Allah, jadikanlah kebaikan untuk kami dan jangan jadikan kejelekan kepada kami. Ya Allah, akhirilah kehidupan kami dengan kebahagiaan, luruskanlah cita-cita kami dengan tambahan bekal kebaikan, iringkanlah kesehatan pada masa depan kami dan sekarang, Jadikanlah Rahmat-Mu sebagai tempat kembali kami dan angan-angan kami, bentangkanlah sajadah ampunan-Mu untuk dosa-dosa kami, berilah kami kenikmatan dengan memperbaiki cacat-cacat kami, jadikanlah ketaqwaan sebagai bekal kami, jadikanlah kami pejuang dalam agamamu. dan terhadap-Mu kami tawakkal dan bersandar.
Ya Allah, tetapkanlah kami di atas jalan yang istiqamah. lindungilah kami di dunia dari sebab-sebab yang akan menyebabkan penyesalan di hari kiamat. ringankanlah beban beban dosa kami, berilah kami rezeki kehidupan orang-orang yang balk, berilah kami kecukupan. jauhkanlah kami dari kejahatan orang-orang jahat. bebaskanlah leher kami dan leher-leher bapak kami. ibu kami. saudara kami laki-laki dan saudara kami perempuan dari api neraka dengan rahmat-Mu. wahai Dzat Yang Maha Perkasa, Maha Pengampun. Maha Mulia, Maha Menutupi, Maha Mengetahui, Maha Gagah, ya Allah ya Allah ya Allah, dengan rahmatMu. wahai Dzat Yang Maha Pengasih di antara yang pengasih. wahai Dzat Yang Maha Awal dan Maha Akhir. wahai Dzat Yang Memiliki kekuatan yang kokoh, wahai Dzat Yang Maha Mengasihi kaum miskin. wahai Dzat Yang Maha Mengasihi orang-orang yang pengasih. Tidak ada Tuhan kecuali Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya saya termasuk orang-orang yang zalim. Shalawat dan salam terlimpahkan kepada junjungan kami Muhammad, keluarga dan seluruh sahabatnya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam".
Penutup Dari Edisi Bahasa Arab
Hendaklah kau mengetahui bahwa menjernihkan kalbu tidak dapat dilakukan kecuali dengan jalan zikir. Sebab, Rasulullah bersabda, "Kalbu itu bisa berkarat, seperti halnya besi. Mengkilapkan kalbu adalah dengan Zikir kepada Allah."
Zikir itu dengan lisan dan kalbu. Zikir lisan untuk menghasilkan zikir kalbu. Zikir kalbu untuk memperoleh muraqabah. Penjernihan yang paling mudah bagi kalbu adalah menyibukkan diri dengan zikir tarekat Naqsyabandiyyah, yaitu zikir dengan nama Zat (Allah) atau penafian dan penegasannya.
Tatacara zikir dengan nama Zat yakni bahwa pezikir melafalkan kata Allah dengan lisan kalbu. Sebab, kalbu itu seluruhnya adalah lisan, seluruhnya pendengaran, dan seluruhnya penglihatan. Adapun tatacara zikir dengan penafian dan penegasan nama Zat adalah dengan melafalkan kalimat 'La ilaha' dengan lisan kalbu. Dengan itu, dinafikan seluruh hubungan kalbu dengan segala sesuatu selain Allah. Kemudian, dilafalkan dengan lisan kalbu kalimat 'Illa Allah'. Dengan itu pula, ditegaskan eksistensi ke- Esaan al-Haqq.
Apabila pezikir menzikirkan kedua nama itu dengan tatacara tersebut, dia akan memperoleh kejernihan dan kesucian kalbu. Dia akan mengenal Allah dan akan sampai kepada-Nya. Zikir ini didahulukan atas ibadat-ibadat lain setelah salat fardu dan salat-salat sunnah rawatib-nya pada seluruh waktu, sehingga diperoleh dalam kalbunya kebiasaan yang terpuji ini. Setelah itu, dia akan memperoleh semua keutamaan dari ibadat-ibadatnya itu, karena dia mengetahui jalan dalam rangka memohon kelapangan dari Allah dan jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya:
Zikirullah adalah yang terbaik dalam tarekat
Daripada wirid yang disandingkan dengan salat
Lebih baik dari membaca perkataan yang benar
Lebih baik dari amalan sunnah
Dengan zikir akan dikilapkan karat kalbu
Dan akan dikabulkan segala hajat
Bersungguhlah di dalam seluruh waktu dan lazimkan zikir kepada Allah
Niscaya engkau akan melihat apa yang datang
Menghadapkan kepada Tuhan, tinggalkan selain-Nya
Awasi dan naiklah pada ketinggian
Makna Muraqabah
Muraqabah adalah melihat Allah dengan pandangan batin melalui pemeliharaan sikap takzim. Ia adalah jalan yang paling dekat kepada Allah dalam ber-taqarrub kepada-Nya. Sebagaimana dikatakan, bahwa menuju kepada Allah 'Aza wa jalla dengan kalbu lebih cepat sampai daripada dengan gerakan anggota-anggota tubuh dalam amalan-amalan salat, salam, zikir, wirid dan sebagainya. Sebab, orang yang punya cita-cita yang tinggi senantiasa beramal dengan kalbunya. Jika anggota-anggota badannya tidak membantunya untuk beramal, dia senantiasa tetap dalam keadaan taqarrub (mendekat) dan tahabbub (mencintai). Kemudian, hendaklah Anda mengetahui bahwa apabila pezikir itu sampai pada martabat muraqabah, akan teguhlah baginya keesaan eksistensi Ilahi dan tampaklah padanya kelestarian beribadah. Apabila dia terus-menerus melalukan muraqabah, dia akan naik ke martabat musyahadah. Tersingkap untuknya dengan pandangan batinnya, bahwa cahaya-cahaya eksistensi keesaan Zat Ilahi meliputi segala sesuatu. Tersingkap pula, bahwasanya Allah menampakkan sifat-sifat dan nama-nama-Nya dalam segala ciptaan-Nya. Sesuai dengan kadar kesiapan para penyaksi, dia akan senang dengan cahaya-cahaya rububiyyah, dan ketersingkapan rahasia-rahasia ke-Esaan-Nya.

NASIHAT UNTUK PARA SALIKIN (PENCARI KEBENARAN) Imam Al Ghazali -5

Wahai Anakku, saya menasihatimu dengan delapan hal dan terimalah agar ilmumu tidak menjadi musuhmu di hari kiamat. Empat dari delapan nasihat itu kau harus kerjakan dan empat lainnya harus kau tinggalkan.
Empat Hal yang Harus Ditinggalkan
Adapun empat hal yang harus kau tinggalkan adalah sebagai berikut.
1. Meninggalkan perdebatan sedapat mungkin dan/atau menegakan hujah (alasan) bagi setiap orang yang menyebutkan suatu permasalahan, karena dalam hal ini mengandung banyak tanda, di mana dosanya lebih banyak dari pada manfaatnya. Mengapa dosanya lebih hanyak, karena hal itu menjadi sumber bagi setiap akhlak yang jelek, seperti riya, hasud, sombong, dendam, permusuhan dan ujub.
Memang benar seandainya muncul suatu masalah antara dirimu dengan seseorang atau sekelompok orang, sedangkan kau bermaksud mempertegas dan memenangkan kebenaran, sehingga kebenaran tidak tersia-sia, maka kau boleh membahas dan mendiskusikannya, Akan tetapi, hal ini pun harus memiliki dua tanda:
pertama engkau tidak mengubah sikap dan tidak membeda-bedakan antara apakah kebenaran itu muncul dari lidahmu atau teman diskusimu, Bahkan engkau akan merasa senang bila ternyata bila kebenaran itu justru tersingkap dari teman diskusimu. Sebab penerimaannya terhadap apa-apa yang bersumber dari dirinya akan lebih mudah diterima olehnya daripada apa yang bersumber darimu.
kedua diskusi di tempat yang sunyi lebih kau sukai daripada di tempat umum yang ramai. Jika kau mengatakan suatu masalah dan kau tahu bahwa kebenaran berada dipihakmu sementara dia mencemoohkan atau melecehkan, berhati-hatilah menegakan hujah dihadapannya. Tinggalkanlah dia sebab tidak ada faedah bersamanya, justru kau akan mendapat faedah bila meninggalkannya.
Ketahuilah, mempertanyakan sesuatu yang sulit sama halnya dengan menyodorkan penyakit hati kepada seorang dokter, dan jawaban untuk pertanyaan itu merupakan salah satu upaya atau terapi menyembuhkan penyakit.
Ketahuilah, orang yang bodoh adalah orang yang hatinya sakit, sedangkan seorang ulama yang mengamalkan ilmunya adalah seorang dokter. Ulama yang kurang ilmu, terapinya tidak mustajab. Sedangkan ulama yang sempuma, belum tentu mampu menyembuhkan setiap penyakit, tetapi hanya mampu menyembuhkan penyakit orang yang memang mengharapkan kesembuhan dan kebaikan. Jika penyakitnya sudah kronis atau akut, maka sulit diharapkan kesembuhannya. Dalam hal ini, seorang dokter atau tabib cukup mengatakan, "Ini tidak mungkin disembuhkan." Karena itu, engkau jangan disibukkan dengan mengobatinya karena hanya menyia-nyiakan umur.
Kemudian ketahuilah, penyakit bodoh ada empat macam. Tiga bisa disembuhkan, sedangkan sisanya tidak.
i. Penyakit bodoh yang paling tidak bisa menerima kesembuhan, adalah penyakit yang orang bodoh yang bersumber dari penyakit hasud dan marah dalam dirinya. Ketika pertanyaan yang diiringi oleh hasud itu dijawab dengan jawaban yang sangat jelas, baik dan tepat, orang itu tetap saja tidak akan menerima. tetapi semakin marah, memusuhi dan hasud. Maka jawaban yang terbaik untuk persoalan ini adalah tidak menjawabnya. Alias diam. "Setiap permusuhan bisa diharapkun kesembuhannya. Kecuali permusuhan yang muncul dari hati yang hasud" Oleh sebab itu, kau harus menghindar dari masalah ini, meninggalkan orang yang punya jiwa seperti ini dan tidak perlu menanggapinya. Biarkanlah ia dengan penyakit hatinya. Allah swt. berfirman: "Maka berpalinglah [hai Muhammad] dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi." (QS. Al Najm: 29). Hasud yang menjadi pemicu ucapan dan tindakan hanya akan menyalakan api dalam kebun ilmunya. Hasud memakan kebaikan sebagaimana api yang memakan kayu.
ii. Penyakit bodoh yang bersumber dari kedunguan. Penyakit ini pun tidak bisa disembuhkan, sebagaimana yang dikatakan Isa as: "Saya mampu menghidupkan orang mati, tetapi saya tidak mampu mengohati penyakit tolol." Orang dungu adalah orang yang sibuk mencari ilmu dalam waktu yang singkat dan dangkal, dan samasekali tidak mempelajari ilmu yang rasional dan syar'iy, kemudian karena kedunguannya ia bertanya dan memprotes seorang ulama hebat yang sepanjang usianya telah digunakan untuk mempelajari ilmu-ilmu rasional dan syar'iy. Inilah orang dungu yang tidak tahu dan tidak menduga bahwa sesuatu yang menyulitkannya juga menjadi persoalan yang menyulitkan orang alim hebat. Jika ia tidak tahu kapasitas dirinya, maka pertanyaan yang dilontarkannya, muncul adalah cermin dari kedunguannya. Karena itu, haruslah kau berpaling dari orang yang seperti ini dan tak perlu membuang waktu untuk sibuk memikirkan jawabannya.
iii. Penyakit bodoh dari orang oportunis. Orang oportunis yang selalu mencari petunjuk kepada beberapa orang yang tidak memiliki keahlian untuk memahami perkataan orang-orang terkemuka. Dia bertanya mengenai hal-hal yang tidak jelas agar mendapat manfaat (keuntungan pribadi) dari jawaban yang diberikan. Akan tetapi, karena keterbatasan pemahamamnya ia tidak mengetahui hakikatnya, Karena itu engkau tidak perlu memberikan jawaban kepadanya. Rasulullah saw. bersabda: "Kami adalah kelompok para Nabi yang diperintahkan berbicara kepada manusia menurut ukuran. (kemampuan) akal mereka."
iv. Adapun penyakit bodoh yang masih bisa disembuhkan adalah penyakit bodoh yang diderita orang berakal yang giat mencari petunjuk dan pemahaman. Ia tidak dikalahkan oleh hasud, nafsu amarah, senang syahwat,kehormatan dan harta. Ia adalah pencari kebenaran. Pertanyaan-pertanyaannya tidak lahir dari perasaan hasud, juga tidak bermaksud untul menyusahkan atau menguji. Penyakit bodoh ini bisa disembuhkan, dan yang ditanya boleh memikirkan jawabannya, bahkan wajib menjawab pertanyaannya
2. Kau harus menghindarkan diri jadi pemberi nasihat atau penceramah atau juru dakwah , karena dalam hal ini terdapat banyak penyakit, kecuali jika kau sudah melaksanakan apa yang telah kamu katakan. Setelah itu, kau baru boleh jadi penasihat. Renungkanlah apa yang pernah dikatakan kepada 'Isa as, "Hai Putra Maryam, nasihatilah dirimu. Jika kamu berhasil menasihati dirimu, maka nasihatilah orang lain. Jika tidak, maka malulah kamu kepada Tuhanmu".
Jika kau diuji dengan perbuatan ini (jadi penasihat atau penceramah), maka jagalah dirimu dari dua hal.
i. Pertama, jagalah diri dari kepura-puraan, jangan membuat kata-kata yang sulit atau kalimat yang dibuat-buat, baik dalam bentuk ungkapan, isyarat, simbol-simbol, bait-bait syair maupun puisi, karena Allah memurkai orang-orang yang suka memberat-beratkan diri atau membuat kata-kata yang dibuat-buat. Orang yang memberat-beratkan diri adalah orang yang melampaui batas, dan perbuatan ini menunjukkan batinnya rapuh dan hatinya lalai.
Padahal makna dari suatu nasihat adalah agar orang selalu ingat atau selalu berdzikir, mengingat api Akhirat dan membatasi dirinya hanya untuk berkhidmat kepada Allah; memikirkan usianya yang telah lewat yang habis digunakan untuk hal-hal yang tidak berarti; memikirkan ancaman siksaan di depan matanya; memikirkan bagaimana akhir kehidupannya, apakah berakhir dengan baik atau jelek; memikirkan bagaimana Malaikat Maut mencabut nyawanya; memikirkan apakah dirinya kelak mampu menjawab pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir; seluruh perhatiannya tercurahkan untuk kejadian-kejadian di hari Kiamat dan akibat-akibat yang ditimbulkannya; dan memikirkan apakah dirinya mampu melewati titian jalan di atas neraka dengan selamat ataukah terjatuh ke dalam jurang neraka;
Semuanya ini harus dibangkitkan dalam benak dan kalbu mereka Hingga terpikirkan terus-menerus dalam hati dan jiwanya, sampai hatinya bergetar ketakutan. Api ketakutan yang meluap dalam dirinya akan menimbulkan ketaatan kepada Allah dan getaran-getaran ini bila diarahkan kepada Allah dinamakan ingat atau dzikir. Adanya kesadaran diri sebagai makhluk yang lemah dan terbatas, sadar atas cacat-cacat dirinya, akhirnya akan menimbulkan panas dan membakar jiwanya, menggetarkan urat-urat syarafnya, lalu mendorong dirinya untuk menebus usianya yang hilang tanpa guna, menyesali hari-harinya yang berlalu tanpa diisi ketaatan kepada Allah, yang kesemuanya ini menimbulkan rasa sadar dan ingat, yang oleh para ulama sufi dinamakan sadar atau wa'zhan.
Memberi nasihat tanpa kepura-puraan seumpama keadaan seperti ketika kau menyaksikan banjir yang melanda kampung, lalu menerjang rumah penduduk, maka kamu tentu akan berteriak-teriak, "Awaaas ... hati-hati! Cepaaat! Lariii!" Apakah ketika keadaan sudah gawat seperti itu, hati dan pikiranmu masih ingin memberitahukan penduduk dengan kata-kata dan ungkapan-ungkapan yang berat-berat dan sulit dipahami, atau menggunakan sandi-sandi atau isyarat-isyarat yang hanya dimengerti orang tertentu. Sekali-kali jangan menggunakan kata-kata seperti itu. Itu adalah kebiasaan pemberi nasihat dan tukang ceramah. Kau harus menghindari kebiasaan buruk ini.
ii. Kedua, memberi nasihat dimana nasihat-nasihatmu justru bisa menjadikan orang lari dari majelismu, atau menjadikan majelismu sebagai suatu pertunjukan, kemudian kamu ingin pamer kemuliaan dan penampilan yang megah, sehingga orang lain mengatakan, "Sebaik-baik majelis adalah majelismu ini." Semua ini harus dihindarkan karena ini termasuk tanda-tanda majelis yang condong kepada dunia atau materi. Majelis yang demikian pasti lahir karena tidak ingat Allah, alias lupa.
Seharusnya majelismu terbentuk karena didorong oleh keteguhan semangat, tekad dan cita-citamu untuk mengajak manusia dari cinta dunia menuju cinta akhirat; dari kemaksiatan untuk dibawa kepada ketaatan; dari ambisi dunia ditarik kesikap zuhud; dari kebakhilan diubah menjadi dermawan; dari lupa dan tertipu dibawa kepada ketaqwaan; dan jadikanlah mereka mencintai akhirat dan membenci dunia. Ajarilah mereka ilmu ibadah dan zuhud karena karakter manusia senang menyimpang dari jalan syari'at dan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak diridlai Allah. Oleh sebab itu, tajamkan hatimu dengan rasa takut pada Allah dan hindarkanlah dari hal-hal yang tidak menjadikan hatimu takut kepadaNya.
Sifat batin manusia bisa berubah-ubah dan perbuatan zahirnya juga bisa berganti-ganti. Karena itu, arahkan pandangan mereka untuk bersemangat dan senang melakukan ketaatan serta kembali dari kemaksiatan. Hendaklah perkataannya senantiasa berhubungan dengan masalah ilmu kezuhudan dan ibadah. Sepatutnya kau perhatikan keinginan mereka, apakah menyimpang dari keridhaan Allah atau tidak; perhatikan kecenderungan kalbu mereka, apakah menyimpang dari syarat atau tidak; dan juga perhatikan amalan dan akhlaknya yang tercela dan yang terpuji, akhlak manakah yang lebih dominan. Orang yang ketakutannya lebih dominan, kembalikanlah pada harapan {raja). Sebaliknya, orang yang harapannya lebih dominan, kembalikanlah pada ketakutan (khawf), dengan cara yang mereka pahami, sehingga pada akhirnya sifat-sifat tercela secara lahir dan batin akan sirna dan digantikan dengan sifat-sifat terpuji. Mereka akan selalu berhasrat pada ketaatan, setelah sebelumnya mereka malas untuk melakukannya. Mereka membenci kemaksiatan, setelah sebelumnya mereka rakus melakukannya.
Ini adalah jalan peringatan dan nasihat. Setiap peringatan / nasihat yang tidak seperti yang disebutkan diatas adalah bencana bagi orang yang memberi nasihat maupun bagi yang mendengarkannya. Bahkan, pemberi nasihat yang menyesatkan adalah hantu-hantu gentayangan yang mengajak pergi manusia dari jalan keselamatan, untuk kemudian diajak ke tempat yang seram, lalu mereka dibinasakan. Karena itu, mereka harus menjauhi nasihat semacam ini dan orang yang memberikannya, karena meskipun nasihat-nasihatnya bermanfaat secara agama, nasihat itu tidak mampu menghindarkannya dari tarikan setan. Barangsiapa mempunyai tangan dan kekuasaan, maka wajib baginya menurunkan penasihat / pendakwah semacam ini dari mimbarnya dan mencekalnya supaya tidak bergaul dan mempengaruhi orang. Melakukan ini termasuk perintah agama.
3. Hal ketiga, yang harus kau tinggalkan adalah janganlah bergaul dengan para penguasa dan sultan. Jangan memandang mereka karena, memandang mereka dan duduk semajelis dengan mereka, akan mendatangkan bencana besar. Jika kamu diuji dengan kehadiran mereka atau kau dekat dengan mereka, maka jangan sekali-kali kamu memuji-muji mereka, karena Allah murka terhadap orang yang memuji-muji orang fasik dan zalim. Barangsiapa berdoa untuk kelanggengan kekuasaan mereka, berarti ia suka terhadap orang yang membuat kemaksiatan di muka bumi.
4. Hal keempat, janganlah kau menerima pemberian penguasa atau sultan, termasuk juga hadiah, walaupun kau tahu bahwa pemberian itu dari harta halal, karena tamak terhadap pemberian penguasa bisa merusak agama. Hal itu dikarenakan penerimaan ini bisa mendorong kamu bersikap menjilat, mengambil muka, mencari perhatiannya, dan bahkan setia menemaninya dalam kezaliman. Semua ini akan merusak agama, paling tidak kau senang dan berharap penguasa itu usianya panjang, kekuasaannya stabil dan lestari, sehingga kau tetap mendapatkan manfaat darinya, yaitu hadiah-hadiah dan berbagai pemberian. Barangsiapa senang terhadap kelanggengan kezaliman, berarti ia juga ikut mendukung adanya kezaliman dan bahkan ikut mendorong rusaknya alam. Hal mana yang lebih membahayakan agama dan menimbulkan akibat yang lebih besar daripada perbuatan ini. Hati-hatilah kau terhadap tipuan setan melalui pemberian para penguasa. Mungkin di antara tipuan itu akan berkata kepadamu, "Sebaiknya kamu mengambil dinar dan dirham pemberian para penguasa itu, yang kemudian kamu membagi-bagikannya kepada kaum fakir-miskin. Mereka memberikan nafkah dalam kefasikan dan kemaksiatan. sedangkan sedekahmu kepada orang-orang lemah lebih baik daripada sedekah mereka." Banyak orang terkutuk yang dipenggal leher mereka karena bisikan yang menyesatkan ini.
Empat Hal yang Harus Dilakukan
Adapun empat hal yang harus kau lakukan adalah sebagai berikut.
1. Jadikanlah mu'amalah atau seluruh perbuatanmu bersama Allah. Artinya. seandainya budakmu bekerja sama dengamu, engkau rela menerimanya, engkau tidak sempit hati, tidak resah juga tidak marah. Engkau juga tidak rela jika budakmu diperlakukan tidak baik atau menerima balasan yang tidak pantas. Terhadap Allah, kamu harus lebih baik, karena ia junjunganmu yang hakiki.
2. Setiap engkau bekerja dengan manusia. maka usahakanlah ia senang dan rela sebagaimana kau senang dan rela terhadap dirimu sendiri, karena iman seseorang tidak dianggap sempurna sampai orang itu mencintai seluruh manusia sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.
3. Jika engkau membaca atau mempelajari suatu ilmu; ilmu tersebut haruslah: yang bermanfaat untuk kau amalkan, yang sesuai dengan hatimu dan yang menyucikan jiwamu. Hal ini seperti jika kamu merasa bahwa usiamu tinggal seminggu, maka engkau tidak perlu menyibukkan diri dengan mempelajari ilmu fiqih, akhlak, ushul fiqih, akhlak, ilmu kalam dan ilmu-ilmu sejenisnya (ilmu zahir), karena engkau sudah tahu bahwa ilmu-ilmu tersebut tidak akan mencukupi atau memuaskan jiwamu. Sebaliknya, kau harus menyibukkan diri dengan mengontrol hati, memahami sifat-sifat jiwa dan nafsu, berpaling dari urusan keduniaan, menyucikan jiwa dari akhlak yang tercela, sibuk dengan mencintai Allah dan hambaNya serta menyempurnakan diri dengan sifat-sifat yangbaik. Siangdan malam tidak dilewatinya kecuali diisi dengan ibadah dan ingat kepada Allah serta berusaha dan memohon agar maut menjemputnya di saat-saat baik seperti ini.
Wahai Anakku. dengarkanlah ucapan yang lain, kemudian renungkanlah sehingga engkau menemukan kesimpulannya. Seandainya kaau memperoleh berita bahwa seminggu lagi seorang Sultan atau Raja memilihmu jadi menteri. Sudah pasti kau pada saat-saat itu sibuk memperbaiki diri. Engkau akan berusaha, bersikap dan berperilaku sebaik mungkin karena kamu tahu bahwa pandangan dan penilaian Sultan sangat berpengaruh jadi tidaknya kau diangkat sebagai menteri. Pakaian, badan, penampilan, rumah dan bahkan kamar-kamar pribadimu, kau perbaiki sebaik mungkin, sehingga ketika utusan Sultan datang, ia berpikiran positif terhadapmu. Sekarang pikirkanlah sabda Rasulullah saw. ini:
"Sesungguhnya Allah tidak memandang bentuk luarmu, juga tidak perbuatan zahirmu, akan tetapi Dia memandang hati dan niatmu." Jika engkmu benar-benar menginginkan ilmu yang membahas suasana batin, maka pelajarilah kitab Ihya' dan beberapa karangan saya lainnya. Ilmu batin adalah ilmu fardlu 'ain, sedangkan lainnya fardlu kifayah kecuali yang berkaitan dengan kewajiban melaksanakan perintah-perintah dan larangan-larangan Allah.
4. Janganlah engkau meyimpan harta benda melebihi dari apa yang dibutuhkan. Rasulullah saw. bersabda: "Ya Allah, jadikanlah rizki keluarga Muhammad itu sekadar untuk mencukupi kebutuhan"

NASIHAT UNTUK PARA SALIKIN (PENCARI KEBENARAN) Imam Al Ghazali -4

Makna Seorang Syekh atau Mursyid
Makna mendidik bagi seorang mursyid menyerupai pekerjaan seorang petani, yaitu sama dalam kemampuan mencabut duri dan rerumputan, kemudian mengeluarkan tanam-tanaman sampingan di sekitarnya yang sekiranya mengganggu tanaman pokok, sehingga tanaman yang dipelihara menjadi baik dan buahnya sempurna. Seorang syekh atau mursyid terhadap salik atau muridnya harus mampu menunjukkan dan mengantarkannya kejalan Allah, karena Allah telah mengutus seorang Rasul (utusan) kepada hamba-hambaNya agar menunjukkan mereka ke jalan Allah. Ketika Rasulullah saw. wafat, kedudukannya sebagai guru dan penuntun umat digantikan oleh para khalifahnya yang terpilih. Para khalifah ini mendidik dan mengantarkan umat kejalan Allah. Dengan demikian, para khalifah Rasul juga mempunyai peran sebagai guru, mursyid, syekh atau pendidik.
Syarat Seorang Syekh atau Mursyid
Syarat seorang syekh atau mursyid yang layak menjadi pengganti Rasulullah saw. haruslah orang yang alim. Akan tetapi, tidak setiap orang yang alim patut menduduki jabatan khalifah atau pengganti Rasulullah. Di bawah ini akan dijelaskan sebagian tanda orang alim yang pantas menjadi mursyid, agar tidak setiap orang yang alim mengaku-ngaku mursyid.
• dia tidak mencintai dunia, jabatan dan kehormatan;
• diapun telah dididik ditangan mursyid juga. Ia mengikuti mursyid yang memiliki penglihatan batin dan mursyidnya bersambung ke mursyid-mursyid sebelumnya hingga mata rantainya sampai kepada Rasulullah saw.;
• dia senantiasa melatih jiwanya dan menjalankan riyadlah dengan sedikit makan, minum, bicara dan tidur
• dia banyak melakukan shalat sunnah, sedekah dan puasa;
• dia dikenal memiliki akhlak yang terpuji berupa sabar, tekun, syukur, tawakkal, yakin, berjiwa tenang (tumaninah), qana'ah, dermawan, tawadu', rendah hati, alim, jujur, punya rasa malu, tepat janji, wibawa, lembut dan tenang,
• dia disucikan dari akhlak tercela seperti takabur, kikir, hasad, dengki, tamak, panjang angan-angan, gegabah dan sebagainya
• dia harus terhindar dari fanatisme dan perasaan tak butuh ilmu dari yang lain karena merasa cukup dengan ilmunya sendiri (istagna)
maka ia adalah cahaya dari pancaran cahaya-cahaya Rasulullah saw. Orang yang seperti ini layak diikuti dan dijadikan mursyid. Akan tetapi, untuk menemukan yang seperti ini sangat sulit dan memang jarang. Sebab, banyak orang yang mengaku mursyid, tetapi pada dasarnya dia hanya mengajak manusia kepada permainan dan perbuatan yang tak berguna. Bahkan, ada atheis yang mengaku sebagi mursyid dengan menyimpang dari syari'ah.
Karena banyaknya orang yang mengaku mursyid, para mursyid yang sesungguhnya menjadi tersembunyi. Dengan beberapa hal yang telah kusebutkan, akan diketahui mursyid yang hakiki, yaitu yang tak menyimpang dari hal di atas. Tetapi jika menyimpang dari hal di atas, maka dia hanya orang yang mengaku sebagai mursyid.
Di antara kebahagiaan yang paling bahagia adalah menemukan mursyid atau syekh seperti yang yang tanda-tandanya kami sebutkan di muka, dan terlebih jika dia menerima sebagai muridnya. Jika sudah menemukannya, maka murid wajib memuliakannya secara zahir dan batin.
Memuliakan Mursyid Secara Zahir dan Batin
Menghormati mursyid secara zahir di antara bentuknya adalah tidak mendebatnya dan tidak mengajaknya adu argumen dalam setiap masalah, walaupun ia menemukan mursyidnya bersalah. Di samping itu, ia tidak menginjak sajadah mursyidnya dan tidak duduk dikarpetnya kecuali di saat menunaikan shalat berjamaah dengannya, dan jika selesai shalat, sajadah dan karpetnya diangkat. Ia juga tidak banyak melakukan shalat sunnah ketika mursyidnya sedang hadir dan siap melaksanakan perintahnya dengan sekuat tenaga dan kesempatan.yang dimilikinya.
Adapun menghormati mursyid secara batin adalah tidak munafik kepadanya. Setiap apa yang didengar dari mursyidnya, lalu diterimanya sebagai nasihat dan petunjuk secara zahir, maka batinnya tidak boleh mengingkarinya, baik secara ucapan maupun tindakan, agar ia tidak disifati munafik. Jika tidak mampu meninggalkan teman yang bisa mencocokkan batin dan zahir, ucapan dan perbuatan, maka jagalah dirimu dari berkawan dengan orang-orang yang berakhlak jelek, supaya ruang gerak setan dari bangsa jin dan manusia terbatas, sehingga batinmu tetap jernih dan tidak terkotori oleh bisikan setan. Dalam setiap keadaan, pilihlah kefakiran daripada kaya.
Dua Karakter Utama Tasawuf
Kemudian, ketahuilah, bahwa tasawuf memiliki dua karakter utama, yaitu istiqamah dan diam (tidak terpengaruh oleh ulah makhluk).
Barangsiapa beristiqamah, tetap dalam kebaikan, berakhlak baik kepada semua manusia, dan mempergauli mereka dengan sikap asih dan dermawan, maka ia adalah seorang sufi. Istiqamah adalah menebus bagian dirinya untuk dirinya. Di antara tanda akhlak yang baik adalah tidak mengajak manusia untuk mengikuti kehendak dirinya sendiri, tetapi mengajak dirimu kepada kehendak orang banyak, selama kehendak mereka tidak menentang syari'at. Artinya, tidak egois terhadap kebenaran dirinya sendiri, tetapi menuruti kebenaran umum yang sesuai dengan syara'.
Makna Ibadah
Engkau juga menanyakan kepada saya persoalan ibadah. Ketahuilah, ibadah ada tiga macam.
• Pertama, menjaga (memahami dan mengamalkan secara istiqamah) syari'at.
• Kedua, ridla terhadap semua qadla', qadar dan pembagian Allah.
• Ketiga, meninggalkan ridla terhadap dirinya sendiri dalam rangka mencari ridla Allah.
Makna Tawakal
Engkau pun bertanya kepada saya tentang tawakkal. Ketahuilah, tawakkal adalah keteguhan keyakinanmu terhadap Allah atas apa yang dijanjikanNya. Artinya, kau yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa apa yang telah ditakdirkan atau digariskan atau dinasibkan kepadamu pasti akan sampai kepadamu, walaupun semua orang di dunia berusaha mencegah dan mengalihkannya darimu. Sebaliknya, apapun yang tidak dipastikan atau dicatatkan untukmu juga tidak akan sampai kepadamu, sekalipun seluruh penduduk alam menolongmu menuju kesana.
Makna Ikhlas
Engkau juga bertanya kepadaku tentang ikhlas. Ketahuilah, ikhlas adalah seluruh amalmu yang kau peruntukkan kepada Allah semata. Hatimu tidak terpengaruh oleh pujian manusia dan kau tidak mempedulikan cercaan mereka. Ketahuilah, ria' lahir karena mengagung-agungkan makhluk. Cara untuk menghilangkan ria' adalah dengan memandang mereka tidak berarti, tidak punya kuasa, dan tunduk di bawah kekuasaan Allah. Kau memandang mereka seperti benda-benda tidak bernyawa yang tidak mempunyai kuasa dan kemampuan mendatangkan kesenangan dan kesengsaraan, sehingga kau berhasil membersihkan hatimu dari penglihatan mereka. Selama engkau masih memiliki pandangan bahwa makhluk mempunyai kuasa dan kekuatan serta kehendak, maka ria' tidak akan terjauhkan darimu.
Wahai Anakku, sisa dari permasalahanmu sebagian sudah terjawab dalam beberapa kitab susunan saya, maka carilah sendiri. engkau kerjakan semampumu atas apa yang telah kau ketahui agar apa yang belum engkau ketahui disingkapkan oleh Allah.
Wahai Anakku, setelah ini, janganlah engkau bertanya kepada saya tentang sesuatu yang akan semakin memberatkanmu kecuali engkau bertanya dengan lidah hati. Allah swt. berfirman: "Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai engkau keluar menemui mereka, sesungguhnya itu adalah lebih baik bagi mereka." (QS. Al Hujurat: 5).
Terimalah nasihat Nabi Khidir as ketika berkata: "Janganlah engkau menanyakan kepada saya tentang suatu apapun sampai saya sendiri menerangkannya kepadamu." (QS. Al Kahfi: 70).
Jangan pula engkau terburu-buru bertanya hingga jawaban itu sampai kepadamu atau disingkapkan kepadamu suatu rahasia dan engkau melihatnya: "Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda azabKu. Maka janganlah engkau minta kepadaKu mendatangkannya dengan segera." (qs. Al Anbiya': 37).
Janganlah engkau bertanya kepadaku sebelum waktunya. Yakinlah bahwa engkau tidak akan sampai kecuali dengan berjalan menempuhnya, karena Allah berfirman: "Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan." (QS. Al Rum: 9).
Wahai Anakku, jika engkau berjalan dengan Allah, engkau akan melihat banyak keajaiban di setiap tempat yang engkau singgahi. Persembahkan ruhmu, karena modal utama perjalanan ini adalah keberanian mempersembahkan ruh, sebagai mana yang dikatakan Dzu Al Nun Al Mishr kepada salah seorang muridnya, "Jika engkau mampu mempersembahkan ruh, maka berangkatlah. Jika tidak mampu, maka jangan sekali-kali menyibukkan diri dengan laku sufi."

NASIHAT UNTUK PARA SALIKIN (PENCARI KEBENARAN) Imam Al Ghazali -3

Hal yang Wajib Bagi Murid yang Menempuh Jalan al Haq
Wahai Anakku, sebagian pertanyaanmu sudah terjawab. Sebagian yang lain jawabannya telah kami sebutkan dalam kitab Ihya' dan beberapa kitab yang lain. Sampai di sini, ingat-ingatlah penjelasan tersebut. Sekarang kami akan memulainya lagi. Kami katakan bahwa seorang perambah kebenaran yang sedang menuju Tuhan, wajib menempuh beberapa langkah.
Pertama, memiliki keyakinan yang benar dan tidak mengandung bid'ah.
Kedua, tobat nashuha atau tobat yang benar dan setelahnya tidak kembali lagi melakukan kesalahan.
Ketiga, minta kerelaan atau keikhlasan orang yang pernah dianiaya atau disakiti sehingga tidak ada lagi orang yang menuntut haknya kepadamu.
Keempat, menguasai ilmu syari'at yang cukup mengantarkanmu untuk melaksanakan perintah-perintah Allah, kemudian ilmu-ilmu akhirat yang lain yang akan menyelamatkanmu dari murka Allah.
Dikisahkan bahwa Al Syibii pernah berguru, melayani dan menemani 400 guru. Kemudian ia berkata. "Saya telah membaca 4.000 hadis. kemudian saya memilih satu hadis dan mengamalkannya, sedangkan sisanya saya kesampingkan, karena saya telah merenungkannya masak-masak, lalu saya menemukan keselamatanku dalam pengamalan satu hadis itu. Ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang yang datang kemudian, seluruhnya terangkum dalam satu hadis itu, maka saya mencukupkan dengannya. Demikian itu saya lakukan karena Rasulullah saw. berkata kepada sebagian sahabatnya: "Beramallah untuk duniamu sesuai dengan kadar maqammu (kedudukan). Beramallah untuk akhiratmu sesuai dengan kadar keabadianmu di dalamnya. Beramallah untuk Allah sesuai dengan kebutuhanmu kepadaNya. Beramallah untuk neraka sesuai dengan kadar kesabaranmu (ketahananmu) untuk menghadapinva."
Wahai Anakku, jika engkau mengetahui hadis ini. maka kau tidak memerlukan lagi ilmu yang banyak.
Renungkanlah hikayat lain, yaitu tentang Hatim Al Ashammi. Ia telah mengabdi dan berguru kepada Syaqiq Al Balkhiy. Suatu hari, gurunya bertanya, "Kau telah menemaniku semenjak, 30 tahun silam. Apa yang engkau peroleh selama itu?" "Saya mendapatkan delapan faidah dari ilmu yang engkau ajarkan," jawah Hatim. "Kedelapannya sudah mencukupi saya karena saya hanya mengharapkan keselamatan dengannya," lanjut Hatim. "Apa saja itu," tanya Syaqiq. Hatim kemudian menjelaskannya sebagaimana berikut :
• Faidah yang pertama, saya memperhatikan manusia, lalu saya melihat setiap orang memiliki kekasih yang selalu dicintai dan dirindukan. Sebagian orang mempunyai kekasih yang kekasihnya itu menemaninya hingga ia sakit sampai membawanya pada kematian. Sebagian lagi menemaninya sampai ke liang lahat, kemudian kekasihnya itu meninggalkannya sendirian. la tidak mau ikut masuk ke dalam kubur. Tidak satu pun kekasih vang selama di dunia dikasihaninva bersedia menemaninya masuk ke liang lahat. Saya pun berpikir dan akhirnya berkata, "Kekasih yang paling utama adalah kekasih yang dengan setia menemani kekasihnya hingga ke liang lahat dan menghiburnya di dalam kuburannya. Saya tidak menemukan kekasih seperti ini selain amal shalih. Karena itu, saya mengambilnya jadi kekasih agar ia menjadi lampu saya di kuburan, menemani saya dengan setia dan tidak meninggalkan saya sendirian."
• Faidah kedua, saya melihat manusia menuruti hawa nafsu mereka dan bersegera memenuhi kehendak nafsu, lalu saya ingat firman Allah: "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya." (Q.S. An Nazi'at: 10-11). Saya yakin bahwa Al Quran benar, maka saya bersegera menentang hawa nafsu saya. menyingsingkan lengan untuk memerangi keinginannya dan kenikmatan dunia yang dicita-citakannya, sampai saya benar-benar ridla mentaati Allah.
• Faidah ketiga, saya melihat setiap manusia berusaha mendapatkan dunia dan mengumpulkan serpih-serpihannya, kemudian menahan dan menyimpannya. Lalu saya berpikir dan ingat firman Allah: "Apa yang di sisimu akan lenyap dan apa yang di sisi Allah adalah kekal." (QS. an-Nahl: 96). Sejak itu, kenikmatan dunia yang saya peroleh saya gunakan untuk mencari ridla Allah. Harta benda yang saya miliki saya bagi-bagikan kepada kaum fakir-miskin agar menjadi simpanan saya di sisi Allah.
• Faidah keempat, saya melihat manusia menduga bahwa kemuliaan dan kejayaan terletak pada banyaknya pengikut, keluarga yang kuat kuat dan keturunan, lalu mereka tertipu dengan apa yang dibangga-banggakan. Sebagian orang merasa yakin bahwa harta dan keturunan yang banyak adalah sumber kemuliaan, lalu mereka memilih dan membangga-banggakannya. Ada pula yang menduga bahwa kemuliaan dan kejayaan terletak pada keberhasilan merampas harta orang-orang, menganiaya dan menumpahkan darah mereka. Juga ada sekelompok orang yang yakin bahwa merusak harta atau menghabiskannya dan menghambur-hamhurkannya adalah tanda kemuliaan, lalu saya berpikir dan ingat firman Allah: "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antaramu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu." (Qs. Al Hujurat: 13). Maka saya memilih ketaqwaan dan saya yakin bahwa Al Quran adalah benar, sedangkan dugaan mereka semua adalah salah.
• Faidah kelima, saya melihat manusia saling mencela dan menggunjing. Saya pun sadar bahwa semua itu disebabkan oleh hasud yang bersumber pada masalah harta, kehormatan dan ilmu. Saya akhirnya berpikir dan ingat firman Allah: "Kami telah menentukan diantara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia."(QS.Az-Zukhruf:32). Saya pun sadar bahwa pembagian dari Allah yang sudah ditetapkan sejak zaman Azali, maka saya tidak hasud kepada siapapun dan ridla atas pembagian Allah.
• Faidah keenam, saya melihat manusia saling memusuhi, mengumpat dan mencela, lalu saya merenung dan ingat firman Allah: "Sesungguhnya setan adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh[mu]." (QS. Fathir: 6). Saya pun mengetahui bahwa tidak ada yang boleh dijadikan musuh selain setan.
• Faidah ketujuh, saya melihat setiap orang berusaha, mencari dan berjuang dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh makanan dan kehidupan yang mapan, lalu ia terjatuh keperbuatan atau barang yang syubhat dan haram, merendahkan jiwanya dan mengurangi derajat kemanusiaannya. Saya pun berpikir dan menemukan firman Allah: "Dan tidak ada binatang yang melata di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya." (QS. Hud: 6). Saya pun tahu bahwa rezeki saya ditanggung Allah. Saya pun pasrah dan sibuk beribadah kepadaNya serta memangkas ambisiku kepada selainNya.
• Faidah kedelapan, saya melihat hampir setiap orang menyandarkan hidupnya pada sesuatu yang dimiliki makhluk. Sebagian menyandarkannya kepada dinar dan dirham. Sebagian lagi kepada harta dan kekuasaan. Sebagian kepada jabatan dan perusahaan, dan sebagian yang lain kepada sesama makhluk. Lalu saya berpikir dan menemukan firman Allah: "Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan [keperluan]nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan [yang dikehendaki]Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (qs. Al Thalaq: 3). Setelah itu, saya pasrah total kepada Allah, karena hanya Dia yang mencukupiku dan sebaik-baik Wakilku (penolong).
Setelah mendengar penuturan Hatim dengan delapan kesimpulannya itu, Syaqiq berkata, "Semoga Allah senantiasa memberimu taufiq. Saya pernah mempelajari Taurat, Injil, Zabur dan Al Quran, dan saya menemukan isi dari keempat kitab ini berputar sekitar delapan faidah itu. Barangsiapa mengamalkannya, berarti ia telah memahami keempat Kitab Suci ini."
Wahai Anakku, dari dua hikayat ini saya tahu bahwa engkau tidak butuh banyak ilmu. Sekarang saya akan menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh seorang salik atau perambah jalan sufi atau jalan spiritual menuju Allah.
Kelima, ketahuilah, seorang salik atau murid sufi harus mempunyai maha guru spiritual atau mursyid yang mampu mendidik muridnya untuk menghilangkan akhlak jeleknya dari dirinya, kemudian menjadikannya orang yang berakhlak baik dan mulia.

NASIHAT UNTUK PARA SALIKIN (PENCARI KEBENARAN) Imam Al Ghazali -2

Ilmu Tanpa Amal Adalah Gila dan Amal Tanpa Ilmu Tidak Berguna
Wahai Anakku, berapa banyak malam yang engkau menghidupkannya dengan mendalami ilmu dan mempelajari buku-buku serta menahan diri sekuat tenaga untuk tidak tidur: Saya tidak tahu faktor apa yang membangkitkanmu melakukan itu, meskipun kau memperoleh harta benda yang banyak, menarik kendalinya, mendapatkan berbagai kedudukan, dan membangga-banggakan keberhasilan itu di depan teman-teman dan orang-orang yang seangkatan denganmu. Celakalah kamu dan kamu benar-benar celaka! Jika tujuanmu dan seluruh perbuatanmu itu untuk menghidupkan syari'at Nabi saw., mendidik akhlak dan menahan nafsu amarah, maka berbahagialah kamu, kemudian berbahagialah kamu.
Terjaga matamu untuk selain Wajah- Mu
Hanyalah kesia-sian
Tangisanmu karena kehilangan kekasih selain-Mu
Hanyalah kebatilan
Wahai Anakku, hiduplah sekehendakmu! maka sesungguhnya engkau akan mati. Cintailah siapa saja yang engkau kehendaki! maka sesungguhnya engkau pasti berpisah dengannya. Ber-amal-lah sekehendakmu! maka sesungguhnya engkau pasti dibalas atas perbuatan itu.
Wahai Anakku, manfaat apa yang kau peroleh dengan keberhasilanmu menguasai ilmu kalam, ilmu debat, ilmu kedokteran, ilmu undang-undang kepemerintahan, ilmu syair, perbintangan, ilmu musik, dan tata bahasa. Saya melihatmu tidak memperoleh manfaat apa-apa selain umurmu yang tersia-sia dengan menentang Tuhanmu. Sesungguhnya saya melihat di dalam Injil Isa as berkata, "Satu jam saja yang disia-siakan dari seluruh usianya hingga orang itu menjadi jenazah yang diantarkan ke kuburan akan ditanya oleh Allah dengan 40 pertanyaan. Pertama akan ditanya, 'HambaKu, selama bertahun-tahun kamu mensucikan tubuhmu dari (karena) pandangan makhluk, dan kamu tidak mensucikannya satu saat pun dari (karena) pandanganKu, padahal setiap hari Allah memandang hatimu dengan berkata: Kamu telah berbuat untuk selainKu, padahal kamu dikelilingi dengan kebaikanKu. Engkau tuli tidak mendengar."
Wahai Anakku, ilmu tanpa amal adalah gila dan amal tanpa ilmu tidak berguna.
Ketahuilah, ilmu yang pada hari di mana kau hidup tidak menjauhkanmu dari maksiat, tidak membawamu pada ketaatan, dan kelak tidak menjauhkanmu dari neraka Jahannam. Jika pada hari itu kau tidak mengamalkannya dan tidak menebus hari-hari yang telah lewat dengan mengamalkan ilmu, maka kelak di hari kiamat kau akan berkata, "Tuhan, kembalikan kami ke dunia, kami akan beramal shalih." Keluhan itu akan dijawab, "Hai orang tolol, dari sana kamu datang!" Wahai Anakku, jadikanlah cita-cita dan semangat yang tinggi dalam ruhmu, keteguhan di dalam jiwa, dan kematian dalam badan, karena tempat kembalimu adalah kuburan. Penghuni kubur selalu menantimu setiap saat dan bertanya-tanya kapan kau menyusul mereka. Karena itu, hati-hatilah jangan sampai engkau menyusul mereka dengan tanpa bekal.Abu Bakar Shiddiq ra berkata. "Ini adalah jasad yang menjadi sarang burung atau menjadi liang binatang melata. Berpikirlah kamu! Renungkanlah dirimu. mana di antara dua pilihan itu yang engkau pilih. Jika kau ingin jasadmu menjadi burung yang terbang tinggi, maka dengarkanlah dengung panggilan Tuhan. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan terbang tinggi ke hadiratNya,lalu hinggap di pelataranNya yang tinggi dengan permata hatimu. Rasulullah saw. bersabda: "Arsy Dzat Yang 'Maha Pengasih bergetar hebat karena kematian Su'ad bin Mu'udz."
Engkau berlindunglah kepada Allah agar jasadmu tidak menjadi liang binatang melata. Allah swt. berfirman: "Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi." (QS.Al Araf:179). Jika sudah demikian, tandanya kau tidak aman. Kepindahanmu dari pojok kampung dunia ke dasar neraka tidak aman. Kau dilemparkan dari dunia ke jurang neraka yang terdalam. Diriwayatkan bahwa Hasan Basri diberi segelas minuman air putih yang dingin. Ia mengambil gelas itu dan tiba-tiba ia tidak sadar sehingga gelas itu terjatuh dari tangannya. Ketika sudah siuman, ia ditanya, "Mengapa engkau, hai Abu Sa'id (panggilan Hasan Basri)?" la menjawab, "Saya ingat angan-angan penduduk neraka ketika mereka berkata kepada penduduk surga, 'Berilah kami sedikit air atau rezeki yang kamu terima dari Allah.'"
Wahai Anakku, seandainya ilmu saja sudah kau anggap cukup dan kau tidak butuh amal selain ilmu itu, tentu ada seruan yang bertanya-tanya, "Adakah ia seorang pemohon, adakah ia seorang yang minta ampun, adakah ia seorang yang bertobat? Ia adalah seorang yang sia-sia dan tidak memiliki faidah." Diriwayatkan bahwa sekelompok sahabat mendatangi Rasulullah saw. dan mengadukan kepada beliau perihal Abdullah bin 'Umar; lalu dijawab, "Sebaik-baik pria adalah ia seandainya ia shalat malam."
Rasulullah saw. berkata kepada salah seorang sahabatnya, "Hai Fulan Janganlah kamu banyak tidur malam, karena banyak tidur malam menyebabkannya fakir pada hari kiamat."
Wahai Anakku, di sebagian malam, bertahajjudlah kamu. Jadikanlah tahajjud sebagai perintah. Di waktu sahur, mereka yang mohon ampun adalah bersyukur. Orang-orang yang mohon ampun di waktu sahur adalah dzikir. Rasulullah saw. bersabda: "Tiga suara yang dicintai Allah [adalah]: suara kokok ayam jantan, suara orang membaca Al Quran dan suara orang mohon ampun di waktu sahur."
Sufyan Al Tsauri berkata, "Sesungguhnya Allah menciptakan angin di waktu sahur untuk membawa dzikir dan istigfar ke Dzat Maha Raja dan Maha Perkasa." Ia juga berkata,
"Jika sudah memasuki awal malam, ada seruan yang menyeru dari bawah Arsy:
Ingatlah, bangunlah, hai orang-orang yang ahli ibadah.
Mereka pun bangun dan shalat seperti yang dikehendaki Allah.

Kemudian di pertengahan malam, ada seruan lagi yang menyeru:
Ingatlah, bangunlah, hai orang-orang yang taat.
Mereka pun bangun dan shalat hingga waktu sahur.

Jika sudah memasuki waktu sahur, ada seruan lagi yang menyeru:
Ingatlah, bangunlah, hai orang-orang yang mohon ampun.
Mereka pun bangun dan mohon ampun.

Ketika waktu fajar telah tiba, ada seruan lagi yang menyeru:
Ingatlah, bangunlah, hai orang-orang yang lupa.
Mereka pun bangun dari tempat tidur mereka seperti mayit-mayit yang bangkit dari kuburan mereka."
Wahai Anakku, diriwayatkan dalam wasiat Luqman Al Hakim yang berkata kepada anaknya, "Wahai anakku jangan sampai ayam jantan lebih pintar daripada kamu. Ayam jantan itu menyeru di waktu sahur, sedangkan engkau tidur."
Di tengah malam, merpati membisikkan suara
Dengan suara yang merdu dan lembut
Sedangkan kau enak-enakkan tidur
Demi Baitullah, kau berdusta
Seandainya kau mengatakan sebagai perindu Allah
Tentu burung-burung merpati itu.
Tidak meratapi tidurmu
Bangunlah, sesungguhnya kau orang yang bingung
Kau pikir, kau seorang Pencinta Tuhanmu
Tetapi engkau tidak menangis
Sementara merpati itu menangis .
Hakikat Ilmu
Wahai Anakku, hakikat ilmu adalah kesadaranmu bahwa ketaatan dan ibadah adalah inti ilmu.
Ketahuilah. ketaatan dan ibadah mengikuti Pembuat syari'at dalam semua perintah dan larangan, dengan ucapan dan tindakan. Artinya, setiap yang kamu katakan, yang kamu kerjakan, yang kamu tinggalkan dan yang kamu tekuni, dijalani dengan mengikuti syari'at. Jika kamu mengerjakan sesuatu perbuatan yang tidak diperintahkan seperti itu, maka itu bukan ibadah. Sebagaimana juga jika kamu berpuasa pada hari Raya dan hari-hari Tasyriq, maka kamu dihitung maksiat; atau kamu shalat dengan pakaian yang dibenci Allah, maka kamu dihukumi berbuat dosa, meskipun dua perbuatan itu bentuk zahirnya ibadah.
Wahai Anakku, haruslah ucapan dan tindakanmu sesuai dengan syari'at, karena ilmu dan amal dengan tanpa mengikuti syari'at adalah tersesat.
Kamu juga tidak boleh tergoda atau tertipu oleh polesan dan sebutan sufi, karena jalan sufi hanya ditempuh dengan mujahadah, berjuang sungguh-sungguh, memutus hawa nafsu dan membunuh dorongan syahwat dengan pedang riyadlah (latihan spiritual dengan mengendalikan hawa nafsu), tidak dengan polesan, sebutan atau atribut-atribut sufi.
Ketahuilah, lidah dan hati yang dipenuhi dengan kelupaan dan syahwat adalah tanda-tanda kesengsaraan, sehingga seandainya engkau tidak membunuh nafsu dengan mujahadah yang benar, maka hatimu tidak akan dihidupkan dengan cahaya ma'rifat.
Ketahuilah. sebagian masalahmu yang kamu tanyakan ke pada saya tidak cukup dijawab dengan tulisan, buku atau ucapan. Mengetahui jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu adalah mustahil karena itu adalah persoalan dzauq atau rasa. Setiap yang masuk kategori dzauq atau rasa tidak bisa dijelaskan atau disifati dengan ucapan, sebagaimana manisnya manisan dan pahitnya empedu tidak bisa diketahui kecuali dengan dzauq atau rasa. Sebagai contoh, dikisahkan, seseorang yang impoten menulis surat kepada temannya, "Beritahu saya kelezatan hubungan seksual, bagaimana adanya dan rasanya." Temannya menjawab. "Wahai Temanku. Sebelumnya saya telah mendugamu pasti kamu adalah seorang yang impoten, dan sekarang saya tahu bahwa, selain kamu orang yang impoten, kamu juga seorang yang tolol, karena kelezatan seksual adalah masalah rasa. Jika hanya dari sekedar tahu saja, kamu tidak akan mungkin memahami, karena pengetahuan ini tidak mungkin diperoleh dengan digambarkan secara ucapan dan tulisan."

NASIHAT UNTUK PARA SALIKIN (PENCARI KEBENARAN) Imam Al Ghazali 1

Ketahuilah, salah seorang murid Al Ghazali yang telah menyertai gurunya selama bertahun-tahun bertanya-tanya kepada dirinya. Ia berguru, menemani dan melayani gurunya dalam waktu yang cukup lama. Berbagai ilmu dan pengalaman spiritual telah diperolehnya, tetapi ia masih merasa ragu terhadap dirinya. Ia berkata kepada dirinya, "Saya telah membaca berbagai macam ilmu. Usiaku habis untuk belajar dan mengumpulkan bermacam-macam ilmu. Hingga sekarang saya tidak mengetahui ilmu yang mana yang bermanfaat bagiku dan menemaniku kelak di alam kubur. Saya juga tidak tahu ilmu mana yang tidak bermanfaat bagiku sehingga saya harus meninggalkannya. Padahal Rasulullah saw. telah berdoa: "Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung denganMu dari ilmu yang tidak bermanfaat."
Ia terus berpikir dan berpikir sampai akhirnya memutuskan untuk menulis surat kepada gurunya, Al Ghazali. Ia mengadukan kepadanya kegelisahan hatinya dan meminta nasihat. Ia memang mengaku sudah banyak memperoleh pelajaran dari gurunya, tetapi yang dicari belum ditemukan. Salah satu ucapan yang disampaikan kepada gurunya adalah sebagai berikut: "Beberapa buku karangan Syekh, seperti Kitab Ihya' dan kitab-kitab yang lain memang sudah menjawab masalah saya. Akan tetapi, maksud saya di sini adalah agar Syekh menuliskan untuk saya nasihat yang tertulis hanya dalam beberapa lembar kertas. yang saya bisa membawanya sepanjang hidup saya dan mengamalkannya."
Kemudian Al Ghazali menulis jawaban. Surat itu kepada muridnya sebagaimana berikut.
Ilmu adalah Untuk Diamalkan
Ketahuilah, wahai anakku yang mulia dan sahabat yang ikhlas, - semoga Allah melanggengkan ketaatanmu kepadaNya dan melangkahkan kakimu dijalan para kekasihNya-, Sesungguhnya tebaran nasihat ditulis dari tambang risalah Rasulullah saw. Jika nasihat dari beliau telah sampai kepadamu, maka nasihat apa lagi yang kamu butuhkan dariku. Jika belum sampai, maka katakan kepadaku apa yang telah kamu peroleh selama bertahun-tahun ini dari ilmu yang telah kau raih? Sementara pada saat yang sama engkau habiskan waktumu mencari ilmu itu.
Wahai Anakku di antara nasihat Rasulullah saw. yang sangat berharga adalah sabda beliau ini:
"Tanda-tanda Allah berpaling dari hambaNya adalah kesibukan hamba itu dengan sesuatu yang tidak berarti. Jika seseorang sesaat saja dari usianya hilang untuk sesuatu yang tidak berguna bagi tujuan penciptaannya, maka patut baginya mendapatkan kerugian yang panjang: dan barangsiapa telah melewati 40 tahun dan kebaikannya tidak mengalahkan kejelekannya, maka bersiap-siaplah ke neraka."
Nasihat ini sudah cukup bagi orang yang benar-benar ahli ilmu. Wahai Anakku, urusan nasihat sangat mudah, yang sulit adalah menerima nasihat. Karena menerima nasihat bagi hawa nafsu terasa pahit, sementara larangan-larangan itulah yang disukai oleh sebagian besar manusia, khususnya bagi orang yang hanya sibuk mencari ilmu, dimana ilmunya tersebut digunakan hanya untuk memperoleh keagungan dan kemulian dunia. Dengan upayanya mencari ilmu itu - dia hanya bertujuan untuk mendapatkan ilmu semata - bukan untuk diamalkan - agar ilmu tersebut dinisbatkan kepadanya. Dengan demikian orang akan berkata "Si Fulan seorang yang berilmu (sarjana, master, doktor dll -pentj) dan mulia". Orang yang terakhir ini hidupnya hanya sibuk mengurusi nafsu dan memasuki lorong-lorong kehidupan dunia. Ia mengira bahwa dengan mendapatkan ilmu semata, kehidupannya akan selamat dan terlepas dari kesengsaraan. Ia tidak butuh amal. Ini adalah keyakinan para filsuf. Mahasuci Allah. Ia tidak mengetahui ketentuan ini ketika sudah mendapatkan ilmu dan tidak mengamalkannya, ia justru berhujjah dengan sekian banyak dalil yang memperkuat asumsinya bahwa ilmu untuk ilmu, bukan untuk amal. Rasulullah saw. bersabda: "Manusia yang mendapatkun azab paling berat di akhirat adalah orang yang berilmu yang Allah tidak memberinya kemanfaatan atas ilmunya."
Imam Ahmad dan al-Bayhaqi meriwayatkan dari Mansur Ibn Zadan yang berkata, "Telah sampai kabar kepada kami, bahwa apabila orang berilmu tidak memperoleh manfaat dari ilmunya itu, para penghuni Neraka berteriak karena mencium baunya yang busuk. Mereka—para penghuni neraka itu— berkata kepadanya, "Apa yang telah kamu perbuat, wahai orang jelek? Kamu telah mengganggu kami dengan baumu yang busuk. Apakah tidak cukup bagimu rasa sakit dan keburukan kami?" Orang yang berilmu itu menjawab, "Dulu, aku ini orang berilmu, tetapi aku tidak memperoleh manfaat dari ilmuku."
Diriwayatkan bahwa Al Junaidi setelah wafat memperlihatkan dirinya dalam tidurku, lalu ditanyakan kepadanya, "Apa kabar. hai Abu Al Qasim (panggilan Al Junaidi)?" Ia menjawab, "Semua ungkapan (ilmu) telah rusak dan isyarat-isyarat (ilmu yang lebih dalam) juga musnah. Tidak ada yang memberi kami manfaat kecuali rakaat-rakaat yang kami rukuk di tengah malam."
Wahai Anakku, Janganlah kamu menjadi orang yang bangkrut sebab amalmu, dan jangan pula batinmu dalam keadaan kosong dari dzikir pada Allah. Yakinlah bahwa ilmu semata tidak mungkin bisa diandalkan. Contohnya, seandainya seorang laki-laki gagah di tengah gurun sendirian memiliki sepuluh pedang India yang sangat ampuh dan beberapa pusaka lainnya. Laki-laki itu dikenal pemberani dan jago perang. Kemudian seekor singa yang sangat besar menghampirinya dan siap menerkamnya. Apa pendapatmu, apakah senjata-senjata yang hebat itu mampu mencegah laki-laki itu dan terkaman singa jika ia tidak menggunakan dan menghantamkannya kepada singa? Sudah pasti senjata-senjata itu tidak mampu melindunginya kecuali dengan digerak-gerakkan. Demikian juga jika seseorang telah membaca 100.000 masalah ilmiah dan berhasil menguasainya. tetapi tidak mengamalkannya, maka ilmu-ilmu itu tidak akan memberinya manfaat kecuali dengan mengamalkannva. Contoh lain. jika seseorang sakit kuning, dan ia mengetahui bahwa kesembuhannya hanya dengan ramuan obat tertentu yang telah dikuasainya, maka ia tidak mungkin sembuh kecuali dengan meminum obat itu.
Seandainya kamu telah belajar puluhan tahun, membaca banyak buku dan menguasai berbagai macam ilmu, lalu kamu menyimpan kitah-kitab sebagai bahan koleksi pribadi, maka semua itu tidak akan menolong dan menjadikanmu mendapatkan manfaat kecuali dengan mengamalkannya.
Allah swt. berfirman:
"Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." (QS. Al Najm: 39).
"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya. maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh." (QS. Al Kahfi: 110).
"Sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan." (Qs. Al Taubah: 82).
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh. bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal. Mereka kekal di dalamnya. mereka tidak ingin berpindah darinya." (QS. Al Kahfi: 107-108).
"Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh." (Qs. Al Furqan: 70).
Apa pula pendapatmu tentang hadis berikut ini:
"Islam dibangun di atas lima [dasar]: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utuisan Allah, menegakkan shalat., mengeluarkan zakat, berpuasa Ramadlan, dan berhaji ke Baitullah bagi yang mampu [menempuh] perjalanan ke sana."
Iman adalah diucapkan dengan lidah, dibenarkan dengan hati dan dilakukan dengan organ-organ tubuh. Dalil yang menunjukkan keharusan beramal lebih banyak daripada orang yang menghitung-hitung hahwa seseorang bisa sampai ke surga berkat keutamaan dan kemuliaan Allah. Akan tetapi, hal ini hanya mungkin tercapai setelah orang itu melakukan ketaatan dan beribadah kepadaNya, karena rahmat dan keutamaan Allah hanya untuk orang-orang yang mendekati kebaikan. Yakni golongan orang baik. Seandainya dikatakan pula hahwa surga bisa dicapai dengan iman semata, maka kami jawab, "Benar, tetapi sampai kapan?" Berapa banyak rintangan yang menuju surga yang harus dipangkas jika benar-henar ingin sampai. Tantangan pertama adalah tantangan iman. Apakah iman yang dimilikinya berhasil dipertahankan dan tidak tercabut dari hatinya, atau sebaliknya? Jika imannya selamat, apakah ia termasuk orang yang khianat atau bangkrut? Hasan Basri berkata. "Allah pada hari kiamat akan berkata kepada hamba-hambaNya, "Masuklah, hai hamha-hamhaKu ke surga sebab rahmatKu dan berbagilah kamu dengan amalmu."
Wahai Anakku, selama kamu tidak beramal, maka kamu tidak mendapatkan upah (pahala).
Dikisahkan hahwa seorang pria Bani Israil telah menyembah Allah selama 70 tahun. Allah swt. ingin memperlihatkannya kepada para malaikat, Maka diutuslah satu malaikat untuk memberikan kabar kepadanya bahwa ibadah yang selama ini dilakukannya belum menjadikannya layak masuk surga. Ketika kabar itu diterimanya, ia menjawabnya demikian. "Kami memang diciptakan untuk ibadah. Karena itu, kami harus menyembahNya." Ketika malaikat itu kembali dan menghadap Allah, ia mengadu, "Tuhanku, Engkau lebih tahu atas apa yang ia katakan." Allah pun menjawab, "Jika ia tidak berpaling dari beribadah kepada Kami, maka Kami bersama kemuliaan Kami tidak berpaling darinya. Saksikanlah, hai malaikat-malaikatKu, sesungguhnya Aku telah mengampuninya."
Rasulullah saw. bersabda:
"Hisablah (introspeksi) diri kalian sebelum kalian dihisab dan timbanglah amal kalian sebelum [amal] kalian ditimbang."
Ali bin Abi Thalib ra berkata, "Barangsiapa mengira bahwa dengan tanpa amal bisa sampai [kesurga], maka ia seorang pengangan-angan (pengkhayal). Barangsiapa mengira bahwa ia bisa sampai [ke surga] hanya karena amalnya, berarti ia adalah orang yang tidak butuh [rahmat Allah]."
Al Hasan berkata, "Mencari surga dengan tanpa amal adalah satu di antara dosa-dosa [besar]." la juga berkata, "Tanda kebenaran yang hakiki adalah meninggalkan perbuatan yang memperhatikan amal dan bukan meninggalkan amal."
Rasulullah saw. bersabda: "Orang yang cerdik adalah orang yang jiwanya dekat (pendek) dan beramal untuk sesuatu sesudah mati. Orang yang bodoh adalah orang yang mengikuti hawa nafsu dan mengangan-angankan Allah dengan angan-angan."

Perbedaan Ilmu dan Ma'rifah: Imam Al Gazali

Ma'rifah adalah esensi taqarrub (pendekatan pada Tuhan). Ma'rifah merupakan hasil penyerapan jiwa yang mempengaruhi kondisi jiwa seorang hamba yang pada akhirnya akan mempengaruhi seluruh akd-vitas ragawi. Ilmu, diibaratkan seperti melihat api sementara ma'rifah ibarat cahaya yang memancar dari nyala api tersebut.
Ma'rifah secara etimologis adalah pengetahuan tanpa ada keraguan sedikit pun. Dalam terminologi kaum Sufi, ma'rifah disebut pengetahuan yang tidak ada keraguan lagi di dalamnya ketika pengetahuan itu terkait dengan persoalan Zat Allah Swt. dan sifat-sifat-Nya.
Jika ditanya, "Apa yang dimaksud dengan ma'rifah Zat dan apa pula maksud dari ma'rifah sifat?" Maka jawabnya: "Ma'rifah Zat mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Swt. itu Wujud dalam Keesaan, Tunggal, dengan segala Keagungan yang bersema-yam dalam diri-Nya, dan ddak ada satu pun yang menyerupai-Nya. Adapun ma'rifah sifat, adalah me-ngetahui bahwa sesungguhnya Allah Swt. Maha-hidup, Maha Mengetahui, Mahaberkuasa, Maha Mendengar, Maha Melihat dan dengan segala sifat Kemaha-sempurnaan lainnya."
Jika ditanya: "Apa rahasia ma'rifah itu?" Rahasia dan ruhnya adalah ke-tawhid-an. "Yaitu dengan men-sucikan segala sifat; Hidup, Mengetahui, Kuasa, Kehendak, Mendengar, Melihat, berfirman-Nya dari penyerupaan dengan sifat-sifat makhluk. Karena, tidak ada serupa bagi-Nya."
Lalu manakala ditanya, "Apa tanda-tandanya?" Tanda-tandanya adalah hidupnya hati bersama-Nya. Allah Swt. mewahyukan pada Nabi Dawud As, "Mengertikah kau, apakah ma'rifah-Ku itu?" Nabi Dawud menjawab, "Tidak." Allah berfirman: "Hidupnya kalbu dalam musyahadah kepada-Ku."
Kalau ditanyakan, "Pada tahap atau maqam manakah hakikat kema'rifahan itu dibenarkan?" Jawabnya, "Pada tahap musyahadah (penyaksian), dan ru'yab (melihat) dengan segenap nurani (sirr). la melihat untuk mencapai ma'rifah, dan hakikat ma'rifah berada dalam badn mereka, lalu kemudian Allah Swt. menyingkap sebagian tabir penutup. Lantas diper-lihatkan pada mereka Cahaya Zat dan Sifat-sifat-Nya, dari balik tabir itu, agar mereka melihat-Nya. Tabir ddak disingkap secara keseluruhan, supaya mereka tidak terbakar."
Sang Sufi bersyair:
Seandairya Aku tampak tanpa hijab,
Tentu Aku telah menjadikan semua manusia sempuma
Namun hijab itu begitu lembut
Sehingga mampu membangkitkan hidup jiwa para perindu
Petampakan keagungan-Nya akan melahirkan perasaan takut (khawf), dan rasa kewibawaan (haybah). Petampakan kebajikan (al-husn) dan keindahan (al-jamat) tentu akan melahirkan kerinduan (asy-syawq). Sementara petampakan sifat-sifat-Nya akan melahir¬kan kecintaan. Dan petampakan Zat, melahirkan ke-tawhid-an.
Sebagian ahli ma'rifah: "Demi Allah Swt., seseorang tidak akan menggapai apa pun dari dunia melainkan Allah Swt. akan membutakan hatinya, dan semua amalannya akan sia-sia. Sesungguhnya Allah Swt. menciptakan dunia sebagai kegelapan, dan menjadikan matahari sebagai cahayanya. Dan Allah Swt. juga menjadikan hati dalam kegelapan, cahaya ma'rifah-lah yang akan menyinarinya. Tatkala mendung menjelang, maka sirnalah cahaya matahari dari bumi. Dan ketika cinta dunia hadir dalam hati seorang hamba maka cahaya ma'rifah pun akan menyingkir darinya."
Ada pula yang mengatakan: "Hakikat dari ma'rifah adalah cahaya yang menyeruak dari kalbu seorang Mukmin, dan tiada sesuatu yang lebih mulia dalam had sesorang hamba kecuali ke-ma'rifah-an."
Sinyalir lain: "Matahari yang menerangi hati seorang ahli ma'rifah lebih cemerlang dan bercahaya dibandingkan dengan cahaya matahari yang sesungguhnya. Karena matahari pada sore hari harus tenggelam, sementara matahari ahli ma'rifah dada akan pernah tenggelam meski malam riba."
Mereka mendendangkan satu bait syair:
Sang surya akan tenggelam dengan datangnya malam,
Lain halnya dengan matahari kalbu yang tiada pernah tenggelam
Siapa pun yang mencinta kekasihnya
la akan terbang menemuinya dengan segala kerinduan
Zu an-Nun al-Misri berkata: "Hakikat ma'rifah adalah mengetahui rahasia-rahasia Yang Haqq melalui perantara kelembutan cahaya."
la menulis:
Bagi orang 'arif, kalbu menjadi mata mereka
Untuk menatap Cahaya llahi yang tersimpan di balik hijab
la tuli dari segala makhluk, dan dibutakan daripandangan mereka
Bisu untuk menjawab ajakan mereka yang berucap dusta
Ketika mereka ditanya, "Kapankah seorang hamba dapat diketahui kalau ia telah ma'rifah?" Yaitu ketika tidak ada lagi tempat tersisa di dalam hatinya sebagai singgasana bagi selain-Nya.
Ada lagi yang mengatakan bahwa, hakikat ma'rifah adalah musyahadah dengan Yang Haqq tanpa melalui mediasi, tanpa dengan metode, dan tidak juga dapat diumpamakan. Seperti diceritakan dari kisah 'Ali Ibn Abi Thalib kerika ia ditanya: "Ya Amirul Mukminin, Apakah Anda telah menyembah apa yang Anda lihat, atau Anda menyembah yang tidak Anda lihat?" Beliau menjawab: "Tidak. Aku menyembah Zat yang aku lihat, bukan dengan penglihatan mata, melainkan dengan penglihatan kalbu."
Ja'far as-Sadiq juga pernah ditanya: "Apakah Anda melihat-Nya?" Beliau menjawab: "Aku tidak akan menyembah Tuhan yang tidak bisa kulihat." la pun ditanya lagi: "Lalu bagaimana Anda melihat-Nya sementara la tidak dapat dilihat dengan mata kepala." Ja'far kembali menjawab: "Aku tidak akan mampu melihat-Nya dengan pandangan mata, tapi melihat-Nya dengan mata hati melalui hakikat keimanan. Dia tidak kasat indera dan tidak pula dapat diukur oleh manusia."
Sebagian ahli ma'rifah lain juga pernah ditanyai mengenai hakikat kema'rifahan, dan mereka menyatakan: "Hakikat ma'rifah adalah mensucikan rahasia dan segala kehendak, meninggalkan segala kebiasaan, menentramkan hati tertuju kepada-Nya tanpa melalui mediasi, dan meninggalkan sikap berpaling dari Allah Swt. dengan beralih pada selain-Nya. Karena ma'rifah pada substansi Zat-Nya, sifat-sifat-Nya dan juga hakikat-Nya, tidak mungkin dapat dicapai kecuali hanya dengan-Nya yang Mahaluhur dan Mahabijak. Segala puji hanya bagi-Nya."

Source : Mi'raj as-Salikn, Imam Al Gazali

Prinsip Dasar Tasawwuf Imam Al Gazali

Fondasi dari amalan tasawwuf adalah. memakan makanan yang halal dan mengikuti sunnah Rasulullah baik dalam akhlak, perbuatan, dan perintah-perintahnya. Barangsiapa yang tidak menjaga Alquran dan tidak dapat menulis hadis, dia tidak akan bisa meng¬ikuti tasawwuf, karena ilmu kita berkaitan dengan Alquran dan As-sunnah. Mengikuti paham ini harus-lah dengan sikap wara' dan ketakwaan, karena hal ini bukan sekadar ajakan-ajakan.
Dalam tasawwuf, permulaannya adalah ilmu, tengahnya adalah amal, dan akhirnya adalah mawhibah (anugerah). Dengan ilmu maksud yang dikandungnya akan tersingkap, sedangkan amal mewujudkan apa yang dicari, sementara mawhibah merupakan tercapainya maksud dan tujuan.
Ahli tasawwuf terdiri dari tiga tingkatan. Tingkat pertama disebut murid talib. Yang kedua disebut mutawassit sair. Dan ketiga, wasil. Adapun murid, adalah seorang yang mampu memegang kendali waktunya, sedangkan mutawassit. yang mengamalkan perbuatan, sementara wasil, orang yang telah memiliki keteguhan keyakinan. Keutamaan bagi mereka adalah ketika melawan hawa nafsu.
Maqam seorang Murid adalah mujahadah (bergiat melawan hawa nafsu) dengan segala upaya, mukabadah (mengekang nafsu), menikmati kepahitan dan kesengsaraan hidup, menjauhi segala bagian-bagian nafsu, dan semua hal yang dapat menghantarkan pada nafsu duniawi.
Maqam mutawassit, adalah menaiki bahtera cobaan dan ujian untuk dapat mencapai apa yang dicari, dengan menjaga kejujuran, dan selalu beradab dalam setiap fase. Dia juga disebut dengan sahibut at-talwin, karena ia telah melakukan dakian dari satu fase ke fase selanjutnya, dari satu perilaku ke perilaku lain. Inilah yang disebut dengan pertambahan karunia (ziyadah). . ..
Dan maqamah wasil adalah kembali pada perasaan inderawi setelah lebur dalam kegaiban, dan mapan dengan aturan-aturan ibadah, dan menjawab panggilan dari Yang Maha-Haqq, karena ia telah berhasil melewati tahapan-tahapan sebelumnya. Dia berada dalam posisi tetap yang tidak dipengaruhi oleh ujian dan cobaan, dan tidak pula dipengaruhi oleh keadaan apapun. Tidak ada lagi perbedaan, apakah ia dalam kondisi susah atau senang, dilarang atau diberikan, gagal ataupun berhasil. Kenyangnya sama seperti ke¬tika ia merasa lapar, tidurnya pun sama seperd ketika ia terjaga. Dimensi kedirian telah sirna. Dimensi lahirnya hadir bersama manusia, namun dimensi badaniahnya larut bersama Yang Haqq. Ini semua termasuk laku (hal) Nabi.
Seseorang yang telah mencapai tahap muntaha (final) diibaratkan seperti busur anak panah yang dilepaskan di atas puncak bukit yang dnggi mengenainya, dan angin kencang menerpanya, maka tak sedikit pun ia bergeming karenanya, meski sehelai rambut pun.
Ada yang mensinyalir bahwasanya orang-orang dinamakan sufi karena mereka menempad barisan utama dan pertama di sisi Rabb-nya lantaran hasrat mereka yang luhur, di samping kepasrahan mereka terhadap Allah Swt. atas segala rahasia-rahasia mereka.

Source : Mi'raj as-Salikin, Imam Al Gazali

Mengenal Kesadaran Batin

Syeikh Javad Nurbakhsyi

Apabila jiwa manusia telah mencapai kesempurnaan pada tingkat perkembangan ruh, maka jiwa akan sampai pada tingkat perkembangan kesadaran batin (sirr), yang merupakan tempat dari pandangan kontemplatif (syuhud).

Sebagai tingkatan yang lebih tinggi daripada ruh, kesadaran batin adalah akal malaikat yang sakral, terletak di kegaiban Ilahiah yang telah memberikan amanah kepada ruh.

Penyingkapan (kasyf) sifat sifat Ketuhanan yang mengalir kepada kesadaran. batin dari alam Haqiqat Allah dirasakan oleh ruh. Inilah tempat realitas realitas spiritual (ma'na) dari pengetahuan Allah. Objek apa pun yang terlihat oleh kesadaran batin itu adalah tersembunyi bagi ruh dan hati, karena objek tersebut adalah pengetahuan Allah yang tak terlihat, yang secara langsung menyentuh kesadaran batin tanpa sepengetahuan ruh. Kesadaran batin lebih halus daripada ruh, lebih mulia daripada hati.
Para Sufi berkata, Kesadaran batin adalah tempat dari cahaya penyaksian (musyahadah).

Kesadaran batin adalah kesadaran terhadap rahasia yang disembunyikan oleh Allah, yang Allah sendiri senantiasa melindunginya. Kesadaran batin wali wali Allah menjadi penjaga rahasia rahasia Allah, yang Allah menyebutnya Alam Kegaiban, yaitu yang tersembunyi bahkan dari pandangan batiniah sekalipun,dan hanya terlihat oleh anda dengan kesadaran batin.

Para Sufi mengatakan, "Kesadaran batin mampu melihat penyingkapan Sifat sifat Allah dalam bentuk cahaya."

Apabila mereka yang menyaksikan Allah menikmati pandangan kontemplatif (syuhud)terhadap Allah melalui wujud spiritual yang telah disucikan, yang diambilkan dari wujud fenomenal, maka dia menjadi sumber rahasia rahasia Nama, Sifat, Sikap dan Esensi Allah. Dalam kestabilan, dalam hikmah, dalam keteguhan beribadah, dan dengan perasaan Ketuhanan, Allah berbicara kepadanya tentang pengetahuan pengetahuan azali dan abadi yang terdapat dalam Esensi Nya. Dalam keadaan ini, rahasia rahasia Alam Kegaiban akan terlihat olehnya, kemudian pandangan dari kesadaran batinnya semakin tinggi oleh karena pengaruh cahaya rahasia Allah (sirr). Dia memandang rahasia Allah melalui Allah dan dari Allah ke rahasia Allah.

Rahasia Allah berkata dengan lidah Allah. Kemudian ia melewati kesadaran batin menuju ke kesadaran batin yang terdalam (sirr al asrar) sebagaimana Yang telah disebutkan dalam Al Qur'an ketika Allah berkata melalui Rasulullah dengan lidah jasmani kesadaran batin dan lidah batiniahnya, seraya berkata, "Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya dia mengetahui yang rahasia dan yang lebih tersembunyi.". Kesadaran batin terdalam adalah bentuk paling akhir dari kesadaran batin.
Karena itu, Rasulullah menggambarkan para pemimpin Haqiqat (naqaba) dan wali pengganti (abdal) sebagai tempat berlindung rahasia-rahasia Allah.
Beberapa syeikh telah mengatakan bahwa kesadaran batin dapat merasakan apa yang tidak dapat dirasakan kesadaran nafs.

Telah diceritakan bahwa Yusuf ibnu Husain berkata, "Hati manusia adalah jari jari dari kesadaran batin." Beliau juga mengatakan, "Jika hatiku mempelajari apa yang terjadi dalam kesadaran batinku, aku akan menangis dan mengeluarkan air mata." Dikatakan bahwa kesadaran batin adalah bagian dari rahasia Allah karena. ia hanya terlihat oleh Allah sendiri, sedangkan apa yang masih terlihat oleh makhluk bukanlah kesadaran batin.
Telah diceritakan bahwa Husain ibn Mansur al Hallaj berkata, "Kesadaran batinku tidak tersentuh oleh siapa pun, dan tak dapat dilihat oleh pikiran siapa pun."

Kaum Sufi berkata, "Perbuatan Allah melibatkan rahasia (sirr) yang terlihat oleh orang-orang yang bijak. Rahasia-rahasia ini merupakan hikmah azali dalam wujud eksistensi fenomenal. Allah memiliki rahasia rahasia dalam Sifat-sifat Nya, yang terlihat oleh para Sufi, ini semua adalah realitas (ma'na) spiritual dari Nama-nama Allah yang mengandung ketentuan dari Kekekalan Allah. Allah juga memiliki rahasia di dalam esensi Nya, ini merupakan cahaya realitas yang hanya diperlihatkan kepada para pe'nganut ajaran Keesaan Tuhan (tawhid) yang paling mulia.

Kesadaran batin adalah tingkatan dan batasan yang secara khusus diberikan pada suatu entitas tertentu pada saat mengalami Penyatuan dengan Allah. Hal ini disebutkan dalam Al Qur'an: "Dan sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya "Jadilah", maka jadilah ia." (XVI: 40).
Telah dikatakan bahwa hanya Allah yang mengetahui, mencintai dan mencari Allah, karena sebenarnya kesadaran batinlah yang mencari, mencintai dan mengetahui Allah.

Sebagaimana. Rasulullah telah mengatakan, "Aku telah mengenal Tuhanku melalui Tuhanku."
Kesadaran batin dikatakan sebagai suatu materi dari Kegaiban, yang tersembunyi dari akal.
Untuk mengenal kesadaran batin.
Seseorang harus menembus
Partikular menuju Yang Universal.
Salah satu aliran Sufi beranggapan bahwa kesadaran batin merupakan kesadaran terhadap rahasia spiritual (musyahadah), sebagaimana ruh merupakan rahasia kebaikan cinta, dan hati sebagai rahasia hikmah Kelompok Sufi.

Yang lain berpendapat bahwa kesadaran batin bukanlah. salah satu dari esensi-esensi utama (a'yan al tsabitah) melainkan sebuah realitas spiritual (ma'na), yang berarti bahwa kesadaran batin merupakan suatu rahasia di antara seseorang dengan Allah, yang orang lain tidak mengetahui.

Mereka mengatakan bahwa antara seseorang yang saleh dan Allah terdapat suatu kegaiban. batin dan kegaiban batin terdalam yang disebut akhfa sebagaimana yang disebutkan dalam Al Qur'an: "Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi." (XX: 7). Kesadaran batin adalah rahasia yang hanya Allah dan orang orang yang saleh menyadarinya, sedangkan kesadaran batin yang terdalam hanya Allah sendiri yang menyadarinya. Bahkan orang orang saleh sekalipun tidak menyadarinya.

Berkenaan dengan aliran yang pertama, yang menganggap bahwa kesadaran batin merupakan suatu entitas dalam dirinya sendiri, beberapa orang berpendapat bahwa tingkat kesadaran batin ini lebih tinggi daripada ruh dan hati, sedangkan beberapa orang yang lain berpendapat bahwa kesadaran batin ini lebih tinggi daripada hati, namun lebih rendah daripada ruh. Syihabud Din 'Umar Suhrawardi percaya bahwa kesadaran batin bukanlah suatu entitas yang terpisah dari hati dan ruh, dan mengatakan bahwa argumen dari aliran Yang menganggap kesadaran batin lebih tinggi daripada ruh maksudnya adalah bahwa, setelah ruh benar benar terbebas dari ikatan hati dan nafs, dia memiliki karakter yang berbeda. Mereka beranggapan bahwa ruh telah menjadi entitas lain Yang lebih tinggi daripada ruh itu sendiri. Mereka tidak menyadari bahwa ia merupakan ruh yang sama tetapi dibentuk oleh sifat sifat Yang berbeda. Alasan dari kesalahpengertian orang orang yang menyatakan kesadaran batin lebih rendah dari ruh, dan lebih tinggi daripada hati, terletak pada kenyataan bahwa hati memiliki karakter yang berbeda beda dalam tahap tahap akhir keadaannya sewaktu ia benar benar terbebas dari pengendalian nafs, terlepas dari perlekatan desakan nafs dan godaan-godaan setan.

WALI ASHIF

Nama Wali Ashif memang tidak terdapat dalam Qur'an. Tetapi, konon, sejumlah sufi mengenal beliau bahkan mengamalkan wiridan yang diamalkan Wali Ashif. Siapa dia sebenarnya? Wali Ashif hidup pada masa Nabi Sulaiman.

Dalam surat an-Naml (QS 27: 38-40) diceritakan bagaimana Nabi Sulaiman meminta para pembesar kerajaannya memindahkan singgasana Ratu Bilqis. Jin Ifrit menjawab,
"Aku akan datangkan kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya".

Ucapan Ifrit itu ditimpali oleh seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab, "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip!" Nabi Sulaiman berkedip, dan singgasana Bilqis sudah berada dihadapannya. Lalu siapa dia yang disifatkan al-Qur'an dengan "seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab".

Literatur sufi menyebut orang tersebut bernama Wali Ashif. Sufi yang lain mengatakan bahwa yang dimaksud itu sebenarnya adalah malaikat. Entahlah siapa dia sebenarnya. Yang jelas dia memiliki ilmu dari al-Kitab. Yang pasti dia memiliki kemampuan melebihi jin ifrit. Mari kita pelajari al-Kitab yang diturunkan Allah, mari kita raih cahaya al-Kitab itu. Jika kita mampu menguasai ilmu dari Kitab Suci maka kemampuan gaib kita melebihi kemampuan jin ifrit.

Sayang, kita tidak mau mendalami al-Kitab yang Allah turunkan kepada kita sebagai "petunjuk bagi orang yang bertakwa". Kita lebih suka bermain-main dengan jin. Kita lebih suka meminta tolong kepada jin. Ah...betapa jauh kita dari tuntunan Allah. Kisah Wali Ashif seharusnya menyadarkan kita bahwa kalau kita mau mendalami kitab suci, maka derajat kita akan naik dan kita sama sekali tak butuh pada bantuan jin.

Ya Ilahana, Ilaha kulli sya'i, ilahan wahidan La ilaha illa anta (Wahai Tuhan kami, Tuhan segala sesuatu, Tuhan yang satu, Tidak ada tuhan kecuali Engkau)

Konon dengan do'a ini Wali Ashif mampu memindahkan singgasana Bilqis sebelum mata Nabi Sulaiman berkedip.

Futuuhul Ghaib (Penyingkap Kegaiban) Syeikh Abdul Qadir Jailani

Karya terpenting sang wali -- disamping Fath al-Rabbani dan Qasidah al-Ghautsiyah. Terlepas dari sifatnya yang nyata-nyata mistis, kumpulan berbagai wacana tentang masalah tasawuf ini, mudah dipahami.
Sayyid Abu Muhammad Abdul Qadir Jailani, lahir di Jilan, Persia pada 1077M, adalah seorang wali-sufi yang telah mencapai peringkat ghauts -- yang, dalam peristilahan tasawuf, hanya berada setingkat di bawah Nabi. Sebagai seorang mujahid pemelihara ruh Islam, ia adalah muhyiddin (pembangkit iman) yang berpengaruh atas sejarah Islam, hingga kini. tarekat Qadiriyah --salah satu tarekat yang paling popular di dunia Islam, termasuk di Indonesia-- berpangkal pada tokoh ini.

Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani
Risalah Kesatu
Ia bertutur:
Tiga hal mutlak bagi seorang Mukmin, dalam segala keadaan, yaitu: (1) harus menjaga perintah-perintah Allah, (2) harus menghindar dari segala yang haram, (3) harus ridha dengan takdir Yang Maha Kuasa.
Jadi seorang Mukmin, paling tidak, memiliki tiga hal ini. Berarti, ia harus memutuskan untuk ini, dan berbicara dengan diri sendiri tentang hal ini serta mengikat organ-organ tubuhnya dengan ini.

Risalah ke dua
Pertahankan Kebenaran-Nya dan jangan ragu sedikit pun. Bersabarlah selalu dan jangan menunjukkan ketidaksabaran. Beristiqomahlah; berharaplah kepada-Nya, jangan kesal, tetapi bersabarlah.
Bekerjasamalah dalam ketaatan dan jangan berpecah-belah. Saling mencintailah dan jangan saling mendendam. Jauhilah kejahatan dan jangan ternoda olehnya. Percantiklah dirimu dengan ketaatan kepada Tuhanmu; jangan menjauh dari pintu-pintu Tuhanmu; jangan berpaling dari-Nya. Segeralah bertaubat dan kembali kepada-Nya. Jangan merasa jemu dalam memohon ampunan kepada Khaliqmu, baik siang maupun malam; (jika kamu berlaku begini) niscaya rahmat dinampakkan kepadamu, maka kamu bahagia, terjauhkan dari api neraka dan hidup bahagia di surga, bertemu Allah, menikmati rahmat-Nya, bersama-sama bidadari di surga dan tinggal di dalamnya untuk selamanya; mengendarai kuda-kuda putih, bersuka ria dengan hurhur bermata putih dan aneka aroma, dan melodi-melodi hamba-hamba sahaya wanita, dengan karunia-karunia lainnya; termuliakan bersama para nabi, para shiddiq, para syahid, dan para shaleh di surga yang tinggi.

Risalah Ketiga
Ia bertutur: Apabila seorang hamba Allah mengalami kesulitan hidup, maka pertama-tama ia mencoba mengatasinya dengan upayanya sendiri. Bila gagal ia mencari pertolongan kepada sesamanya, khususnya kepada raja, penguasa, hartawan; atau bila dia sakit, kepada dokter. Bila hal ini pun gagal, maka ia berpaling kepada Khaliqnya, Tuhan Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa, dan berdo'a kepada-Nya dengan kerendah-hatian dan pujian. Bila ia mampu mengatasinya sendiri, maka ia takkan berpaling kepada sesamanya, demikian pula bila ia berhasil karena sesamanya, maka ia takkan berpaling kepada sang Khaliq.
Kemudian bila tak juga memperoleh pertolongan dari Allah, maka dipasrahkannya dirinya kepada Allah, dan terus demikian, mengemis, berdo'a merendah diri, memuji, memohon dengan harap-harap cemas. Namun, Allah Yang Maha Besar dan Maha Kuasa membiarkan ia letih dalam berdo'a dan tak mengabulkannya, hingga ia sedemikian terkecewakan terhadap segala sarana duniawi. Maka kehendak-Nya mewujud melaluinya, dan hamba Allah ini berlalu dari segala sarana duniawi, segala aktivitas dan upaya duniawi, dan bertumpu pada ruhaninya.
Pada peringkat ini, tiada terlihat olehnya, selain kehendak Allah Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa, dan sampailah dia tentang Keesaan Allah, pada peringkat haqqul yaqin (* tingkat keyakinan tertinggi yang diperoleh setelah menyaksikan dengan mata kepala dan mata hati). Bahwa pada hakikatnya, tiada yang melakukan segala sesuatu kecuali Allah; tak ada penggerak tak pula penghenti, selain Dia; tak ada kebaikan, kejahatan, tak pula kerugian dan keuntungan, tiada faedah, tiada memberi tiada pula menahan, tiada awal, tiada akhir, tak ada kehidupan dan kematian, tiada kemuliaandan kehinaan, tak ada kelimpahan dan kemiskinan, kecuali karena ALLAH.
Maka di hadapan Allah, ia bagai bayi di tangan perawat, bagai mayat dimandikan, dan bagai bola di tongkat pemain polo, berputar dan bergulir dari keadaan ke keadaan, dan ia merasa tak berdaya. Dengan demikian, ia lepas dari dirinya sendiri, dan melebur dalam kehendak Allah. Maka tak dilihatnya kecuali Tuhannya dan kehendak-Nya, tak didengar dan tak dipahaminya, kecuali Ia. Jika melihat sesuatu, maka sesuatu itu adalah kehendak-Nya; bila ia mendengar atau mengetahui sesuatu, maka ia mendengar firman-Nya, dan mengetahui lewat ilmu-Nya. Maka terkaruniailah dia dengan karunia-Nya, dan beruntung lewat kedekatan dengan-Nya, dan melalui kedekatan ini, ia menjadi mulia, ridha, bahagia, dan puas dengan janji-Nya, dan bertumpu pada firman-Nya. Ia merasa enggan dan menolak segala selain Allah, ia rindu dan senantiasa mengingat-Nya; makin mantaplah keyakinannya pada-Nya, Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa. Ia bertumpu pada-Nya, memperoleh petunjuk dari-Nya, berbusana nur ilmu-Nya, dan termuliakan oleh ilmu-Nya. Yang didengar dan diingatnya adalah dari-Nya. Maka segala syukur, puji, dan sembah tertuju kepada-Nya.

Risalah ke empat
Ia bertutur:
Bila kamu abaikan ciptaan, maka: "Semoga Allah merahmatimu," Allah melepaskanmu dari kedirian, "Semoga Allah merahmatimu," Ia mematikan kehendakmu; "Semoga Allah merahmatimu," maka Allah mendapatkanmu dalam kehidupan (baru).
Kini kau terkaruniai kehidupan abadi; diperkaya dengan kekayaan abadi; dikaruniai kemudahan dan kebahagiaan nan abadi, dirahmati,dilimpahi ilmu yang tak kenal kejahilan; dilindungi dari ketakutan; dimuliakan, hingga tak terhina lagi; senantiasa terdekatkan kepada Allah, senantiasa termuliakan; senantiasa tersucikan; maka menjadilah kau pemenuh segala harapan, dan ibaan pinta orang mewujud pada dirimu; hingga kau sedemikian termuliakan, unik, dan tiada tara; tersembunyi dan terahasiakan.
Maka, kau menjadi pengganti para Rasul, para Nabi dan para shiddiq. Kaulah puncak wilayat, dan para wali yang masih hidup akan mengerumunimu. Segala kesulitan terpecahkan melaluimu, dan sawah ladang terpaneni melalui do'amu; dan sirnalah melalui do'amu, segala petaka yang menimpa orang-orang di desa terpencil pun, para penguasa dan yang dikuasai, para pemimpin dan para pengikut, dan semua ciptaan. Dengan demikian kau menjadi agen polisi (kalau boleh disebut begitu) bagi kota-kota dan masyarakat.
Orang-orang bergegas-gegas mendatangimu, membawa bingkisan dan hadiah, dan mengabdi kepadamu, dalam segala kehidupan, dengan izin sang Pencipta segalanya. Lidah mereka senantiasa sibuk dengan doa dan syukur bagimu, di manapun mereka berada. Tiada dua orang Mukmin berselisih tentangmu. Duhai, yang terbaik di antara penghuni bumi, inilah rahmat Allah, dan Allahlah Pemilik segala rahmat.

Risalah kelima
Ia bertutur:
Bila kau melihat dunia ini, berada di tangan mereka, dengan segala hiasan, dan tipuannya, dengan segala bisa mematikannya, yang tampak lembut sentuhannya, padahal, sebenarnya mematikan bagi yang menyentuhnya, mengecoh mereka, dan membuat mereka mengabaikan kemudharatan tipu daya dan janji-janji palsunya - bila kau lihat semua ini - berlakulah bagai orang yang melihat seseorang menuruti nalurinya, menonjolkan diri, dan karenanya, mengeluarkan bau busuk. Bila (dalam situasi semacam itu) kau enggan memperhatikan kebusukannya, dan menutup hidung dari bau busuk itu, begitu pula kau berlaku terhadap dunia; bila kau melihatnya, palingkan penglihatanmu dari segala kepalsuan, dan tutuplah hidungmu dari kebusukan hawa nafsu, agar kau aman darinya dan segala tipu-dayanya, sedang bagianmu menghampirimu segera, dan kau menikmatinya. Allah telah berfirman kepada Nabi pilihan-Nya: "Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia, untuk Kami uji mereka dengannya, dan karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal." (QS.20 -Thaaha :131).

Risalah Keenam
Ia bertutur:
Lenyaplah dari (pandangan) manusia, dengan perintah Allah, dan dari kedirian, dengan perintah-Nya, hingga kau menjadi bahtera ilmu-Nya. Lenyapnya diri dari manusia, ditandai oleh pemutusan diri sepenuhnya dari mereka, dan pembebasan jiwa dari segala harapan mereka. Tanda lenyapnya diri dari segala nafsu ialah, membuang segala upaya memperoleh sarana-sarana duniawi dan berhubungan dengan mereka demi sesuatu manfaat, menghindarkan kemudharatan; dan tak bergerak demi kepentingan pribadi, dan tak bergantung pada diri sendiri dalam hal-hal yang berkenaan dengan dirimu, tak melindungi atau membantu diri, tetapi memasrahkan semuanya hanya kepada Allah, karena Ia pemilik segalanya sejak awal hingga akhirnya; sebagaimana kuasaNya, ketika kau masih disusui.
Hilangnya kemauanmu dengan kehendakNya, ditandai dengan katak-pernahan menentukan diri, ketakbertujuan, ketakbutuhan, karena tak satu tujuan pun termiliki, kecuali satu, yaitu Allah. Maka, kehendak Allah mewujud dalam dirimu, sehingga kala kehendakNya beraksi, maka pasiflah organ-organ tubuh, hati pun tenang, pikiran pun cerah, berserilah wajah dan ruhanimu, dan kau atasi kebutuhan-kebutuhan bendawi berkat berhubungan dengan Pencipta segalanya. Tangan Kekuasaan senantiasa menggerakkanmu, lidah Keabadian selalu menyeru namamu, Tuhan Semesta alam mengajarmu, dan membusanaimu dengan nurNya dan busana ruhani, dan mendapatkanmu sejajar dengan para ahli hikmah yang telah mendahuluimu.
Sesudah ini, kau selalu berhasil menaklukkan diri, hingga tiada lagi pada dirimu kedirian, bagai sebuah bejana yang hancur lebur, yang bersih dari air, atau larutan. Dan kau terjauhkan dari segala gerak manusiawi, hingga ruhanimu menolak segala sesuatu, kecuali kehendak Allah. Pada maqam ini, keajaiban dan adialami akan ternisbahkan kepadamu. Hal-hal ini tampak seolah-olah darimu, padahal sebenarnya dari Allah.
Maka kau diakui sebagai orang yang hatinya telah tertundukkan, dan kediriannya telah musnah, maka kau diilhami oleh kehendak Ilahi dan dambaan-dambaan baru dalam kemaujudan sehari-hari. Mengenai maqam ini, Nabi Suci saw, telah bersabda: "Tiga hal yang kusenangi dari dunia - wewangian, wanita dan shalat - yang pada mereka tersejukkan mataku." Sungguh, hal-hal dinisbahkan kepadanya, setelah hal-hal itu sirna darinya, sebagaimana telah kami isyaratkan. Allah berfirman: "Aku bersama orang-orang yang patah hati demi Aku."
Allah Yang Maha Tinggi takkan besertamu, sampai kedirianmu sirna. Dan bila kedirianmu telah sirna, dan kau abaikan segala sesuatu, kecuali Dia, maka Allah menyegarbugarkan kamu, dan memberimu kekuatan baru, yang dengan itu, kau berkehendak. Bila di dalam dirimu masih juga terdapat noda terkecil pun, maka Allah meremukkanmu lagi, hingga kau senantiasa patah-hati. Dengan cara begini Ia terus menciptakan kemauan baru di dalam dirimu, dan bila kedirian masih maujud, maka Dia hancurkan lagi, sampai akhir hayat dan bertemu (liqa) dengan Tuhan. Inilah makna firman Allah: " Aku bersama orang-orang yang putus asa demi Aku, " Dan makna kata: "Kedirian masih maujud" ialah kemasihkukuhan dan kemasih puasan dengan keinginan-keinginan barumu. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman kepada Nabi Suci saw: "Hamba-Ku yang beriman senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku, dengan mengerjakan shalat-shalat sunnah yang diutamakan, sehingga Aku mencintainya, dan apabila Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi telinganya, dengannya ia mendengar, dan menjadi matanya, dengannya ia melihat, dan menjadi tangannya, dengannya ia bekerja, dan menjadi kakinya, dengannya ia berjalan." Tak dir agukan lagi, beginilah keadaan fana.
Maka Dia menyelamatkanmu dari kejahatan makhluq-Nya, dan menenggelamkanmu ke dalam samudra kebaikanNya; sehingga kau menjadi pusat kebaikan, sumber rahmat, kebahagiaan, kenikmatan, kecerahan, kedamaian, dan kesentosaan. Maka fana (penafian diri) menjadi tujuan akhir, dan sekaigus dasar perjalanan para wali. Para wali terdahulu, dari berbagai maqam, senantiasa beralih, hingga akhir hayat mereka, dari kehendak pribadi kepada kehendak Allah. Karena itulah mereka disebut badal (sebuah kata yang diturunkan dari badala, yang berarti: berubah). Bagi pribadi-pribadi ini, menggabungkan kehendak pribadi dengan kehendak Allah, adalah suatu dosa.
Bila mereka lalai, terbawa oleh tipuan perasaan dan ketakutan, maka Allah Yang Maha Besar menolong mereka dengan kasih sayangNya, dengan mengingatkan mereka sehingga mereka sadar dan berlindung kepada Tuhan, karena tak satu pun mutlak bersih dari dosa kehendak, kecuali para malaikat. Para malaikat senantiasa suci dalam kehendak, para Nabi senantiasa terbebas dari kedirian, sedang para jin dan manusia yang dibebani pertanggung jawaban moral, tak terlindungi. Tentu, para wali terlindung dari kedirian, dan para badal dari kekotoran kehendak. Kendati mereka tak bisa dianggap terbebas dari dua keburukan ini, karena mungkin bagi mereka berkecenderung kepada dua kelemahan ini, tapi Allah melimpahi rahmatNya dan menyadarkan mereka.

Risalah Ketujuh
Ia bertutur:
Keluarlah dari kedirian, jauhilah dia, dan pasarahkanlah segala sesuatu kepada Allah, jadilah penjaga pintu hatimu, patuhilah senantiasa perintah-perintah-Nya, hormatilah larangan-larangan-Nya, dengan menjauhkan segala yang diharamkan-Nya. Jangan biarkan kedirianmu masuk ke dalam hatimu, setelah keterbuanganmu. Mengusir kedirian dari hati, haruslah disertai pertahanan terhadapnya, dan menolak pematuhan kepadanya dalam segala keadaan. Mengizinkan ia masuk ke dalam hati, berarti rela mengabdi kepadanya, dan berintim dengannya. Maka, jangan menghendaki segala yang bukan kehendak Allah. Segala kehendak yang bukan kehendak Allah, adalah kedirian, yang adalah rimba kejahilan, dan hal itu membinasakanmu, dan penyebab keterasingan dari-Nya. Karena itu, jagalah perintah Allah, jauhilah larangan-Nya, berpasrahlah selalu kepada-Nya dalam segala yang telah ditetapkan-Nya, dan jangan sekutukan Dia dengan sesuatu pun. Jangan berkehendak diri, agar tak tergolong orang-orang musyrik. Allah berfirman: "Barang siapa mengharap penjumpaan (liqa) dengan Tuhannya, maka hendaklah mengerjakan amal saleh dan tidak menyekutukanNya." (QS 18.Al Kahfi: 110)
Kesyirikan tak hanya penyembahan berhala. Pemanjaan nafsu jasmani, dan menyamakan segala yang ada di dunia dan akhirat dengan Allah, juga syirik. Sebab selain Allah adalah bukan Tuhan. Bila kau tenggelamkan dalam sesuatu selain Allah berarti kau menyekutukan-Nya. Oleh sebab itu, waspadalah, jangan terlena. Maka dengan menyendiri, akan diperoleh keamanan. Jangan menganggap dan mengklaim segala kemaujudan atau maqam-mu, berkat kau sendiri. Maka, bila kau berkedudukan, atau dalam keadaan tertentu, jangan membicarakan hal itu kepada orang lain. Sebab dalam perubahan nasib yang terjadi dari hari ke hari, keagungan Allah mewujud, dan Allah mengantarai hamba-hambaNya dan hati-hati mereka. Bisa-bisa yang kau percakapkan, sirna darimu, dan yang kau anggap abadi, berubah, hingga kau termalukan di hadapan yang kau ajak bicara. Simpanlah pengetahuan ini dalam lubuk hatimu, dan jangan perbincangkakn dengan orang lain. Maka jika hal itu terus maujud, maka hal itu akan membawa kemajuan dalam pengetahuan, nur, kesadaran dan pandangan. Allah berfirman: "Segala yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan terlupakan, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya, atau yang sepertinya. Tidakkah kamu ketahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS 2.Al Baqarah: 106)
Jangan menganggap Allah tak berdaya dalam sesuatu hal, jangan menganggap ketetan-Nya tak sempurna, dan jangan sedikit pun ragu akan janji-Nya. Dalam hal ini ada sebuah contoh luhur dalam Nabi Allah. Ayat-ayat dan surah-surah yang diturunkan kepadanya, dan yang dipraktekkan, dikumandangkan di masjid-masjid, dan termaktub di dalam kitab-kitab. Mengenai hikmah dan keadaan ruhani yang dimilikinya, ia sering mengatakan bahwa hatinya sering tertutup awan, dan ia berlindung kepada Allah tujuh puluh kali sehari. Diriwayatkan pula, bahwa dalam sehari ia dibawa dari satu hal ke hal lain sebanyak seratus kali, sampai ia berada pada maqam tertinggi dalam kedekatan dengan Allah. Ia diperintahkan untuk meminta perlindungan kepada Allah, karena sebaik-baik seorang hamba yaitu berlindung dan berpaling kepada Allah. Karena, dengan begini, ada pengakuan akan dosa dan kesalahannya, dan inilah dua macam mutu yang terdapat pada seorang hamba, dalam segala keadaan kehidupan, dan yang dimilikinya sebagai pusaka dari Adam as., 'bapak' manusia, dan pilihan Allah.
Berkatalah Adam a.s.: "Wahai Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tak mengampuni kami, dan merahmati kami, niscaya kami akan termasuk orang-orang yang merugi." (QS. 7.Al-A'raaf: 23). Maka turunlah kepadanya cahaya petunjuk dan pengetahuan tentang taubat, akibat dan tentang hikmah di balik peristiwa ini, yang takkan terungkap tanpa ini; lalu Allah berpaling kepada mereka dengan penuh kasih sayang, sehingga mereka bisa bertaubat.
Dan Allah mengembalikannya ke hal semua, dan beradalah ia pada peringkat wilayat yang lebih tinggi, dan ia dikaruniai maqam di dunia dan akhirat. Maka menjadilah dunia ini tempat kehidupannya dan keturunannya, sedang akhirat sebagai tempat kembali dan tempat peristirahatan abadi mereka. Maka, ikutilah Nabi Muhammad Saw., kekasih dan pilihan Allah, dan nenek moyangnya, Adam, pilihan-Nya - keduanya adalah kekasih Allah - dalam hal mengakui kesalahan dan berlindung kepada-Nya dari dosa-dosa, dan dalam hal bertawadhu' dalam segala keadaan kehidupan.