Tampilkan postingan dengan label SURVEI POLITIK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SURVEI POLITIK. Tampilkan semua postingan
Kamis, 03 April 2014
Tingkat Partisipasi Pemilih Jatim Diperkirakan Hanya 65 Persen
Selasa, 1 April 2014 04:37 WIB
Tribun Manado/Robertus Rimawan
ilustrasi
TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA - Tingkat partisipasi pemilih pada coblosan Pileg 9 April 2014 nanti diperkirakan rendah. Setidaknya, ini dari hasil survei Surabaya Survey Centre (SSC), di mana tingkat partispasi pemilih pada pileg di Jatim nanti hanya sekitar 65 persen.
Direktur SSC, Mochtar W Oetomo menguraikan, tingkat partisipasi pemilih di Jatim pada Pileg 2009 mencapai 73 persen, atau hanya 27 persen pemilih saja yang tak mencoblos. Namun data itu diperkirakan akan berubah drastis pada Pileg ini.
"Dari hasil survei kami sampai pada Februari, tingkat partisipasi Pileg 2014 hanya 65 persen saja. Dengan begitu, pemilih yang tak mau menggunakan hak pilihnya cukup tinggi, yakni sekitar 35 persen,” paparnya, Senin (31/3/2014).
Dijelaskan, dari data yang ada, 35 persen pemilih yang tak menggunakan hak pilih itu ternyata didominasi oleh para pemilih pemula. "Ini karena minimnya pengetahuan pemilih pemula, soal teknis pelaksanaan pemilu," ujarnya.
Sedangkan pemilih dewasa, dia melihat lebih memiliki pengetahuan sehingga pro aktif mendatangi TPS pada saat pencoblosan. Dia juga menilai, sosialisasi yang dilakukan penyelenggara maupun peserta pemilu tak efektif kepada pemilih pemula.
Tak hanya itu, sosialisasi saat ini lebih mengedepankan model pencitraan yang mengutamakan simbol, slogan maupun tagline. “Seharusnya, sosialisasi kepada pemilih pemula lebih komprehensif,” tuturnya.
Terkait perolehan suara parpol di Jatim, dia memperkirakan peringkat pertama masih diduduki oleh PDIP. Hingga Februari lalu, perolehan suara PDIP ada di kisaran 18-19 persen.
Lalu posisi kedua adalah PKB dengan kisaran 14 persen. Sedangkan posisi ketiga masih berimbang antara Partai Gerindra dan Partai Golkar. “Peringkat ketiga menjadi perebutan dua partai itu, kisarannya 10-13 persen,” urainya.
Dia memprediksikan, sampai Maret ini perolehan suara PDIP bisa meningkat sampai 23-25 persen. Ini karena figur Joko Widodo yang diberi mandat sebagai calon presiden dari PDIP. “Sedangkan untuk PKB bisa sampai 17 persen,” pungkasnya.
http://www.tribunnews.com/regional/2014/04/01/tingkat-partisipasi-pemilih-jatim-diperkirakan-hanya-65-persen
Awas, Golput di Jatim Tinggi
| Selasa, 1 April 2014 | 04:12 WIB http://www.surabayapagi.com/index.php?read=Awas,-Golput-di-Jatim-Tinggi;3b1ca0a43b79bdfd9f9305b81298296289e4c087d46ab9932ee5db524903f2e5 | ||
Laporan : Riku Abdiono – Amal Insani
SURABAYA (Surabaya Pagi) – Ini peringatan bagi Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara Pemilu Legislatif (Pileg) 9 April nanti. Tingginya angka golput pada pemungutan suara di luar negeri yang digelar sejak 30 Maret, bisa menular ke Jawa Timur (Jatim) maupun daerah-daerah lainnya. Ironisnya, berdasarkan survei terbaru di Jatim, mereka yang Golput justru dari pemilih pemula. Dari total Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu 2014 di Jatim sejumlah 30.545.935 orang, angka Golput diprediksi di atas 35%. Selain tak percaya lagi pada janji-janji politikus atau calon anggota legislatif (Caleg), mereka juga minim pengetahuan soal teknis pelaksanaan Pemilu. Sementara berkaca dari Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim 2013 lalu, angka Golput di kisaran 40%. Sedang Golput pada Pemilu 2009 sekitar 30%.
Direktur Surabaya Survey Centre (SSC) Mochtar W Oetomo mengatakan tingkat partisipasi pemilih di Jatim lebih jelek dar ipada Pileg 2009 mencapai 73%, dan hanya 27% pemilih saja yang tidak menggunakan hak pilihnya. Tingkat partisipasi pemilih pada Pileg 2014 diprediksi rendah. Berdasarkan survei dari SSC, tingkat Golput alias tidak memberikan pilihan diprediksi diatas 35% dari total DPT Pemilu 2014 di Jatim sebanyak 30.545.935 orang.
“Menurut survei kami sampai Februari 2014, tingkat partisipasi Pileg 2014 ini rendah, paling tinggi nanti hanya 65% saja. Yang tidak menggunakan hak pilihnya lumayan tinggi, sekitar 35% lebih,” ujar Mochtar, Senin (31/3/2014).
Menurut dia, persentase 35% yang tak menggunakan hak pilih didominasi oleh para pemilih pemula. Penyebab utamanya adalah minimnya pengetahuan pemilih pemula soal teknis pelaksanaan pemilu. Selain beberapa diantaranya sudah apatis terhadap pemilu yang dianggap membosankan. Sebab sebelum ada pemilu, ada pilgub dan pilkada di berbagai daerah.
Mereka yang datang ke tempat pemungutan suara (TPS) nanti diperkirakan adalah, pemilih dewasa dinilainya lebih memiliki pengetahuan sehingga aktif saat pencoblosan. Kemudian, pemilih yang sudah kenal dengan caleg atau partai politik pilihannya. Mochtar menilai, sosialisasi yang dilakukan penyelenggara maupun peserta pemilu tak efektif kepada pemilih pemula. Apalagi, kata dia, sosialisasi saat ini lebih mengedepankan pencitraan yang mengutamakan simbol, slogan maupun tagline. “Padahal, sosialisasi kepada pemilih pemula harusnya lebih komprehensif,” jelasnya.
Hal senada diungkapkan Agus M. Fauzi, konsultan politik & SDM Bangun Indonesia. Menurutnya, Golput di Jatim ada kemungkinan meningkat. Minimnya sosialisasi yang dilakukan KPU dan parpol membaawa dampak yang signifikan. “Sebab yang mereka laksanakan hanya sosialisasi pencoblosan saja,” terang Agus dihubungi terpisah, kemarin.
Jika belajar dari pengalaman Pemilu 2009 dan Pilgub tahun 2013, lanjut Agus, pemilih yang tidak hadir ke TPS masih sangat tinggi. “Tahun 2009 angka Golput 30-an persen, sedangkan Pemilukada Jatim 2013 di kisaran 40 persen. Lebih bagus dibanding Pemilukada 2008 yang mencapai 55 persen,” papar Agus.
Agus menegaskan minimnya angka partisipasi pemilih ke TPS akibat KPU maupun Parpol sendiri. Selain sosialisasi yang kurang, KPU selaku penyelenggara pemilu kurang dalam menyediakan fasilitas khusus bagi mereka yang sedang sakit, penyandang cacat, mahasiswa dari luar daerah dan mereka yang sedang melakukan perjalanan. “Misalnya di bandara, terminal, kampus tidak ada TPS-nya. Begitu juga bagi kaum difabel dan tuna netra, harusnya ada TPS khusus. Seandainya itu semua terpenuhi, bisa meminimalisir angka golput,” jelas Agus.
Hananto Widodo, pengamat politik dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menambahkan, angka golput pada Pemilu 2014 ini tak jauh beda dari Pemilu-Pemilu sebelumnya. “Hasil pengamatan dari tahun ke tahun tidak jauh berbeda. Saya kira kenaikan angka golput tidak tinggi-tinggi banget. Kisarannya sama tahun-tahun lalu, 30-40 persen,” prediksi Hananto.
Menurutnya, angka golput tidak akan tinggi karena calon yang akan memimpin negeri ini merupakan dambaan masyarakat. Misalnya ada sosok Jokowi yang di mata masyarakat mempunyai citra bagus. “Ini hanya satu faktor. Masih ada faktor lain yang sifatnya teknis. Ini yang menjadi tanggung jawab KPU,” tutur Hananto.
Sementara itu, ribuan mahasiswa di Jatim juga terancam tidak memilih alias golput di Pemilu 2014 ini. Pasalnya, para mahasiswa itu berasal dari luar daerah sehingga tidak bisa memberikan hak pilih di kampus setempat. Pasalnya, tidak ada kejelasan TPS di kampus. "Kami pernah mengajukan TPS di dalam kampus. Ternyata ditolak,” kata Koordinator BEM SI Jawa Timur Muklish.
Dia mencontohkan, sejumlah PTN yang mahasiswanya berasal dari luar daerah seperti ITS terdapat sekira 5.000 mahasiswa yang berasal dari luar daerah. Sementara di Unibraw, sekitar 60 persen mahasiswanya dari luar daerah. Kemudian UTM 70 persen dan Unair ada sekira 15 ribu mahasiswa dari luar daerah.
KPU Membela Diri
Terpisah, Ketua KPU Jatim Eko Sasmito membantah pihaknya kurang sosialisasi ke masyarakat. Komisioner yang belum sebulan menjabat ini mengaku sudah maksimal melakukan sosialisasi kepada pemilih usia muda. Mulai dari tingkatan KPU, PPK, PPS, sampai KPPS juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat. “Ukuran sosialisasi maksimal itu seperti apa? Semua sudah kami lakukan, bisa dilihat di berbagai media massa, media sosial, bahkan peserta pemilu juga melakukan sosialisasi,” sergahnya dengan nada tinggi.
Menurut Eko, kalaupun dianggap kurang maksimal, seluruh elemen masyarakat termasuk kalangan perguruan tinggi juga sebenarnya ikut bertanggungjawab. Karena itu, Eko mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menyukseskan pileg 2014. “Tingkat sosialisasi kita sudah sampai ke desa-desa, kami rasa itu sudah maksimal,” ujarnya.
Meski begitu, jauh-jauh hari Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika, Suprawoto mengatakan, pihaknya mengkawatirkan pemilih pemula dalam partisipasinya pada Pemilu April 2014 mendatang. Sebanyak 52 juta pemilih pemula masuk dalam kategori pemilih awam. Sehingga angka Golput dalam Pemilu ini diprediksi meningkat. "Jumlah itu sangat besar dan potensial. Jangan sampai mereka apatis dan Golput," ujar Supranoto awal Maret lalu.
Menurut Suprawoto, jutaan pemilih pemula terdiri dari anak-anak berusia 17 tahun ke atas, kaum difabel, masyarakat marginal dan pensiunan TNI. Sejak Pemilu 1999, Suprawoto menegaskan, angka golput dalam setiap pemilu mengalami kenaikan yang signifikan.
Jika jumlahnya terus naik, dikhawatirkan angggota legislatif yang duduk di parlemen bukan orang yang dipilih rakyat. "Diantara para calon anggota legislatif masih ada 90 persen nama orang-orang lama," ungkapnya.
SURABAYA (Surabaya Pagi) – Ini peringatan bagi Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara Pemilu Legislatif (Pileg) 9 April nanti. Tingginya angka golput pada pemungutan suara di luar negeri yang digelar sejak 30 Maret, bisa menular ke Jawa Timur (Jatim) maupun daerah-daerah lainnya. Ironisnya, berdasarkan survei terbaru di Jatim, mereka yang Golput justru dari pemilih pemula. Dari total Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu 2014 di Jatim sejumlah 30.545.935 orang, angka Golput diprediksi di atas 35%. Selain tak percaya lagi pada janji-janji politikus atau calon anggota legislatif (Caleg), mereka juga minim pengetahuan soal teknis pelaksanaan Pemilu. Sementara berkaca dari Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim 2013 lalu, angka Golput di kisaran 40%. Sedang Golput pada Pemilu 2009 sekitar 30%.
Direktur Surabaya Survey Centre (SSC) Mochtar W Oetomo mengatakan tingkat partisipasi pemilih di Jatim lebih jelek dar ipada Pileg 2009 mencapai 73%, dan hanya 27% pemilih saja yang tidak menggunakan hak pilihnya. Tingkat partisipasi pemilih pada Pileg 2014 diprediksi rendah. Berdasarkan survei dari SSC, tingkat Golput alias tidak memberikan pilihan diprediksi diatas 35% dari total DPT Pemilu 2014 di Jatim sebanyak 30.545.935 orang.
“Menurut survei kami sampai Februari 2014, tingkat partisipasi Pileg 2014 ini rendah, paling tinggi nanti hanya 65% saja. Yang tidak menggunakan hak pilihnya lumayan tinggi, sekitar 35% lebih,” ujar Mochtar, Senin (31/3/2014).
Menurut dia, persentase 35% yang tak menggunakan hak pilih didominasi oleh para pemilih pemula. Penyebab utamanya adalah minimnya pengetahuan pemilih pemula soal teknis pelaksanaan pemilu. Selain beberapa diantaranya sudah apatis terhadap pemilu yang dianggap membosankan. Sebab sebelum ada pemilu, ada pilgub dan pilkada di berbagai daerah.
Mereka yang datang ke tempat pemungutan suara (TPS) nanti diperkirakan adalah, pemilih dewasa dinilainya lebih memiliki pengetahuan sehingga aktif saat pencoblosan. Kemudian, pemilih yang sudah kenal dengan caleg atau partai politik pilihannya. Mochtar menilai, sosialisasi yang dilakukan penyelenggara maupun peserta pemilu tak efektif kepada pemilih pemula. Apalagi, kata dia, sosialisasi saat ini lebih mengedepankan pencitraan yang mengutamakan simbol, slogan maupun tagline. “Padahal, sosialisasi kepada pemilih pemula harusnya lebih komprehensif,” jelasnya.
Hal senada diungkapkan Agus M. Fauzi, konsultan politik & SDM Bangun Indonesia. Menurutnya, Golput di Jatim ada kemungkinan meningkat. Minimnya sosialisasi yang dilakukan KPU dan parpol membaawa dampak yang signifikan. “Sebab yang mereka laksanakan hanya sosialisasi pencoblosan saja,” terang Agus dihubungi terpisah, kemarin.
Jika belajar dari pengalaman Pemilu 2009 dan Pilgub tahun 2013, lanjut Agus, pemilih yang tidak hadir ke TPS masih sangat tinggi. “Tahun 2009 angka Golput 30-an persen, sedangkan Pemilukada Jatim 2013 di kisaran 40 persen. Lebih bagus dibanding Pemilukada 2008 yang mencapai 55 persen,” papar Agus.
Agus menegaskan minimnya angka partisipasi pemilih ke TPS akibat KPU maupun Parpol sendiri. Selain sosialisasi yang kurang, KPU selaku penyelenggara pemilu kurang dalam menyediakan fasilitas khusus bagi mereka yang sedang sakit, penyandang cacat, mahasiswa dari luar daerah dan mereka yang sedang melakukan perjalanan. “Misalnya di bandara, terminal, kampus tidak ada TPS-nya. Begitu juga bagi kaum difabel dan tuna netra, harusnya ada TPS khusus. Seandainya itu semua terpenuhi, bisa meminimalisir angka golput,” jelas Agus.
Hananto Widodo, pengamat politik dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menambahkan, angka golput pada Pemilu 2014 ini tak jauh beda dari Pemilu-Pemilu sebelumnya. “Hasil pengamatan dari tahun ke tahun tidak jauh berbeda. Saya kira kenaikan angka golput tidak tinggi-tinggi banget. Kisarannya sama tahun-tahun lalu, 30-40 persen,” prediksi Hananto.
Menurutnya, angka golput tidak akan tinggi karena calon yang akan memimpin negeri ini merupakan dambaan masyarakat. Misalnya ada sosok Jokowi yang di mata masyarakat mempunyai citra bagus. “Ini hanya satu faktor. Masih ada faktor lain yang sifatnya teknis. Ini yang menjadi tanggung jawab KPU,” tutur Hananto.
Sementara itu, ribuan mahasiswa di Jatim juga terancam tidak memilih alias golput di Pemilu 2014 ini. Pasalnya, para mahasiswa itu berasal dari luar daerah sehingga tidak bisa memberikan hak pilih di kampus setempat. Pasalnya, tidak ada kejelasan TPS di kampus. "Kami pernah mengajukan TPS di dalam kampus. Ternyata ditolak,” kata Koordinator BEM SI Jawa Timur Muklish.
Dia mencontohkan, sejumlah PTN yang mahasiswanya berasal dari luar daerah seperti ITS terdapat sekira 5.000 mahasiswa yang berasal dari luar daerah. Sementara di Unibraw, sekitar 60 persen mahasiswanya dari luar daerah. Kemudian UTM 70 persen dan Unair ada sekira 15 ribu mahasiswa dari luar daerah.
KPU Membela Diri
Terpisah, Ketua KPU Jatim Eko Sasmito membantah pihaknya kurang sosialisasi ke masyarakat. Komisioner yang belum sebulan menjabat ini mengaku sudah maksimal melakukan sosialisasi kepada pemilih usia muda. Mulai dari tingkatan KPU, PPK, PPS, sampai KPPS juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat. “Ukuran sosialisasi maksimal itu seperti apa? Semua sudah kami lakukan, bisa dilihat di berbagai media massa, media sosial, bahkan peserta pemilu juga melakukan sosialisasi,” sergahnya dengan nada tinggi.
Menurut Eko, kalaupun dianggap kurang maksimal, seluruh elemen masyarakat termasuk kalangan perguruan tinggi juga sebenarnya ikut bertanggungjawab. Karena itu, Eko mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menyukseskan pileg 2014. “Tingkat sosialisasi kita sudah sampai ke desa-desa, kami rasa itu sudah maksimal,” ujarnya.
Meski begitu, jauh-jauh hari Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika, Suprawoto mengatakan, pihaknya mengkawatirkan pemilih pemula dalam partisipasinya pada Pemilu April 2014 mendatang. Sebanyak 52 juta pemilih pemula masuk dalam kategori pemilih awam. Sehingga angka Golput dalam Pemilu ini diprediksi meningkat. "Jumlah itu sangat besar dan potensial. Jangan sampai mereka apatis dan Golput," ujar Supranoto awal Maret lalu.
Menurut Suprawoto, jutaan pemilih pemula terdiri dari anak-anak berusia 17 tahun ke atas, kaum difabel, masyarakat marginal dan pensiunan TNI. Sejak Pemilu 1999, Suprawoto menegaskan, angka golput dalam setiap pemilu mengalami kenaikan yang signifikan.
Jika jumlahnya terus naik, dikhawatirkan angggota legislatif yang duduk di parlemen bukan orang yang dipilih rakyat. "Diantara para calon anggota legislatif masih ada 90 persen nama orang-orang lama," ungkapnya.
Akibat tak Ada Uang Transport
Banyak pihak yang menilai Golput itu juga sikap politik. Hanya saja, selama ini yang terjadi Golput cukup tinggi di Pemilu-Pemilu sebelumnya, lantaran sikap apatis dari masyarakat yang tak menggunakan hak pilihnya. Mereka tidak mencoblos di Tempat Pemungutan Suara (TPS), yang membuat partisipasi pemilih dalam pelaksanaan Pemilu tidak sesuai harapan. Apakah kondisi sama juga terjadi pada Pemilu 2014 nanti?
Golput pada gelaran Pemilu 9 April 2014 nanti, pasti ada. Namun apakah angkanya akan naik atau menurun dari jumlah Golput Pemilu sebelumnya? Jawabannya bisa meningkat, bisa juga menurun. Jika sosialisasi calon anggota legislative (Caleg) benar-benar turun ke bawah, bisa jadi angka Golput akan mengalami penurunan. Saya milhat caleg-caleg dari berbagai parpol turun blusukan mensosialisasikan diri hingga ke desa-desa. Mereka tentu ingin dipilih agar bisa menjadi anggota legislatif (DPRD). Hal ini sedikit membantu meminimalisir angka Golput.
Hanya saja, krisis kepercayaan terhadap para Caleg ini juga kuat di masyarakat. Adanya konstituen yang pernah dikibuli caleg, tentu gairah untuk memilih menjadi berkurang. Dampak yang terjadi, mereka bersikap Golput alias tidak memilih. Namun menurut saya, kalau pun terjadi peningkatan angkat Golput, tidak begitu besar. Saya memprediksi naik di kisaran 5% dari Pemilu sebelumnya. Kalau golput masih tinggi dalam Pemilu 2014, berarti parpol gagal menjalin komunikasi politik dengan masyarakat.
Sebenarnya, hal ini bisa diantisipasi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara Pemilu. Misalnya, ada anggaran khusus dari KPU untuk transportasi pemilih. Menurut saya, ini akan menekan angka Golput. Sejauh ini, tidak ada inisiatif dari KPU mengenai uang transport untuk calon pemilih. Yang ada justru dari para caleg dengan berbagai alasan, agar dirinya bisa dipilih pada coblosan 9 April mendatang.
Banyak pihak yang menilai Golput itu juga sikap politik. Hanya saja, selama ini yang terjadi Golput cukup tinggi di Pemilu-Pemilu sebelumnya, lantaran sikap apatis dari masyarakat yang tak menggunakan hak pilihnya. Mereka tidak mencoblos di Tempat Pemungutan Suara (TPS), yang membuat partisipasi pemilih dalam pelaksanaan Pemilu tidak sesuai harapan. Apakah kondisi sama juga terjadi pada Pemilu 2014 nanti?
Golput pada gelaran Pemilu 9 April 2014 nanti, pasti ada. Namun apakah angkanya akan naik atau menurun dari jumlah Golput Pemilu sebelumnya? Jawabannya bisa meningkat, bisa juga menurun. Jika sosialisasi calon anggota legislative (Caleg) benar-benar turun ke bawah, bisa jadi angka Golput akan mengalami penurunan. Saya milhat caleg-caleg dari berbagai parpol turun blusukan mensosialisasikan diri hingga ke desa-desa. Mereka tentu ingin dipilih agar bisa menjadi anggota legislatif (DPRD). Hal ini sedikit membantu meminimalisir angka Golput.
Hanya saja, krisis kepercayaan terhadap para Caleg ini juga kuat di masyarakat. Adanya konstituen yang pernah dikibuli caleg, tentu gairah untuk memilih menjadi berkurang. Dampak yang terjadi, mereka bersikap Golput alias tidak memilih. Namun menurut saya, kalau pun terjadi peningkatan angkat Golput, tidak begitu besar. Saya memprediksi naik di kisaran 5% dari Pemilu sebelumnya. Kalau golput masih tinggi dalam Pemilu 2014, berarti parpol gagal menjalin komunikasi politik dengan masyarakat.
Sebenarnya, hal ini bisa diantisipasi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara Pemilu. Misalnya, ada anggaran khusus dari KPU untuk transportasi pemilih. Menurut saya, ini akan menekan angka Golput. Sejauh ini, tidak ada inisiatif dari KPU mengenai uang transport untuk calon pemilih. Yang ada justru dari para caleg dengan berbagai alasan, agar dirinya bisa dipilih pada coblosan 9 April mendatang.
Jumat, 21 Desember 2012
SCC: Pilkada Semakin tidak Menarik
Antara/20 Des 2012 07:43:46| Politik | Penulis : Edy M Yakub
Surabaya - Direktur "Surabaya Survey Centre" (SSC) Mochtar W Oetomo
menegaskan bahwa hasil survei yang dilakukannya menunjukkan bahwa
pemilihan kepala daerah (pilkada) dari waktu ke waktu semakin tidak
menarik bagi publik.
"Buktinya, tingkat partisipasi pemilih di berbagai pilkada semakin hari cenderung semakin menurun. Paling mutakhir adalah kecilnya tingkat partisipasi pemilih di Sampang, Bangkalan dan Nganjuk pada Pilkada 12-12-12," katanya di Surabaya, Kamis.
Berdasarkan hasil riset SSC, tingkat partisipasi pemilih pada pilkada pada ketiga kabupaten itu sangat memprihatinkan. Paling parah adalah partisipasi pemilih di Pilkada Kabupaten Bangkalan yang hanya mencapai angka 58,50 persen.
"Artinya, angka golput atau melakukan kesalahan teknis dalam pemilihan itu mencapai 41,50 persen di Bangkalan, lalu dalam Pilkada Kabupaten Nganjuk dengan partisipasi pemilih hanya 60 persen dan hanya Pilkada Kabupaten Sampang yang partisipasi pemilihnya lumayan besar, yakni 75 persen," katanya.
Dalam pilkada itu, Pilkada Kabupaten Sampang dimenangkan pasangan Al Falah (Fannan Hasib-Fadillah Budiono), Pilkada Bangkalan dimenangkan oleh pasangan Makmur (Ra Momon-Ra Mondir), dan Pilkada kabupaten Nganjuk dimenangkan oleh pasangan Taqwa.
Menurut Mochtar W Oetomo, rendahnya angka partisipasi pemilih dalam pilkada itu merupakan sebuah ironi demokrasi, karena tegaknya demokrasi dalam sebuah negara juga amat ditentukan oleh tingkat partisipasi publik dalam pemilihan umum.
"Rendahnya partisipasi pemilih ini sekaligus menunjukkan kegagalan proses-proses agregrasi, rekruitment, artikulasi, konsolidasi dan mobilisasi politik yang menjadi tanggung jawab partai politik," kata dosen Komunikasi Politik Universitas Trunojoyo Madura (UTM) itu.
Alumni Universiti Sains Malaysia itu menyatakan rendahnya partisipasi pemilih di berbagai pilkada menunjukkan bahwa pilkada tidak lagi menjadi momentum yang menarik dan menggairahkan bagi publik seperti beberapa tahun sebelunya.
"Itu disebabkan banyak hal, di antaranya adalah tidak menariknya kandidat-kandidat yang bertarung dalam pilkada. Publik merasa jenuh dan bosan dengan kontestasi para kandidat yang dari pilkada satu ke pilkada berikutnya hanya diisi dan didominasi oleh sosok itu-itu saja," katanya.
Realitas tersebut menunjukkan bahwa partai politik gagal dalam melakukan proses kaderisasi, terbukti tidak mampu menyediakan kandidat yang diusung sebagai "magnet" yang mampu menarik publik untuk datang ke bilik suara.
"Jadi, parpol telah gagal, apalagi tidak menariknya kandidat yang layak dipilih oleh publik tersebut kadang diperparah dengan perilaku para kandidat yang umumnya tidak siap kalah itu dengan menghalalkan segala cara untuk menang melalui black campaign hingga money politics," katanya.
Ia menambahkan tanpa adanya evaluasi mendasar yang dilakukan parpol akan menurunkan gairah publik untuk berpartisipasi, karena tidak ada kandidat yang istimewa, tidak ada debat dan tawaran program yang menarik dan berhubungan langsung dengan kebutuhan dan kepentingan publik/pemilih.
"Perlu diingat, fenomena menurunnya peminat pilkada itu tidak hanya di Jatim, namun di provinsi lain juga ada kecenderungan itu. Kalau tokoh saja sudah tidak dipercaya, maka masyarakat percaya kepada siapa lagi," katanya. (*)
"Buktinya, tingkat partisipasi pemilih di berbagai pilkada semakin hari cenderung semakin menurun. Paling mutakhir adalah kecilnya tingkat partisipasi pemilih di Sampang, Bangkalan dan Nganjuk pada Pilkada 12-12-12," katanya di Surabaya, Kamis.
Berdasarkan hasil riset SSC, tingkat partisipasi pemilih pada pilkada pada ketiga kabupaten itu sangat memprihatinkan. Paling parah adalah partisipasi pemilih di Pilkada Kabupaten Bangkalan yang hanya mencapai angka 58,50 persen.
"Artinya, angka golput atau melakukan kesalahan teknis dalam pemilihan itu mencapai 41,50 persen di Bangkalan, lalu dalam Pilkada Kabupaten Nganjuk dengan partisipasi pemilih hanya 60 persen dan hanya Pilkada Kabupaten Sampang yang partisipasi pemilihnya lumayan besar, yakni 75 persen," katanya.
Dalam pilkada itu, Pilkada Kabupaten Sampang dimenangkan pasangan Al Falah (Fannan Hasib-Fadillah Budiono), Pilkada Bangkalan dimenangkan oleh pasangan Makmur (Ra Momon-Ra Mondir), dan Pilkada kabupaten Nganjuk dimenangkan oleh pasangan Taqwa.
Menurut Mochtar W Oetomo, rendahnya angka partisipasi pemilih dalam pilkada itu merupakan sebuah ironi demokrasi, karena tegaknya demokrasi dalam sebuah negara juga amat ditentukan oleh tingkat partisipasi publik dalam pemilihan umum.
"Rendahnya partisipasi pemilih ini sekaligus menunjukkan kegagalan proses-proses agregrasi, rekruitment, artikulasi, konsolidasi dan mobilisasi politik yang menjadi tanggung jawab partai politik," kata dosen Komunikasi Politik Universitas Trunojoyo Madura (UTM) itu.
Alumni Universiti Sains Malaysia itu menyatakan rendahnya partisipasi pemilih di berbagai pilkada menunjukkan bahwa pilkada tidak lagi menjadi momentum yang menarik dan menggairahkan bagi publik seperti beberapa tahun sebelunya.
"Itu disebabkan banyak hal, di antaranya adalah tidak menariknya kandidat-kandidat yang bertarung dalam pilkada. Publik merasa jenuh dan bosan dengan kontestasi para kandidat yang dari pilkada satu ke pilkada berikutnya hanya diisi dan didominasi oleh sosok itu-itu saja," katanya.
Realitas tersebut menunjukkan bahwa partai politik gagal dalam melakukan proses kaderisasi, terbukti tidak mampu menyediakan kandidat yang diusung sebagai "magnet" yang mampu menarik publik untuk datang ke bilik suara.
"Jadi, parpol telah gagal, apalagi tidak menariknya kandidat yang layak dipilih oleh publik tersebut kadang diperparah dengan perilaku para kandidat yang umumnya tidak siap kalah itu dengan menghalalkan segala cara untuk menang melalui black campaign hingga money politics," katanya.
Ia menambahkan tanpa adanya evaluasi mendasar yang dilakukan parpol akan menurunkan gairah publik untuk berpartisipasi, karena tidak ada kandidat yang istimewa, tidak ada debat dan tawaran program yang menarik dan berhubungan langsung dengan kebutuhan dan kepentingan publik/pemilih.
"Perlu diingat, fenomena menurunnya peminat pilkada itu tidak hanya di Jatim, namun di provinsi lain juga ada kecenderungan itu. Kalau tokoh saja sudah tidak dipercaya, maka masyarakat percaya kepada siapa lagi," katanya. (*)
http://antarajatim.com/lihat/berita/101178/scc-pilkada-semakin-tidak-menarik
Sabtu, 15 Desember 2012
Rakyat Bosan Dengan Muka-muka Lama
Selasa, 11 Desember 2012 00:17
Mataharinews.com, Jakarta – Hasil survei Insitut
Survei Indonesia (INSIS) yang dilakukan sejak 16 November sampai dengan
tanggal 4 Desember 2012 di 33 propinsi dan dipublikasikan di Hotel
Atlet Century pada hari Minggu (09/12/2012), menunjukkan bahwa Priyo
Budi Santoso lebih populer dan lebih layak menjadi calon Presiden pada
2014 dibanding Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical/ARB).
Survei yang melibatkan sebanyak 1.070 responden serta menggunakan metode multi-stage random sampling dengan margin of error sebanyak
3 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen, menempatkan nama Priyo Budi
Santoso sebagai politikus muda terpopuler dengan urutan kedua yang
dipilih oleh 77, 10 persen responden setelah Anas Urbaningrum yang
dipilih oleh 82, 05 persen responden.
Sementara itu pada tingkat elektabilitas
(tingkat keterpilihan), Anas Urbaningrum mendapatkan urutan ke lima,
7,10 persen suara, jauh dibawah Priyo Budi Santoso yang sebanyak 10, 37
persen. Begitupun dengan tingkat akseptabilitas (tingkat penerimaan),
Priyo mengantongi suara paling tinggi yakni 53.73 persen sedangkan Anas
Urbaningrum hanya 37, 47 persen.
Berdasarkan hasil survei INSIS tersebut,
peneliti INSIS Mochtar W Oetomo memaparkan bahwa hasil survei ini
menunjukkan bahwa masyarakat sudah mulai bosan dengan dominasi
wajah-wajah lama sebagai capres pada 2014 mendatang.
“Masyarakat sudah mulai jenuh dengan kandidat
Presiden muka-muka lama yang mencalonkan dirinya kembali. Masyarakat
merindukan capres alternatif,”ujar mochtar. (ep)
http://mataharinews.com/nasional/politik/2123-rakyat-bosan-dengan-muka-muka-lama.html
Anas Most Popular Politician, Yet People Reject Him
Jakarta (B2B) - Popularity does not guarantee electability. The fact is revealed by the result of survey by Indonesian Survey Institute putting Anas Urbaningrum as the most popular young politician, yet his electability rate is low. Simply, Anas is popular but people reject him.
The survey reports that in terms of popularity, Anas obtains 82.05% votes, followed by Golkar politician, Priyo Budi Santoso (77.10%), Hidayat Nur Wahid (74,11%), Pramono Anung from PDIP (73.73%), and Puan Maharani also from PDIP (71,49%).
As for electability rate, Anas, a former member of General Election Commission, is on the 8th place, far below Priyo Budi Santoso, Hidayat Nur Wahid, Pramono Anung, Puan Maharani, and Budiman Sudjatmiko, PDIP politician.
“High intensity of appearance in media contributes for their high electability rate,” says researcher of the institute, Mochtar W Oetomo, after speaking up in Atlit Century Hotel, Jakarta, on Sunday (9/12).
The survey was conducted in 33 provinces involving 1,070 respondents. It aimed to know whether young figures from political party are known and favored to be presidential candidates. It was conducted from November 16-December 4, using interview method and questionnaire with 3% margin of error.
http://berita2bahasa.com/mb2b/berita/01/1828912-anas-politisi-paling-ngetop-tapi-rakyat-ogah-memilihnya
Indonesian young politicians hardly compete in 2014
http://www.asean-cn.org/Item/6685.aspx
2012/12/10 xinhua
JAKARTA, Dec. 10 (Xinhua) -- The young politicians in Indonesia are
still unable to gain the public's trust to lead the country in 2014,
local media reported on Monday, quoting a recent survey.
The survey by the Indonesian Survey Institute showed that around 80 percent of the 1,070 respondents are still clueless when offered a list of young politicians, between 35 and 55 years of age, to be a presidential candidate in the 2014 presidential election.
The list includes prominent young politicians like Democratic Party chairman Anas Urbaningrum, Golkar Party lawmaker Priyo Budi Santoso, Indonesian Democratic Party of Struggle politician Puan Maharani and Prosperous Justice Party lawmaker Hidayat Nur Wahid.
"Indonesians are still clueless when they have to choose young politicians who could be the next president," researcher with the institute Mochtar W. Oetomo said.
The researcher, echoing several other political analysts, doubted that young politicians would not be competing in the 2014 presidential election.
"Currently, young politicians still lack political and social capital to run against the 'old' politicians in the 2014 presidential election," he said.
The researcher was referring to veteran politicians like Jusuf Kalla, Megawati Soekarno Putri, Prabowo Subianto and the likes, that have recurrently competed in presidential elections.
"After the 2014 elections, those old figures will be gone. Then, eventually, each party will have to provide fresh young figures," Mochtar said.
The institute conducted its survey between Nov. 16 and Dec. 4 in 33 provinces across the country. It used multistage random sampling to choose its respondents.
Indonesia is to hold direct presidential and legislative polls in 2014.
The survey by the Indonesian Survey Institute showed that around 80 percent of the 1,070 respondents are still clueless when offered a list of young politicians, between 35 and 55 years of age, to be a presidential candidate in the 2014 presidential election.
The list includes prominent young politicians like Democratic Party chairman Anas Urbaningrum, Golkar Party lawmaker Priyo Budi Santoso, Indonesian Democratic Party of Struggle politician Puan Maharani and Prosperous Justice Party lawmaker Hidayat Nur Wahid.
"Indonesians are still clueless when they have to choose young politicians who could be the next president," researcher with the institute Mochtar W. Oetomo said.
The researcher, echoing several other political analysts, doubted that young politicians would not be competing in the 2014 presidential election.
"Currently, young politicians still lack political and social capital to run against the 'old' politicians in the 2014 presidential election," he said.
The researcher was referring to veteran politicians like Jusuf Kalla, Megawati Soekarno Putri, Prabowo Subianto and the likes, that have recurrently competed in presidential elections.
"After the 2014 elections, those old figures will be gone. Then, eventually, each party will have to provide fresh young figures," Mochtar said.
The institute conducted its survey between Nov. 16 and Dec. 4 in 33 provinces across the country. It used multistage random sampling to choose its respondents.
Indonesia is to hold direct presidential and legislative polls in 2014.
Editor:Li Changxin
Indonesian young politicians hardly compete in 2014: polls
JAKARTA, Dec. 10 — The young politicians in Indonesia are still unable to gain the public’s trust to lead the country in 2014, local media reported on Monday, quoting a recent survey.
The survey by the Indonesian Survey Institute showed that around 80 percent of the 1,070 respondents are still clueless when offered a list of young politicians, between 35 and 55 years of age, to be a presidential candidate in the 2014 presidential election.
The list includes prominent young politicians like Democratic Party chairman Anas Urbaningrum, Golkar Party lawmaker Priyo Budi Santoso, Indonesian Democratic Party of Struggle politician Puan Maharani and Prosperous Justice Party lawmaker Hidayat Nur Wahid.
“Indonesians are still clueless when they have to choose young politicians who could be the next president,” researcher with the institute Mochtar W. Oetomo said.
The researcher, echoing several other political analysts, doubted that young politicians would not be competing in the 2014 presidential election.
“Currently, young politicians still lack political and social capital to run against the ‘old’ politicians in the 2014 presidential election,” he said.
The researcher was referring to veteran politicians like Jusuf Kalla, Megawati Soekarno Putri, Prabowo Subianto and the likes, that have recurrently competed in presidential elections.
“After the 2014 elections, those old figures will be gone. Then, eventually, each party will have to provide fresh young figures,” Mochtar said.
The institute conducted its survey between Nov. 16 and Dec. 4 in 33 provinces across the country. It used multistage random sampling to choose its respondents.
Indonesia is to hold direct presidential and legislative polls in 2014.
http://www.nzweek.com/world/indonesian-young-politicians-hardly-compete-in-2014-polls-35997/
Insis Umumkan Hasil Survei Figur Capres 2014
Jakarta (Yahoo) - Institute Survei Nasional (INSIS)
mengumumkan hasil survei terbaru mengenai tokoh nasional dari kalangan
muda yang memiliki elektabilitas tinggi dan berpeluang untuk dicalonkan
pada Pemilihan Presiden 2014.
"Survei ini dilakukan untuk melihat sejauhmana tokoh-tokoh muda
partai politik dikenal dan diminati sebagai calon presiden," kata
Peneliti INSIS Mochtar W Oetomo saat memaparkan hasil survei INSIS di
Jakarta, Minggu. Menurut dia, survei dilakukan pada periode November-Desember 2012. "Tokoh muda yang kami survei adalah mereka yang berumur 32-55 tahun," katanya.
Survei dilakukan di 33 provinsi dengan jumlah responden 1.070 orang dan "margin of error" sekitar 3 persen. Survei dilakukan pada 16 November hingga 4 Desember 2012.
Menurut dia, survei dilakukan dengan tatap muka langsung dan panduan kuisioner. INSIS mensurvei tokoh-tokoh muda dari partai politik.
"Ada sembilan partai politik yang disurvei INSIS," katanya.
Saat berita ini disiarkan, pemaparan hasil survei masih berlangsung.
http://id.berita.yahoo.com/insis-umumkan-hasil-survei-figur-capres-2014-062024609.html
Pramono, Priyo most favored as presidential nominees
Sun, December 9 2012 15:15 | 226 Views
Jakarta (ANTARA News) - Four young figures from political parties, two of whom are Pramono Anung of PDIP and Priyo Budi Santoso of Golkar were most favored to be presidential nominees, the Indonesia Survey Institute (INSIS) said.
The INSIS announced on Sunday the results of its survey that the four yang figures which had high electability to be come presidential hopefuls also included Hidayat Nur Wahid of the Prosperous Justice Party (PKS) faction of the House of Representatives (DPR) and Puan Maharani, who is chairperson of the Indonesian Democratic Party of Struggle (PDIP) faction in the DPR.
Pramono Anung and Priyo Budi Santoso are deputy speakers of the DPR.
The four young figures were voted to have highest electability, acceptability and popularity above that of other young political parties` figures in the survy.
INSIS researcher Mochtar W Oetomo said that in the acceptability aspect, Priyo Budi Santoso was ranked first with the support of 53.73 of the respondents, followed by Puan Maharani (51.02 percent), Pramono Anugng (49.53 percent) Hidayat Nur Wahid (47.75 percent), Tjahjo Kumolo (43,8 percent), Zulkifli Hasan (41.77 percent), Budiman Sujadmiko (38.13 percent) and Anas Urbaningrum (37.47 percent).
"Among young politicians, Priyo outclassed other political party young figures in terms of acceptability and electability," Mochtar said.
On electability, Priyo Budi Santoso also was ranked first on the list with the support of 10,37 percent of the respondents, followed by Pramono Anung (9.25 percent), Hidayat Nur Wahid (8.41 percent), Puan Maharani (8.03 percent), Anas Urbaningrum (7.10 percent) and Luthfi Hasan (5.04 percent).
But on the popularity aspect, Mochtar said, Anas Urbaningrum was chosen as the most popular young figure winning 82.05 percent of the support, followed by Priyo Budi Santoso (77.10 percent), Hidayat Nur Wahid (74.11 percent), Pramono Anung (73.73 percent), Puan Maharani (71.49 percent), Akbar Faisal (69.15 percent).
The INSIS conducted the survey on 1,070 respondents in 33 provinces from November 16 to December 4, 2014.
The survey was conducted face-to-face with respondents based on prepared questionnaires.
"The survey was conducted to see the popularity and acceptability of young political figures as presidential nominees. Young figures we surveyed were those at the ages of between 45 and 55 years old," Mochtar said.
(Uu.A014)
http://www.antara.co.id/en/news/86059/pramono-priyo-most-favored-as-presidential-nominees
Survey: Jokowi affects people's expectation in 2014 presidential election
Sunday, 09 December 2012, 21:54 WIB
Governor of Jakarta Joko Widodo or popularly called Jokowi (file photo)
Related News
A researcher from INSIS, Mochtar W Oetomo, said on Sunday that about 95.51 percent of respondents in the survey conducted from November 16 to December 4 wanted national leader who closed to people. The respondents hope their leader can follow suit Jokowi.
"It is suprising how Jokowi affects the 2014 presidential election," Oetomo said.
About 94.67 percent of respondents also said that they need alternative candidate. "They want some new faces, not the old ones," he said.
Meanwhile, about 88.78 percent expects firm leader in making decision. "This is the anti-thesis from the current leader who seems indistinct," he said.
http://en.republika.co.id/berita/en/national-politics/12/12/09/merqre-survey-jokowi-affects-peoples-expectation-in-2014-presidential-election
Kamis, 13 Desember 2012
Pemilukada Tak Lagi Sexy
Surabaya. Cetroone.Com 14/12/2012 - Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) dari waktu ke
waktu semakin tak menarik perhatian publik. Ini dibuktikan dengan
rendahnya tingkat partisipasi pemilih di berbagai Pemilukada di
nusantara ini.
Contoh kecilnya di kawasan Jatim. Pelaksanaan Pemilukada yang sudah berlangsung ada di Sampang, Bangkalan dan Nganjuk. Tingkat partisipasi di tiga wilayah dalam menyambut Pemilukada sangat kecil. Tiga tempat itu melaksanakan Pemilukada dalam waktu bersamaan, Rabu (12/12/2012).
Dari tiga kabupaten itu, yang paling rendah partisipasi pemilihnya adalah di Kabupaten Bangkalan. Berdasar riset yang dilakukan Surabaya Survey Center (SSC), partisipasi pemilih hanya sebesar 58,50 persen dari total warga.
“Artinya, angka golput di Kabupaten Bangkalan mencapai 41,50 persen. Sementara di Nganjuk partisipasi pemilih mencapai 60 persen dan di Kabupaten Sampang mencapai 75 persen,” ujar Mochtar W Oetomo selaku Direktur SSC, Jumat (14/12/2012).
Dosen Komunikasi Politik di Universitas Trunojoyo Madura ini juga menegaskan, rendahnya partisipasi pemilih merupakan sebuah ironi demokrasi. Pasalnya, tegaknya demokrasi di suatu bangsa ditentukan tingkat partisipasi publik di Pemilu.
“Ini juga menunjukkan kegagalan proses-proses agregrasi, rekruitment, artikulasi, konsolidasi dan mobilisasi politik yang menjadi tanggung jawab partai politik. Rendahnya partisipasi pemilih menunjukkan bahwa Pemilukada tidak lagi menjadi momentum yang menarik dan menggairahkan bagi publik,” tambah Mochtar.
Salah satu penyebabnya, kata Mochtar, karena tidak menariknya kandidat yang bertarung di Pemilukada tersebut. Publik jenuh dan bosan dengan kontestan para kandidat yang dari Pemilukada satu ke Pemilukada berikutnya hanya diisi dan didominasi oleh sosok itu-itu saja.
Partai politik gagal dalam menjalankan proses kaderisasi, terbukti tidak mampu menyediakan kandidat yang diusung sebagai magnet yang mampu menarik publik untuk datang ke bilik suara.
“Rata-rata, kandidat yang maju juga memiliki sikap tak siap kalah. Sehingga berbagai cara ditempuh untuk menang. Seperti black campaign sampai money politik. Realitas ini membuat gairah publik berpartisipasi semakin menurun, karena Pemilukada tidak lagi sexy,” beber alumnus Universiti Sains Malaysia ini.
Oleh: Windhi Ariesman - Editor: Masruroh
Contoh kecilnya di kawasan Jatim. Pelaksanaan Pemilukada yang sudah berlangsung ada di Sampang, Bangkalan dan Nganjuk. Tingkat partisipasi di tiga wilayah dalam menyambut Pemilukada sangat kecil. Tiga tempat itu melaksanakan Pemilukada dalam waktu bersamaan, Rabu (12/12/2012).
Dari tiga kabupaten itu, yang paling rendah partisipasi pemilihnya adalah di Kabupaten Bangkalan. Berdasar riset yang dilakukan Surabaya Survey Center (SSC), partisipasi pemilih hanya sebesar 58,50 persen dari total warga.
“Artinya, angka golput di Kabupaten Bangkalan mencapai 41,50 persen. Sementara di Nganjuk partisipasi pemilih mencapai 60 persen dan di Kabupaten Sampang mencapai 75 persen,” ujar Mochtar W Oetomo selaku Direktur SSC, Jumat (14/12/2012).
Dosen Komunikasi Politik di Universitas Trunojoyo Madura ini juga menegaskan, rendahnya partisipasi pemilih merupakan sebuah ironi demokrasi. Pasalnya, tegaknya demokrasi di suatu bangsa ditentukan tingkat partisipasi publik di Pemilu.
“Ini juga menunjukkan kegagalan proses-proses agregrasi, rekruitment, artikulasi, konsolidasi dan mobilisasi politik yang menjadi tanggung jawab partai politik. Rendahnya partisipasi pemilih menunjukkan bahwa Pemilukada tidak lagi menjadi momentum yang menarik dan menggairahkan bagi publik,” tambah Mochtar.
Salah satu penyebabnya, kata Mochtar, karena tidak menariknya kandidat yang bertarung di Pemilukada tersebut. Publik jenuh dan bosan dengan kontestan para kandidat yang dari Pemilukada satu ke Pemilukada berikutnya hanya diisi dan didominasi oleh sosok itu-itu saja.
Partai politik gagal dalam menjalankan proses kaderisasi, terbukti tidak mampu menyediakan kandidat yang diusung sebagai magnet yang mampu menarik publik untuk datang ke bilik suara.
“Rata-rata, kandidat yang maju juga memiliki sikap tak siap kalah. Sehingga berbagai cara ditempuh untuk menang. Seperti black campaign sampai money politik. Realitas ini membuat gairah publik berpartisipasi semakin menurun, karena Pemilukada tidak lagi sexy,” beber alumnus Universiti Sains Malaysia ini.
Oleh: Windhi Ariesman - Editor: Masruroh
Andi Tembus Bursa Capres Terpopular
BANGKAPOS.COM, JAKARTA -
Meski sudah menyandang status tersangka terkait kasus korupsi Hambalang, nama Sekretaris Dewan Pembina Partai Demokrat, Andi Mallarangeng masih memiliki elektabilitas atau tingkat keterpilihan yang tinggi.
Dalam paparan hasil survei Institut Survei Indonesia(INSIS) nama Andi berada di bawah nama sang Ketua Umum Anas Urbaningrum dengan raihan 4,67 persen "Anas dan Andi keduanya menjadi objek pemberitaan yang tidak ada putusnya, Andi bahkan menjadi objek berita utama, sangat mendongkrak popularitas mereka hal ini bukti bahwa elektabilitas tidak selalu berhubungan dengan yang positif saja, seperti John Kei atau Ariel yang bahkan melebihi AA Gym," kata Peneliti INSIS, Mochtar W Oetomo dalam paparan hasil sirvei di Hotel Atlet Century, Jakarta, Minggu(9/12/2012).
Meski sudah menyandang status tersangka terkait kasus korupsi Hambalang, nama Sekretaris Dewan Pembina Partai Demokrat, Andi Mallarangeng masih memiliki elektabilitas atau tingkat keterpilihan yang tinggi.
Dalam paparan hasil survei Institut Survei Indonesia(INSIS) nama Andi berada di bawah nama sang Ketua Umum Anas Urbaningrum dengan raihan 4,67 persen "Anas dan Andi keduanya menjadi objek pemberitaan yang tidak ada putusnya, Andi bahkan menjadi objek berita utama, sangat mendongkrak popularitas mereka hal ini bukti bahwa elektabilitas tidak selalu berhubungan dengan yang positif saja, seperti John Kei atau Ariel yang bahkan melebihi AA Gym," kata Peneliti INSIS, Mochtar W Oetomo dalam paparan hasil sirvei di Hotel Atlet Century, Jakarta, Minggu(9/12/2012).
Di
bawah nama Andi Mallarangeng dalam hasil survei tersebut terdapat nama
Sekjen Partai Demokrat, Edhie Baskoro Yudhoyono yang mendapatkan angka
2,14 persen, disusul Saan Mustopa 1.86 persen dan Nurhayati Ali Assegaf
dengan 0,18 persen.
Survei
yang dilakukan INSIS lanjut Mochtar diselenggarakan di 33 provinsi
dengan jumlah responden 1070 orang dan margin of error kurang lebih 3
persen. Survei dilakukan selama periode 16 November hingga 4 Desember
2012.
"Survei dilakukan dengan tatap muka langsung dengan panduan kuesioner,"ujarnya.
Andi 'Kiamat', Anas Selamat ?
Harian Andalas..Monday, 10 December 2012 11:44
Syahnan Harahap
Ketua Umum Partai Demokrat Anas
Urbaningrum disurvei sebagai politikus muda paling populer. Popularitas
Anas mengalahkan politikus Golkar Priyo Budi Santoso dan mantan Ketua
MPR Hidayat Nur Wahid.
Setidaknya demikian dalam survei yang
dilakukan Institute Survei Indonesia (INSIS). Survei tersebut dilakukan
pada 16 November-4 Desember 2012. Jumlah responden yang dilibatkan
adalah 1.070 orang, yang terdiri dari laki-laki dan perempuan dari 33
provinsi. Survei ini menggunakan metode multi-stage random sampling
dengan margin of error 3 persen.
"Untuk popularitas, Anas memperoleh
82,05 persen disusul oleh Priyo dengan 77,10 persen," ujar peneliti
INSIS, Mochtar W Oetomo, dalam Laporan Survei Nasional, di Hotel Atlet
Century, Senayan, Jakarta, Minggu (9/12).
Tingginya popularitas Anas Urbaningrum
itu memang tidak perlu dibantahkan lagi. Pasalnya, jauh sebelum terpilih
sebagai Ketua Umum DPP Partai Demokrat, dia sudah dikenal sebagai Ketua
Umum PB HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), organisasi mahasiswa terbesar
di Indonesia.
Selanjutnya nama suami Atthiyah Laila
itu, juga populer dan sangat menonjol saat menjadi anggota Komisi
Pemilihan Umum (KPU), dan ketika menjabat sebagai Ketua Fraksi Partai
Demokrat di DPR-RI. Tentu semakin populer lagi saat Nazaruddin menjadi
tersangka korupsi dan buronan KPK.
Ketika Anas terlihat masih aman di
posisinya sebagai orang nomor satu di DPP Demokrat, dan masih kerap
disebut-sebut sebagai salah satu kandidat calon presiden pada Pilpres
2014 mendatang, nama pesaingnya di internal Demokrat, Andi Mallarangeng
justru telah meredup.
Statusnya sebagai tersangka dalam proyek
Hambang menyebabkan karier politik mantan Juru Bicara Presiden SBY,
bisa disebut telah 'kiamat' alias sudah sukar untuk direhabilitasi.
Nah, ketika masa depan politik Andi
sudah 'kiamat', pertanyaan berikutnya yang kerap dikedepankan, akankah
Anas selamat ? Atau sebaliknya, dia akan segera menyusul, sekaligus
membuat Partai Demokrat akan semakin terpuruk.
Tentunya selamat atau tidaknya Anas
Urbaningrum dalam kasus megaproyek Hambalang ini, tidak mungkin
mengharapkan belas kasihan KPK. Soalnya, KPK sekarang kelihatannya
sangat garang dan tidak kenal kompromi.
Anas bisa jadi akan selamat, karena
dirinya memang benar-benar tidak terlibat. Dan, hanya dijadikan sebagai
sasaran tembak dan sengaja ingin dihabisi karier politiknya.
Tapi, bagaimana sesungguhnya ending
story kasus Hambalang ini, mari kita tunggu bersama. Yang pasti, untuk
sementara, Andi 'kiamat', Anas masih selamat !
Akseptabilitas Anas paling Buncit
Surabaya Post
Senin, 10/12/2012 | 11:49 WIB JAKARTA - Hasil jajak pendapat Institute Survei Indonesia (INSIS) menunjukkan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, sebagai politikus muda paling populer. Namun, popularitas itu tidak diikuti oleh tingkat akseptabilitasnya.
Survei itu dilakukan sejak 16 November hingga 4 Desember 2012. Sebanyak 1.070 responden dari 33 propinsi dilibatkan dalam jajak pendapat ini. Survei ini menggunakan metode multi-stage random sampling dengan margin of error 3 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.
Popularitas Anas mengalahkan sejumlah politisi muda lainnya, baik dari Partai Demokrat maupun partai lainnya. Anas menjadi politisi muda terpopuler dengan dipilih oleh 82,05 persen responden. Kemudian disusul politisi Partai Golkar Priyo Budi Santoso dengan 77,10 persen; Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid 74,11 persen; politisi PDI Perjuangan Pramono Anung 73,73 persen; dan Puan Maharani dengan 71,49 persen. "Popularitas Anas tinggi karena dia mendominasi pemberitaan. Tapi pemberitaanya kebanyakan negatif, sehingga dia tidak disukai," kata peneliti INSIS, Mochtar W Oetomo, dalam pemaparan hasil survei di Jakarta, Minggu (9/12).
Namun, popularitas Anas itu tak sejalan dengan tingkat penerimaan (akseptabilitas) di masyarakat. Dari nama-nama yang populer tersebut, akseptabilitas Anas paling buruk. Di antara tokoh itu, Priyo menjadi politisi yang akseptabilitasnya paling tinggi dengan dipilih 53,73 persen responden, disusul Puan Maharani 51,02 persen, Pramono Anung 49,53 persen. Sedangkan Anas hanya dipilih 37,47 persen responden.
Demikian juga dengan elektabilitas atau tingkat keterpilihan. Priyo Budi Santoso masih di posisi teratas dengan dipilih 10,37 persen responden. Disusul Pramono Anung dengan 9,25 persen, dan Hidayat Nur Wahid 8,41 persen. Anas hanya menempati urutan ke lima dengan 7,10 persen suara.
Dari hasil tersebut, ada empat nama politisi yang dianggap potensial menjadi calon presiden pada pemilu 2014 dan bahkan pada 2019 mendatang. Mereka adalah Priyo Budi Santoso, Puan Maharani, Pramono Anung, dan Hidayat Nur Wahid. "Keempat politisi muda tersebut memiliki modal sosial dan politik yang signifikan untuk bertarung di Pilpres 2014 dan 2019," ujarnya. viv
Senin, 10/12/2012 | 11:49 WIB JAKARTA - Hasil jajak pendapat Institute Survei Indonesia (INSIS) menunjukkan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, sebagai politikus muda paling populer. Namun, popularitas itu tidak diikuti oleh tingkat akseptabilitasnya.
Survei itu dilakukan sejak 16 November hingga 4 Desember 2012. Sebanyak 1.070 responden dari 33 propinsi dilibatkan dalam jajak pendapat ini. Survei ini menggunakan metode multi-stage random sampling dengan margin of error 3 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.
Popularitas Anas mengalahkan sejumlah politisi muda lainnya, baik dari Partai Demokrat maupun partai lainnya. Anas menjadi politisi muda terpopuler dengan dipilih oleh 82,05 persen responden. Kemudian disusul politisi Partai Golkar Priyo Budi Santoso dengan 77,10 persen; Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid 74,11 persen; politisi PDI Perjuangan Pramono Anung 73,73 persen; dan Puan Maharani dengan 71,49 persen. "Popularitas Anas tinggi karena dia mendominasi pemberitaan. Tapi pemberitaanya kebanyakan negatif, sehingga dia tidak disukai," kata peneliti INSIS, Mochtar W Oetomo, dalam pemaparan hasil survei di Jakarta, Minggu (9/12).
Namun, popularitas Anas itu tak sejalan dengan tingkat penerimaan (akseptabilitas) di masyarakat. Dari nama-nama yang populer tersebut, akseptabilitas Anas paling buruk. Di antara tokoh itu, Priyo menjadi politisi yang akseptabilitasnya paling tinggi dengan dipilih 53,73 persen responden, disusul Puan Maharani 51,02 persen, Pramono Anung 49,53 persen. Sedangkan Anas hanya dipilih 37,47 persen responden.
Demikian juga dengan elektabilitas atau tingkat keterpilihan. Priyo Budi Santoso masih di posisi teratas dengan dipilih 10,37 persen responden. Disusul Pramono Anung dengan 9,25 persen, dan Hidayat Nur Wahid 8,41 persen. Anas hanya menempati urutan ke lima dengan 7,10 persen suara.
Dari hasil tersebut, ada empat nama politisi yang dianggap potensial menjadi calon presiden pada pemilu 2014 dan bahkan pada 2019 mendatang. Mereka adalah Priyo Budi Santoso, Puan Maharani, Pramono Anung, dan Hidayat Nur Wahid. "Keempat politisi muda tersebut memiliki modal sosial dan politik yang signifikan untuk bertarung di Pilpres 2014 dan 2019," ujarnya. viv
Langganan:
Postingan (Atom)
