Tampilkan postingan dengan label KEHIDUPAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KEHIDUPAN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Desember 2012

Perempuan Dalam Kubangan Pseudo-Metaphor

KPK, 15 Desember 2012
 http://www.kpk.go.id/modules/news/article.php?storyid=2070

Di tengah buah emansipasi yang diperjuangkan RA Kartini, syahdan masih banyak perempuan di negeri ini yang terjebak ke dalam kubangan pseudo-metaphor. Mereka berada pada gambaran semu yang dipergunakan untuk menghibur adanya kondisi inferior dan krisis percaya diri. Tidak semua memang, tapi tak dimungkiri bahwa itu ada. Alhasil, kita bisa menjumpai istri pejabat yang lebih suka bergonta-ganti mobil mewah dan mengikuti arisan bernilai ratusan juta rupiah, meski dia tahu bahwa gaji sang suami sebenarnya tidak menopang untuk gaya hidup super mewah seperti itu.

Pengusaha perempuan juga lebih senang main suap sana suap sini, untuk memuluskan berbagai usaha yang ditanganinya. Semua dengan satu tujuan, untuk menutupi kekurangmampuan mereka jika menjadi diri sendiri.

Pseudo-metaphor memang menyerupa topeng. Semua serba seolah-olah. Seolah-olah berdaya padahal sama sekali tanpa tenaga, seolah-olah berpunya padahal tidak ada apa-apanya.  adalah Srikandi, tokoh emansipasi dunia pewayangan, yang menurut pakar komunikasi dari Surabaya, Mochtar W. Oetomo, menjadi simbol pseudo-metaphor.

Dalam kisah pewayangan, orang banyak mengenal Srikandi sebagai pahlawan perempuan. Dialah satu-satunya perempuan yang berperang, yang akhirnya mampu menewaskan Resi Bisma yang teramat sakti. Srikandi akhirnya dipuja, bahkan dijadikan lambang keperkasaan dan keberartian perempuan. 

Tapi, benarkah Srikandi yang menaklukkan Bisma? Ternyata tidak. Pembunuh Bisma yang sebenarnya adalah Amba, gadis yang ditolak cintanya oleh Bisma sewaktu muda. Setelah patah hati, amba kemudian tewas dan menyimpan dendam untuk ganti membunuh Bisma. namun, waktu pembalasanitu tidak datang begitu saja.

Barulah pada saat Baratayudha berkecamuk, Amba berkesempatan melakukannya. Saat yang ditunggung-tunggu itu adalah, tatkala Srikandi tengah bersiap-siap menarik anak panahnya. Saat itulah amba menyusup ke raga Srikandi dan segera melesakkan panah tersebut. Mengetahui bahwa yang merasuki Srikandi adalah Amba, Bisma membiarkan dadanya dihujani anakpanah sebagai upaya penebusan kesalahannya pada amba. Bisma tewas, Srikandi pun dipuja.

Srikandi dijadikan pahlawan, meski sejatinya dia  alat pembalas dendam Amba. Sungguh, sanjungan yang diberikan kepada Srikandi persis seperti istri pejabat yang terjebak dalam kehidupan jetset tersebut.

Lantas, bisakah kaum perempuan melepaskan diri dari pseudo-metaphor? Bisakah mereka tidak menjadi Srikandi namun Kartini? Bisakah mereka memainkan peran emansipasinya dengan sederhana namun bermakna? Mengapa tidak! Salah satunya adalah, dengan meninggalkan kepura-puraan dan sikap yang serba seolah-olah itu tadi. Jika memang kemampuan ekonomi mereka terbatas, maka sebaiknya tidak meminta lebih dari sang suami agar anggaran rumah tangga tidak lebih besar pasak ketimbang tiang.

Sedangkan bagi para pengusaha perempuan, sebaiknya meningkatkan kompetensi dan integritas, agar usahanya juga berjalan dengan halal dan sesuai aturan hukum. Jadilah diri sendiri, wahai perempuan. Tinggalkanlah kubangan pseudo-metaphor!

Rabu, 03 Februari 2010

Agama yang Komunikatif

Sinar Harapan
3/10/2002


Oleh Mochtar W. Oetomo

Akhir-akhir ini perbincangan tentang relevansi dan urgensitas pendidikan
agama di Indonesia kembali marak di berbagai media. Kritik berbagai pengamat
terhadap pola pendidikan agama di Indonesia yang cenderung formalistik cukup
menarik untuk ditanggapi. Dengan membandingkan konteks di Barat yang tanpa
pendidikan agama pun masyarakatnya bisa jujur, adil dan demokratis, banyak
penulis sampai pada kesimpulan revolusioner, bila perlu pendidikan agama
dihapuskan. Meski memberikan argumen yang cukup logis, namun jika kita
teliti lebih lanjut kecenderungan semacam ini sebenarnya agak tergesa-gesa.
Memang benar adanya, pendidikan agama kita selama ini tidak pernah
melahirkan manusia yang agamis. Bukan hanya menerima pengetahuan tentang,
shalat, puasa atau zakat, bahkan tiap hari kita telah melakukan semua
pengetahuan itu. Tiap hari kita shalat lima waktu, puasa ramadhan, shalat
jumat dan mendengarkan khotbah serta melakukan ibadah lain, tapi penindasan,
korupsi, dan kejahatan masih merajalela. Dan benar adanya, di Barat selain
tanpa pendidikan agama, bahkan mungkin juga tanpa laku ritual yang rutin
ternyata menghasilkan masyarakat yang lebih peka sosial.
Persoalannya adalah, di Barat agama sebagai bahasa irfani (serba hakikat)
telah berhasil diangkat ke realitas sosial menjadi bahasa bayani (serba
teks/realitas) sehingga lebur menjadi etika sosial. Ini karena
instrumen-instrumen dalam wilayah burhani (agen), baik pendidikan, kultur,
publik figur maupun struktur telah cukup kokoh dalam mempertemukan bahasa
irfani dan bahasa bayani tersebut. Maka ketika agama telah menjadi etika
sosial, agama telah lebur dengan masyarakatnya sendiri. Bukan sesuatu yang
terpisah dan berjarak, melainkan menjadi bagian hidup sehari-hari yang tak
terpisahkan. Dalam konteks yang demikian aktivitas formalistik agama tidak
lagi menjadi penting. Karena aktivitas agama adalah aktivitas sosial itu
sendiri, komunikatif dan membumi.

Jeda di Indonesia
Sementara di Indonesia realitas agama adalah sebuah menara gading. Terpisah
dengan realitas sosial, bahkan realitas individu. Agen-agen yang ada di
wilayah burhani belum juga bisa mempersatukan bahasa bayani khalayak dengan
bahasa irfani agama, bahkan dalam banyak kasus menggunakan bahasa irfani
agama sebagai tempat berlindung berbagai kepentingan dan keculasan. Sehingga
agama tinggallah menjadi relaitas cemerlang yang hanya harus dijaga, dipuja,
dijadikan jimat meski harus meneteskan darah penghabisan. Agama tidak lebur
dalam kehidupan sehari-hari, komunikatif dan berkembang menyertai pergulatan
hidup, sebaliknya jerih payah pergulatan hidup digunakan untuk menjaga dan
menyertai agama. Agama menjadi tidak seperti yang diarahkan oleh Allah dan
Nabi untuk memuliakan kehidupan manusianya, sebaliknya manusia dengan segala
daya memuliakan agama, meski harus membunuh manusia lainnya.
Realitas yang demikian membawa pada implikasi pada pendidikan agama yang
tidak komunikatif. Sebagai teks dan bahasa yang terpisah, ajaran-ajaran dan
pengetahuan agama dipelajari hanya untuk diyakini dan dikagumi, bukan
diperdebatkan dan ditarik ke realitas sosial. Maka pola pendidikan agama
tinggalah menjadi pola doktriner dan dogmatis, bukan argumentatif dan
dialektis sebagai ciri pendidikan yang komunikatif. Dari TK sampai Perguruan
Tinggi pelajaran dan mata kuliah agama kita hanya mengajari teknis dan
praktis bagaimana melaksanakan shalat, zakat, puasa, pahala dan dosa, namun
tidak mengaitkannya dengan kenyataan hidup dan kehidupan. Pendidikan agama
kita hanya mengajari bagaimana praktik ritual beragama, tapi tidak mengajari
bagaimana praktik sosio-antropologi beragama. Kenapa mesti ada agama,
bagaimana proses sosio-kultural terbentuknya agama, dan kenapa mesti
beragama, serta apa kaitannya dengan hidup dan kehidupan yang terus
berkembang dinamis. Pendidikan agama kita hanya mengenal hukum, ”pokoke”,
pokoknya dosa, pokoknya begini dan begitu, sehingga tidak ada tradisi
argumentasi dan dialektika dalam pengetahuan dan kehidupan beragama kita.
Pendidikan agama kita menjadi doktriner, dogmatis, statis dan tidak
komunikatif karena belum-belum kita sudah diancam dengan terbatasnya akal
manusia, sirik, dosa hingga melemahkan tradisi tafsir dan ihtihaj.
Maka, persoalannya bukan terletak pada eksistensi pendidikan agamanya
sehingga perlu dihapuskan. Seperti dijelaskan di muka, di Indonesia agama
belum menjadi etika sosial. Sehingga masyarakat masih perlu dan selalu perlu
rujukan-rujukan agama. Sehingga yang diperlukan adalah dekonstruksi terhadap
pola pendidikannya (kurikulum, pola ajar) agar lebih komunikatif. Yakni
bagaimana menempatkan siswa bukan sebagai khalayak pasif yang mesti menerima
cercaan doktrin dan dogma, melainkan menempatkannya sebagai khalayak aktif
dengan menumbuhkan tradisi argumentasi dan kritik, sehingga siswa memiliki
keterlibatan dengan pengetahuan yang dipelajari dan bisa mengaitkan de-ngan
realitas kehidupan yang ia jalani sehari-hari. Dengan begitu agama menjadi
mungkin lebur menjadi realitas atau etika sosial, yang memiliki automaticly
dalam perilaku kehidupan siswa setiap harinya. Bukan menjadi realitas yang
terpisah, dan hanya muncul ketika dibutuhkan.

Dengan Aksi Komunikasi
Pola pendidikan agama yang emansipatoris ala Freire seperti yang banyak
disarankan pengamat, yakni dengan membawa siswa melihat langsung realitas
sosial, adalah tawaran yang cukup cerdas. Namun sebuah pola emansipatoris
yang tidak didasari kerangka epistemologi yang argumentatif dan dialektis
membawa beberapa konsekuensi paradok. Pertama, adalah keberpihakan yang
ekstrem. Sehingga hasilnya adalah pergi dari satu titik ekstrem ke titik
ekstrem lain yang selalu tidak dialogis dan komunikatif. Kenyataan semacam
ini bisa mengarah pada anarkisme, baik kognisi maupun fisik. Dengan
menganggap liyan (the others) sebagai yang salah. Dan akhir-akhir ini banyak
sudah contoh yang kita lihat.
Kedua, kalaupun siswa diajak untuk melihat langsung realitas, maka apa yang
akan dia dapatkan tidak berbeda dengan kondisi kehidupannya sehari-hari.
Sama-sama tertindas, melarat dan tersisih.

Jika penglihatan ini tidak didasari oleh kerangka epistemologis yang
komunikatif, maka ada beberapa konsekuensi. Timbulnya kohesifitas anarkis.
Atau justru semakin menguatkan naluri survival of the fittest, dengan
pengejaran materi menjadi tujuan yang utama meskipun itu harus ditempuh
dengan jalan tribalisme.
Untuk itulah seperti ujar Habermas, revolusi terhadap pendidikan agama perlu
sebuah desain aksi komunikasi. Yakni, menghargai pertumbuhan subjektivitas
melalui tradisi argumentasi dan kritik. Aksi komunikatif ini paling tidak
bisa ditempuh dengan aksi yang memenuhi tiga bentuk klaim pendidikan
komunikatif.
Pertama, aksi harus memenuhi klaim kebenaran, yakni menghadirkan pendidikan
agama sebagai realitas objektif yang menyediakan kemungkinan eksplorasi,
eksplanasi dan analisis untuk menghindari dogmatisme dan statisme agama.
Kedua, pemenuhan terhadap klaim ketepatan, yakni menghadirkan pendidikan
agama yang dialektis dengan latas sosio-psikografik kultural siswa, bukan
justru mengebiri dan mengkafirkan seperti yang terjadi selama ini.
Dan akhirnya pemenuhan terhadap klaim keotentikan, dengan menghadirkan
pendidikan agama yang peka terhadap ekspresi batin siswa beserta pergulatan
kehidupannya sehari-hari. Sebuah pendidikan yang bukan hanya mengajarkan
bagimana memenuhi kewajiban, tapi juga memenuhi hak-hak sosio-kemanusiawian
siswa.

Penulis adalah Staf Pengajar Fikom Unitomo Surabaya.


Copyright © Sinar Harapan 2002

Catatan Akhir Tahun : ADA APA DENGAN GUS DUR

Mochtar W Oetomo

Seperti Gus Dur, sesungguhnya kita semua ini juga tengah berjalan untuk menjemput sebuah kepastian. Yah, menjemput kepastian. Karena sesuatu yang pasti dari hidup, sesungguhnya hanyalah kematian. Yang lain? Terbulen, random, tentatif, unpredictable, tak pasti. Tak tentu. Bahkan sebelumnyapun kematian Mabh Surip juga telah mengajarkan, bahwa karier, kesuksesan, kekayaan, popularitas, kesenangan, keluarga, anak, istri, pacar hanyalah kesementaraan, hanyalah ketidakpastian. Yah, karena kepastian hidup adalah kematian. Dan seperti halnya dengan Gus Dur, kita tengah menuju kesana.

Seperti Gus Dur, memang ada sebagian orang yang karena kasih sayang “Sang Pemilik Kepastian” tahu (atau paling tidak diberi tanda), kapan kepastian itu akan datang. Tapi sebagian besar dari kita tentu saja tidak tahu. Hidup dengan demikian sesungguhnya adalah gerak, bagi upaya kita untuk menjawab misteri dari jeda ketidaktahuan itu. Dan kadang-kadang warna dari “gerak” tadi baru kita pahami setelah kepastian itu datang.

Seperti halnya ketidakpahaman kebanyakan dari kita terhadap segala “gerak” Gus Dur selama ini. Jawaban itu datang saat sang pemilik teka-teki, sang pemilik kontroversi itu dijemput oleh kepastiannya. Sinisme apa lagi yang hendak kita timpukkan? Kritik apalagi yang hendak kita lemparkan? Kecurigaan apalagi yang hendak kita sambitkan? Ketidakpercayaan apalagi yang hendak kita hantamkan? Dan lebih dari semua itu, jawaban apalagi yang kita inginkan dari seorang Gus Dur?

Jutaan orang tersentak, terpana, tak percaya, haru biru, ledak tangis, cucuran air mata. Gelegar tahlil, tahmid, takbir, sholawat. Gemericik deras puja-puji, bendera setengah tiang, segala kalaidoskop kenangan dibuka lembar demi lembar. Segala gelar disematkan, Guru Bangsa, Bapak Pluralis, Bapak Kaum Minoritas, Pahlawan Nasional dan lain-lain dan lain-lain.

Gumaman hingga teriakan do’a, dari seluruh lapisan. Dari wong cilik yang secilik-ciliknya hingga orang besar yang sebesar-besarnya. Semua agama, semua suku bangsa, semua negara. Dari para pemuja hingga para musuh. Dari orang yang selalu melayaninya dengan takzim hingga dari orang-orang yang selalu berusaha mencari kelemahannya dan selalu berusaha menyingkirkannya. Di hari kepastiannya, orang yang selalu mengupayakan kejatuhan Gus Dur pun coba tampil paling depan sebagai orang yang paling dekat dan paling memahami Gus Dur. Lantas jawaban apalagi yang kita inginkan dari seorang Gus Dur?

Tentu saja ada. Barangkali jawaban terpenting yang harus kita dapatkan adalah kala saatnya kepastian itu kelak menjemput kita. Siapa kiranya yang akan tersentak? Adakah orang yang merasa kehilangan, menangis, mengenang pikiran dan perbuatan kita? Adakah orang yang mengirimkan doa? Jangan-jangan tak ada satu orangpun yang akan merasa kehilangan, atau bahkan merasa bersyukur dengan kematian kita. Jangan-jangan tak satupun yang mengirimkan doa, atau bahkan mengirimkan hujatan. Jangan-jangan hanya keluarga kita. Itupun setahun sekali, seperti kebanyakan dari kita. Atau bahkan tidak sama sekali, meski dari istri/suami, handai taulan, anak cucu keturunan kita.

Duh, betapa sepi dan menderitanya alam kepastian kita. Kita sendiri tak punya teman untuk diajak (ilmu yang bermanfaat, amal ibadah). Sedang dari yang hiduppun tak ada yang mengirimkan seorang utusan untuk menemani derita kepastian kita (doa anak sholeh, kerabat, handai taulan, sahabat). Sesungguhnya sebagian besar dari kita, berjalan menjemput kepastian, tanpa bekal apapun (bahkan berhutang). Yah, sebagian besar dari kita menjemput kepastian dengan tanpa kepastian sama sekali.

Ada apa dengan Gus Dur? Ada apa pula dengan kita sendiri? “Gerak” kita menjemput kepastian adalah Thowaf. Thowaf hati, pikiran, ucapan dan perbuatan. Thowaf orbitasi, seperti bumi yang berputar di garis porosnya. Thowaf semesta, seperti bumi yang menjelajah galaksi mengelilingi matahari. Thowaf kitalah yang akan menentukan, apakah kita akan bisa sampai padang arafah atau tidak. Menjadi ma’ruf atau tidak. Seperti kematian Gus Dur yang dengan sendirinya telah memberikan jawabnya. Seperti yang sudah banyak juga disampaikan oleh berbagai fatwa, ‘kebaikan dan kebenaran’ acapkali terjawab, saat “kepastian”datang menjemput.

Bagaimana mungkin kita berharap doa orang lain, jika kita tak pernah mendoakan orang lain. Bagaimana kita berharap bisa mengetuk hati orang lain, jika kita tak pernah bisa menjaga hati kita terhadap orang lain. Dipenghujung tahun ini, rasanya tak berlebihan jika kita merenung sekejap. Merenungkan thowaf kita selama ini. Apa, bagaimana, dan untuk siapa sesungguhnya “gerak’ hati, pikiran ucapan dan perbuatan kita selama ini? Jika kita berhasil menemukan jawabnya. Maka, seperti Gus Dur, kita akan menjemput kepastian dengan “pasti”. Semoga.


Maka, maafkan atas segala kekhilafan, kesalahan, kesewenangwenangan, ketidakmengertian, kebodohan, keculasan, kebohongan saya yang telah, yang tengah dan yang mungkin akan saya perbuat pada Anda semua. Terutama sekali sepanjang tahun 2009 ini.

Selamat tahun baru 2010. semoga kita bisa memperbaiki “kepastian’ kita dalam menjemput kepastian. Amin.

BARCELONA: Life is Passing

Mochtar W Oetomo

Memasuki pekan kedua tahun 2010, Barcelona masih saja kukuh dipuncak klasemen La Liga Spanyol. Dengan melumat Tenrife 5-0 (11/1/2010), dominasi Barca belum tergerus, meski pada saat bersamaan Real Madrid kompetitor utama Barca juga menggulung Mallorca (2-0). Hingga pekan ke-17, Barca menjadi satu-satunya kesebelasan yang belum pernah kalah, mengemas 43 poin, dengan produktivitas gol 42-10, jarak 2 poin dengan tim bertabur triliyun Real Madrid.

Seperti kita tahu bersama, sepanjang tahun 2009 adalah tahun keajaiban Barcelona. Sepanjang sejarah sepak bola profesional, belum pernah kita disuguhi sebuah miracle seperti yang disuguhkan oleh Barca tahun lalu. Sebelum pertandingan final melawan Estudiantes di Piala Dunia Antar Club Abu Dhabi, beberapa waktu lalu, Guardiola (pelatih Barca), berujar pada para pemainnya;

“Jika hari ini kalian kalah, Barcelona akan tetap menjadi nomer 1. Tapi jika kalian menang, maka sejarah akan mencatat, dan kalian akan dikenang sepanjang masa”. Dan menjelmalah keajaiban itu. Enam gelar sepanjang tahun 2009. Juara Liga Spanyol, Piala Raja Spanyol, Piala Super Spanyol, Piala Champion Eropa, Piala Super Eropa, dan piala Dunia Antar Klub. Dan ditutup dengan manis oleh Lionel Messi, dengan gelar pemain terbaik Eropa dan Dunia. Serta 4 pemainnya (Messi, Xavi, Iniesta, Alaves) yang masuk starting XI versi FIFA.

Sebuah prestasi yang belum pernah dicapai oleh kesebelasan manapun, bahkan oleh Real Madrid yang dinobatkan sebagai Tim Terbaik Abad XX dengan 9 gelar piala Champion-nya. Sebuah miracle, yang rasanya juga akan sangat sulit di tandingi oleh tim manapun, bahkan oleh Barcelona sendiri dimasa-masa yang akan datang.

Banyak analis mengatakan, Barca bisa mencapai prestasi fenomenal tersebut karena kesempurnaan yang dimilikinya. Pemain bertalenta yang merata disetiap lini. Karena memiliki anak ajaib bernama Messi. Gelandang perkerja keras dan baik hati seperti Xavi Hernandes dan Andreas Iniesta. Winger selincah dan setajam Eric Abidal dan Daniel Alaves. Kapten seelok Carlos Puyol. Kiper setrengginas Victor Valdes.Bomber sedahsyat Ibrahimovic. Dan petempur cadangan sekelas Pedro Rodrigues, Bojan Kirkcic. Dan kesempurnaan itu makin sempurna dengan Pelatih berfilosofi ofensif seperti Pep Guardiola. Yang dianggap cermat dan cerdik meramu semua potensi, terbuka, egalaiter dan motivator ulung.

Bagi saya, fenomena Barcelona telah membuka esensi permainan paling populer sejagad itu. Bukan hanya sekedar bermain dengan bergembira. Bukan sekedar permainan menyerang yang cantik dan menghibur. Bukan pula sekedar fair play. Barcelona meraih semua keajaiban itu, karena passing. Ya, ternyata passing-lah esensi keajaiban Barca sepanjang 2009.

Barangkali sedikit orang yang memperhatikan. Barca tercatat sebagai kesebelasan dengan tingkat akurasi passing paling tinggi di dunia, kisaran 78%. Sementara tim-tim besar lain hanya pada kisaran akurasi 62%. Maka, tidak heran jika Barca sampai melahirkan 3 pemain yang dijuluki sebagai master of passing. Yakni, sang kapten Carlos Puyol, Xavi Hernandes dan Andreas Iniesta.

Esensi passing adalah berbagi, memberi dan menerima bola dengan akurat. Dan melanjutkannya lagi membagi pada pemain lain dengan visioner dan akurat pula. Sedang esensi membagi dan menerima (take and give) adalah kepercayaan. Dan dahsyatnya, kepercayaan adalah amanah. Seperti amanahnya Messi, Henry, Eto’o (sebelum ke Inter Milan), Ibrahimovic, Bojan, ketika menerima bola dari para master of passing dan melesakkannya menjadi sebuah goal. Sebuah tujuan, kegembiraan dan kemenangan. Akurasi passing-lah yang membuat gerakan para pemain Barca nampak sehati, visioner, enak dilihat, indah dipandang, manis dituturkan. Maka, sesungguhnya kegembiraan dan kemenangan itu bukan hanya menjadi milik Barca, Messi ataupun Guardiola dan Laporta, tapi milik seluruh penikmat bola. Milik kita semua.

Barca tidak hanya mengajari kita bagaimana permainan menyerang yang indah. Tapi sesungguhnya juga mengajari bagaimana hidup dan berkehidupan yang indah, melalui passing, melalui berbagi. Barca, melalui Puyol, Xavi dan Iniesta mengajarkan bahwa hidupa sejati, kebahagiaan sejati adalah manakala kita sanggup berbagi dengan yang lain. Saat kita mampu membahagiakan orang lain. Ghoniyun Mughniyun. Seperti yang tersirat dalam Asma Allah, kekayaan yang sejati adalah manakala kita mampu membuat orang lain menjadi kaya. Manakala kita mampu memerangi kemiskinan. Mampu mengentas orang lain dari penderitaan, kepapaan dan ketertindasan. Persis seperti yang telah diajarkan Gus Dur sang Guru Bangsa.

Barca mengajarkan bagaimana semestinya kita menjadi “manusia”, yang katanya makhluk paling sempurna. Bukan hanya sekedar seperti tetumbuhan, yang hidup, tumbuh dan berkembang untuk dirinya sendiri. Atau seperti hewan yang hidup, tumbuh dan berkembang hanya untuk dirinya, pasangannya, keluarganya dan maksimal golongannya. Tetapi bener-bener menjadi “manusia” yang hidup dan berkembang untuk orang lain, untuk kehidupan dan semesta, rahmatan lil alamin. Maka umat Islampun, juga harus peduli pada isu pemanasan global, atau isu pergerakan sistem moneter internasional yang tak sehat.

Itulah makanya dalam Al Qur’an kata “manusia” diejawantahkan dalam tiga terma. Manusia sebagai Al Bashor (yang tumbuh sebagai diri pribadi), An Nas (yang tumbuh sebagai makhluk sosial), Al Insan (yang tumbuh sebagai makhluk Allah, makhluk semesta). Maka, tidak pernah ada bashor kamil atau nas kamil. Adanya Insan Kamil, manusia sempurna, yang mampu berbagi pada semesta (bukan hanya pada manusia), rahmatan lil alamin.

Lihatlah dahsyatnya dan indahnya arti berbagi dalam kasus “Koin Cinta Untuk Prita”. Keping yang tak berarti bagi kita itu, ternyata menjelma menjadi sebuah kasih sayang yang maha dahsyat. Kekuatan yang luar biasa. Dan nilai yang tak terlukiskan. Bayangkan saja, jika hanya sebulan sekali saja, ada gerakan koin cinta. Berapa orang papa, teraniaya dan tertindas yang akan tertolong. Bayangkan juga jika setiap umat Islam mau sedikit repot mengitung 2,5% penghasilannya untuk direlakan sebagai zakat, tiap bulannya atau tiap tahunnya. Bayangkan pula jika berton-ton daging kurban yang terdistribusi tidak pada tempat tiap tahunnya itu, terakumulasi dan dimanifestasikan dalam bentuk yang lain. Mungkin saja berbagai problem kemiskinan akan terselesaikan dalam waktu cepat, tanpa harus menjadi pungguk yang merindukan bulan, seperti kita yang menunggu janji-janji para pejabat sewaktu mereka kampanye.

Sudah tentu, semua ini akan melahirkan pertanyaan. Siapa yang akan mengelola proses pengumpulan dan distribusi semua hasrat berbagi tersebut.Karena kita memang terbiasa hidup untuk tidak saling percaya karena bobroknya sistem berbangsa dan bernegara kita. Tapi kalau tidak segera kita mulai. Selamanya juga tidak akan pernah lahir master of passing seperti Puyol, Xavi dan Iniesta. Selamanya pula tak akan lahir penyelesai yang amanah seperti Messi, Ibrahimovic dan Pedro.

Bukankah berbagi itu bukan hanya berarti uang atau materi. Tapi juga berbagi pikiran positif, ucapan manis, tindakan konstruktif. Berbagi ilmu, berbagi senyuman. Alangkah indahnya universum kehidupan kita, jika kita mau belajar berbagi, seperti apa yang telah dilakukan oleh Barcelona. Itulah sesungguhnya kemenangan dan prestasi sejati Barcelona. Seperti yang telah diajarkan oleh Gus Dur melalui peristiwa kewafatannya. Seperti ujar Sang Mahatma Gandhi, “Diwaktu hidup, buatlah semua orang tersenyum dan bahagia, meski engkau menangis sendirian. Maka, diwaktu mati semua orang akan menangis kehilangan, dimana saatnya engkau tersenyum sendirian.”

Selamat melintasi tahun 2010. Mari kita saksikan Barcelona, akankan tetap pada “passing” sebagai esensi permainannya. Jika tetumbuhanpun masih sanggup berbagi dengan daun, batang, cabang, ranting, buah dan bahkan getah dan akarnya. Jika hewanpun masih sanggup berbagi dengan bulu, kulit, daging atau bahkan darah dan tulangnya. Maka, sudah sepantasnya kita bertanya, dengan apa kita sanggup berbagi? Selamat berbagi.

Mochtar W Oetomo
Staf Pengajar FISIB Unijoyo Madura